Melihat dolar yang merangkak naik—dan tak ada tanda-tanda menurun—bikin saya pusing. Betul saya tak terpapar dolar, tapi masalah utamanya adalah, saya mau mengajukan KPR rumah lagi.
Saya berencana menjual rumah (biadab) saya dan pindah ke rumah yang beberapa minggu lalu saya temukan. Enaknya, calon rumah saya ini bisa bebas memilih desain, dengan harga yang, menurut saya oke. Ketika harga rumah di Wonogiri sudah menyentuh 400 jutaan padahal biasa saja, saya mendapati developer yang jual rumah di angka 300, dengan luas tanah yang amat oke, dengan kualitas bangunan yang sama okenya juga.
Kebetulan juga, saya pengin cabut dari rumah sialan itu. Akhirnya saya bayar booking fee dan sudah mencicil DP. Sembari menunggu rumah saya terjual, saya mulai mempelajari skema KPR rumah yang lain. Saya mempelajari skema pembayaran berjenjang, kekurangan flat 10 tahun yang sedang saya jalani ini, serta mulai masukin beberapa barang di keranjang Shopee.
Saya juga mulai liat-liat referensi kamar mandi dan teras estetik. Pokoknya, saya jadi sibuk scrolling yang bermanfaat, serta mengutuk fakta bahwa bangun teras estetik itu butuh 40 juta. Bajingan memang.
Tapi segala mimpi saya runtuh ketika dolar mulai masuk 17 ribu, dan segala-segala kemungkinan buruk tentang ekonomi Indonesia mulai berseliweran di medsos. Dan kini, saya mulai takut pindah rumah, dan KPR rumah mungkin akan jadi keputusan terbodoh dalam hidup.
BACA JUGA: Siasat Pekerja Punya Rumah Lewat KPR, Gaji UMR Jogja Bisa Punya Hunian?
Bisanya cuma KPR rumah, mau gimana lagi
Saya yakin betul akan ada pembaca yang bilang, ngapain KPR, kenapa nggak ngontrak aja, gengsi kok digedein. Jawaban saya sih sederhana, yo ben, koe meh ngopo?
Saya punya satu pegangan, sekalipun saya tau KPR rumah, apalagi KPR tenor panjang, itu rugi, tapi setidaknya saya punya aset. Dan mungkin hanya inilah satu-satunya cara punya aset. Suatu saat jika titik hidup saya lebih baik, bisa saya lunasi. Kalian anggap itu hanyalah mimpi, ya bisa jadi. Tapi setidaknya, saya punya titik yang berusaha saya kejar dalam hidup.
Masalahnya, ketidakpastian ekonomi di negara ini bikin semua itu jadi amat kabur. Saya sudah tidak betah di rumah ini, dan saya menemukan rumah impian saya. Tapi bisa jadi hal tersebut tak akan terwujud karena hidup hari ini begitu berat. Rumah lama saya juga bisa jadi tak akan pernah laku, karena, siapa yang punya uang di masa sekarang?
Di pikiran saya yang sederhana ini, bank justru butuh orang-orang seperti saya. Orang-orang yang kendel berjudi dengan ekonomi. Utang besar ini harusnya memutar ekonomi. Singkatnya, saya, harusnya, dipermudah dan diberi kepastian yang jelas.
Tapi tidak. Semuanya begitu buram. Mau KPR rumah, rasanya mengerikan karena ketika ekonomi memburuk, biasanya bunga-bunga dinaikkan, dan orang-orang menengah meh kere kayak saya ini yang jadi korban. Padahal justru orang-orang kayak saya ini yang punya keberanian dan jadi penggerak ekonomi.
Orang-orang seperti saya yang butuh dibantu. Bukan orang yang kelewat kaya. Bukan orang yang bahkan kau potong setengah hartanya, masih punya kekayaan yang tak habis 20 tahun ke depan.
Bisnis pun menurun
Akui saja, mayoritas orang menahan uang, atau memang tak punya uang. Efek tersebut jelas: konsumsi menurun, uang tertahan, ekonomi tidak berputar. Pedagang mengeluh dagangan mereka tak laku, karena uang-uang tidak pernah sampai ke para konsumen.
Celakanya, bisnis sampingan saya, yang selama ini menghidupi saya dengan nyaman, ikut menurun. Sekarang bagaimana saya mau dapat pemasukan, jika orang-orang tidak bisa mengisi dapur mereka?
Inilah yang bikin KPR rumah mungkin akan jadi keputusan terburuk yang saya ambil. Pada akhirnya, saya harus menerima untuk hidup di rumah yang sebenarnya tak ingin saya tinggali barang satu hari lebih lama. Rumah ideal untuk anak saya bisa jadi tak pernah terwujud.
Sayangnya, yang di atas sana, tak akan pernah merasakan seperti ini. Selama kursi mereka tak digoyang, selama kepala mereka masih diisi kabar baik dan pujian yang jelas tidak nyata itu, orang-orang menengah mepet kere macam saya, akan jadi korban.
Dan sayangnya, masa depan makin buram. Berharap hidup lebih baik, kini, mulai berangsur-angsur jadi mitos.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Alasan KPR Rumah Bisa Jadi Pilihan yang Realistis dan Tak Seburuk Omongan Influencer Keuangan dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN














