Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 April 2026
A A
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

ilustrasi - pekerja gen z (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saat pertama kali mendaftar CPNS, Wira* sebenarnya ingin ditempatkan di kota, tapi ia harus memenuhi kuota di salah satu desa di luar Jawa. Alih-alih mundur, Wira mencoba berpikir positif. Dan ternyata kerja jadi PNS di desa lebih menyenangkan daripada di kota.

Suara azan dan doa yang masih terdengar di desa

Nyatanya, kerja jadi PNS di desa bikin Wira bisa berhemat. Biaya kos dan makanan yang lebih murah, serta lokasi kantornya yang strategis membuat Wira bisa berjalan kaki tanpa harus naik kendaraan umum. Ia juga tak perlu jengkel untuk menghadapi macet, seperti yang terjadi saat dirinya kerja di kota.

Selain itu, Wira bersyukur bisa tinggal di desa yang mayoritasnya muslim sehingga masih sering mendengar suara azan di masjid, baik Subuh sampai Isya. Bahkan orang tuanya yang pertama kali mengantar Wira ikut kaget, karena mereka mengira orang Islam adalah minoritas di daerah tersebut.

“Di sini, 04.30 WITA sudah ada anak kecil mulai mengaji di beberapa masjid sampai masuk waktu salat subuh. Sambil nunggu azan, mereka biasanya selawat tarhim bareng-bareng. Nah, baru sekitar pukul 06.00 WITA ada suara azan (ngebang) untuk memanggil orang Hindu sembahyang,” jelas Wira, Minggu (19/4/2026).

Bentuk toleransi itu seketika bikin Wira terkesima. Bahkan, tidak hanya kepada umat beragama, warga di desa sana juga amat menghargai orang lain, meskipun berbeda warna kulit, turis atau bukan, perantau, semua disambut dengan baik. 

Tak hanya itu, Wira juga jadi lebih mudah menemukan makanan halal dan enak. Sebagai orang yang berasal dari Jawa, tak sulit baginya menemukan lalapan seperti pecel lele, nasi campur, hingga nasi banyuwangi.

“Beda dengan di kota, sepengalamanku ya orang-orang di sana lebih individualis dan pelayanannya juga kurang,” kata Wira yang akhirnya dipindahkan ke kota setelah bekerja jadi PNS selama 3 tahun.

PNS di desa lebih nyaman daripada di kota

Selama kerja jadi PNS di desa, Wira tak terlepas dari budaya lembur. Saking banyaknya tugas, ia sering pulang pukul 22.00 WITA. Namun, ia bersyukur masih dibebaskan untuk berinovasi tanpa harus terkukung dengan birokrasi yang njelimet. 

Hal itu pun tak jadi soal bagi Wira, asal lingkungan kerjanya nyaman. Wira mengaku teman-teman PNS-nya di desa punya nilai kekeluargaan yang kental. Mereka saling peduli dan kompak dalam menjalankan tugas.

Baca Halaman Selanjutnya

Dibela saat ada yang menjelek-jelekkan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh

Tags: budaya kerjaCpnsDaftar CPNSDesakantor desakekeluargaankerja di kotaPNStugas pelaksana
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Job Hugging: Upaya Pegawai Merusak Perusahaan Toxic. MOJOK.CO
Urban

Bahaya Laten Pegawai Job Hugging: Kelihatannya Nurut dan Setia, padahal Menghancurkan Produktivitas di Tempat Kerja

21 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO
Catatan

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO
Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.