Di pikiran saya yang sederhana ini, bank justru butuh orang-orang seperti saya. Orang-orang yang kendel berjudi dengan ekonomi. Utang besar ini harusnya memutar ekonomi. Singkatnya, saya, harusnya, dipermudah dan diberi kepastian yang jelas.
Tapi tidak. Semuanya begitu buram. Mau KPR rumah, rasanya mengerikan karena ketika ekonomi memburuk, biasanya bunga-bunga dinaikkan, dan orang-orang menengah meh kere kayak saya ini yang jadi korban. Padahal justru orang-orang kayak saya ini yang punya keberanian dan jadi penggerak ekonomi.
Orang-orang seperti saya yang butuh dibantu. Bukan orang yang kelewat kaya. Bukan orang yang bahkan kau potong setengah hartanya, masih punya kekayaan yang tak habis 20 tahun ke depan.
Bisnis pun menurun
Akui saja, mayoritas orang menahan uang, atau memang tak punya uang. Efek tersebut jelas: konsumsi menurun, uang tertahan, ekonomi tidak berputar. Pedagang mengeluh dagangan mereka tak laku, karena uang-uang tidak pernah sampai ke para konsumen.
Celakanya, bisnis sampingan saya, yang selama ini menghidupi saya dengan nyaman, ikut menurun. Sekarang bagaimana saya mau dapat pemasukan, jika orang-orang tidak bisa mengisi dapur mereka?
Inilah yang bikin KPR rumah mungkin akan jadi keputusan terburuk yang saya ambil. Pada akhirnya, saya harus menerima untuk hidup di rumah yang sebenarnya tak ingin saya tinggali barang satu hari lebih lama. Rumah ideal untuk anak saya bisa jadi tak pernah terwujud.
Sayangnya, yang di atas sana, tak akan pernah merasakan seperti ini. Selama kursi mereka tak digoyang, selama kepala mereka masih diisi kabar baik dan pujian yang jelas tidak nyata itu, orang-orang menengah mepet kere macam saya, akan jadi korban.
Dan sayangnya, masa depan makin buram. Berharap hidup lebih baik, kini, mulai berangsur-angsur jadi mitos.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Alasan KPR Rumah Bisa Jadi Pilihan yang Realistis dan Tak Seburuk Omongan Influencer Keuangan dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN














