Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Teror Pocong Keliling Bukan Sekadar Iseng, Jadi Gambaran Masalah Sosial-Digital di Tengah Masyarakat Kita

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Mei 2026
A A
Gambaran rapuhnya masyarakat kita di tengah teror pocong keliling MOJOK.CO

Ilustrasi - Gambaran rapuhnya masyarakat kita di tengah teror pocong keliling. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Teror pocong keliling bukan sekadar orang iseng. Tapi ada lapis-lapis masalah sosial-digital di tengah masyarakat kita. 

***

Iklan

Ketika pagar dan pintu rumah sudah tertutup, tiba-tiba terdengar suara ketukan intens yang sangat mengganggu. Masalahnya yang datang adalah tamu tidak undang, dari balik tirai jendela terlihat sesosok pocong terpaku di depan pagar atau pintu rumah. Wajahnya gelap, tapi matanya seperti lampu sorot: Menatap tajam ke arah rumah.

Di jalanan kampung yang sepi, sosok hantu yang konon paling menyeramkan dalam khazanah setan di Indonesia itu juga masif menampakkan diri. Berdiam dengan gestur khas pocong yang bikin seluruh tubuh bergetar: Kepala mengangguk-angguk secara berulang.

Itu lah gambaran teror pocong keliling yang belakangan terjadi di sejumlah daerah. Terutama di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang. Saat artikel ini ditulis, kabarnya bahkan sudah menyebar hingga ke daerah-daerah lain di luar Jawa Timur.

Semula orang mengira penampakan tersebut benar adanya: Sosok mayat yang bangkit dari dalam kubur untuk kemudian gentayangan. Tak ayal jika banyak orang merasa resah, diselimuti keparnoan kalau-kalau pada suatu malam pintu rumahnya diketuk oleh sosok mayat hidup tersebut.

Belakangan, mulai muncul desas-desus bahwa ternyata ditemukan kasus bahwa teror pocong yang terjadi dilakukan oleh orang dengan beragam motif: Mulanya iseng, lalu menjadi modus baru tindak kriminal, kemudian jadi ajang untuk mengejar engagement media sosial alias sekadar ngonten.

Kendati begitu, ketakutan masih menyebar…

Teror pocong keliling bukan sekadar iseng, tapi ada yang sadar ini jadi alat efektif 

Setelah mengamati teror pocong keliling yang terjadi, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), M. Febriyanto Firman Wijaya menilai bahwa kemunculan sosok pocong tersebut diduga bukan sekadar aksi iseng, melainkan dapat menjadi modus tindak kriminal untuk menebar ketakutan di masyarakat.

Menurutnya, kondisi panik dan turunnya kewaspadaan warga dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan pencurian maupun tindak kejahatan lainnya.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa ada pihak yang sadar betul bahwa ketakutan kolektif bisa menjadi alat yang sangat efektif. Satu video pocong di malam hari bahkan bisa melumpuhkan kewaspadaan masyarakat lebih cepat dibanding ancaman biasa,” ujar Riyan dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2026).

Oleh karena itu, lanjut Riyan, teror pocong keliling tidak bisa dipandang hanya sebagai candaan atau keisengan belaka. Dalam kacamata Riyan, ada proses instrumentalisasi ketakutan yang sengaja diproduksi dan disebarluaskan untuk menciptakan keresahan sosial.

“Ini bukan lagi sekadar iseng. Ketakutan masyarakat sedang dijadikan komoditas. Tanpa sadar, masyarakat menjadi pasar dari rasa takut yang terus diproduksi,” jelasnya.

Kerapuhan sosial di balik teror pocong keliling

Jika ditarik, teror pocong keliling ini bermula dari satu video penampakan pocong yang menyebar di media sosial. Video tersebut disertai dengan narasi menakut-nakuti.

Iklan

Entah memang penampakan pocong (setan) betulan atau rekayasa (AI atau keisengan orang), tapi yang jelas video pertama tersebut telah memancing tidak hanya ketakutan massal, melainkan juga inspirasi bagi oknum tertentu untuk melakukan hal yang sama.

Di titik ini, Riyan melayangkan kritik terhadap peran media sosial yang dinilai kerap menjadi ruang penyebaran kepanikan. Menurutnya, konten yang memancing emosi dan rasa takut jauh lebih cepat viral dibandingkan informasi yang mendorong masyarakat berpikir kritis.

Dari sudut pandang sosiologi, Riyan melihat teror pocong ini sebagai gambaran rapuhnya ketahanan sosial masyarakat terhadap arus informasi digital. Di tengah banjir konten media sosial, masyarakat dinilai mudah terpengaruh oleh narasi mistis tanpa proses verifikasi yang memadai.

“Persoalannya bukan lagi soal pocong itu ada atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu bersikap rasional dan tidak mudah terseret kepanikan massal yang sengaja diproduksi,” tekannya.

Lembaga pendidikan perlu ajarkan berpikir kritis, bukan untuk menghilangkan kepercayaan lokal

Pocong memang sudah menjadi kepercayaan lokal yang diamini oleh sebagian banyak masyarakat kita, terutama di Jawa.

Namun, di tengah situasi sekarang, bagi Riyan diskusinya bukan lagi tentang benar atau tidaknya. Tetapi bagaimana masyarakat perlu diajarkan untuk berpikir kritis.

Di sini, bagi Riyan, lembaga pendidikan khususnya pendidikan berbasis keagamaan memiliki tanggung jawab penting dalam membangun budaya literasi kritis di masyarakat. Pesantren, madrasah, majelis taklim, hingga perguruan tinggi dinilai perlu mulai mengajarkan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, termasuk konten yang dibungkus nuansa mistis maupun keagamaan.

Menurutnya, upaya tersebut bukan untuk menghilangkan tradisi atau budaya lokal, melainkan agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan ketakutan demi kepentingan tertentu.

“Kepercayaan masyarakat jangan sampai dijadikan bahan bakar untuk menciptakan kepanikan sosial. Di sinilah pentingnya pendidikan kritis dan literasi digital,” tegas Riyan.

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA)

BACA JUGA: Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2026 oleh

Tags: asal usul pocongpocong kelilingsejarah pocongteror pocong
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO
Seni

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

AUBMO Selamatkan Hidup Mahasiswa penerima KIP-K di Unair. MOJOK.CO

Di Balik Skandal Korupsi Rp103 Juta, AUBMO Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Penerima Beasiswa yang Merantau

23 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
Perjuangan Lily usai lulus dari manajemen dakwah. MOJOK.CO

Kisah Anak Tukang Tambal Ban yang Setahun Nganggur usai Wisuda, Kini Bisa Kerja di Sekolah Internasional setelah Ratusan Penolakan

17 Juni 2026
Rembang semakin tidak layak dicintai MOJOK.CO

Semakin Tak Punya Alasan untuk Tinggal dan Mencintai Kabupaten Rembang: Tak Beranjak ke Mana-mana, Kolotnya Dipelihara

17 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.