MOJOK.CO – Ini adalah kisah perjuangan saya dan suami merencanakan keuangan demi beli rumah di desa tanpa dihantui KPR puluhan tahun.
Sebelumnya, disclaimer dulu ya. Ini bukan cerita tentang beli rumah miliaran ala pebisnis sukses atau rumah mentereng di brosur perumahan. Rumah yang saya beli bahkan nggak cocok buat konten pamer kesuksesan. Lha wong bentukannya saja lebih mirip gudang mangkrak.
Tidak ada kitchen set cantik ala Pinterest, apalagi kamar tidur homey kayak di majalah interior. Sampai saat ini, saya bahkan masih ngontrak rumah kecil di Surabaya. Tapi paling tidak, saya sudah punya tempat untuk pulang kapan saja saya mau. Mungkin tepatnya nanti setelah saya lulus dari padepokan hidup bernama “perantauan”.
Harga rumah di Surabaya yang makin menggila membuat saya berpikir ulang untuk beli rumah di Kota Pahlawan ini. Bukan karena pesimis, tapi saya hanya ingin realistis dan menyesuaikan dengan uang yang saya punya saat itu.
Buat generasi sandwich seperti saya, menjaga kewarasan jauh lebih penting daripada stres dikejar utang gara-gara memenuhi standar kesuksesan orang lain. Strategi keuangan yang saya jalankan juga harus matang.
Mulai dari mengumpulkan gaji untuk modal usaha, frugal living, sampai resign dari kantor dan fokus mengembangkan usaha. Begitu ada uang nganggur dan ketemu lokasi strategis, saya langsung tancap gas beli rumah yang terjangkau di desa.
Inilah cara (baca: perjuangan) saya dan suami untuk mewujudkan impian beli rumah. Semoga bermanfaat untuk pembaca.
Menjajal peluang side income saat gaji hanya numpang lewat
Gaji sebagai budak korporat nggak pernah betah tinggal di rekening saya. Uang itu lebih milih lari ke leasing motor dan rekening adik-adik saya yang butuh uang buat bayar UKT dan biaya hidup di UGM dan Unesa.
Gaji suami saya sama saja. Lebih suka melipir ke supermarket tempat anak saya beli susu dan popok. Belum lagi buat beli sayur dan beras di pasar. Makanya, beli rumah jadi sebuah impian yang layak kami perjuangkan.
Setiap bulan, suami juga harus setor uang ke leasing motor. Kami memang sama-sama lahir dari kemiskinan. Makanya, motor adalah barang mewah pertama yang kami punya. Dan satu-satunya cara untuk memilikinya adalah dengan kredit alias utang.
Sampai di tahun ketiga jadi pekerja kantoran saya mulai berpikir. Kalau begini terus, kapan saya bisa punya tabungan? Apa iya saya harus hidup pas-pasan terus? Kalau suatu saat ada pengeluaran mendadak gimana? Kalau puluhan tahun kerja nggak bisa beli rumah buat apa?
Merintis toko di Facebook demi impian beli rumah
Rasa takut itu menyadarkan saya untuk menambah sumber penghasilan. Memang capek pastinya. Tapi, selagi masih sehat dan belum masuk usia 30 tahun, harusnya saya bisa memulai membangun side income secepatnya.
Akhirnya, saya memberanikan diri menambah penghasilan dengan jualan jilbab ke teman kantor sambil merintis toko online di Facebook. Usaha beli rumah dimulai dari sini.
Saya memulai jualan dari modal Rp300 ribu. Kalau saya belanjakan, waktu itu cuma dapat satu lusin jilbab. Tapi, agar tetap variatif, saya membagi satu lusin itu menjadi tiga model dan warnanya berbeda-beda.
Setiap ada penjualan, saya benar-benar nggak ngutak-atik uang itu. Saya hanya memakainya untuk kulakan barang dan operasional usaha. Begitu seterusnya sampai uang itu beranak-pinak dari yang awalnya Rp300 ribu menjadi jutaan rupiah.
Jika terpaksa memakainya untuk dana darurat, saya menganggapnya sebagai utang. Konsep ini saya terapkan agar uang itu tidak campur dengan uang pribadi.
Pada fase ini, target saya adalah memulai usaha modal seadanya. Yang penting bisa menjual barang dulu dan memutar modalnya. Eksekusinya tentu penuh tantangan.
Pagi sebelum ngantor, mandiin anak dulu baru fotoin produk satu-satu. Jam istirahat siang atau kalau pas nunggu render gambar klien, saya sempatkan meng-upload produk ke medsos.
Sesekali juga saya harus membalas pertanyaan dari pelanggan yang nanya-nanya. Kalau ada yang order, saya sampaikan kalau pengiriman semuanya sore atau malam. Kalau harus update stok, sore sepulang kantor saya blusukan ke pasar grosir untuk kulakan. Sampai rumah packing orderan dan kirim ke ekspedisi. Capek memang, tapi lebih capek kalau nggak punya uang dan nggak bisa mewujudkan impaian beli rumah.
Baca halaman selanjutnya: Perjuangan memang berat, jadi rencanakan semuanya sampai matang














