Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Mei 2026
A A
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Ilustrasi jokes bapack-bapack. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jujur, tongkrongan bapak-bapak di desa sering bikin saya yang introvert ini tak nyaman. Obrolan sering ngawur. Isinya juga ghibah, bahkan terkesan seksis dan jorok. Kalau sudah ngomongin politik dan sejarah, isinya konspirasi. Namun, saya mau tak mau harus gabung, nongkrong dengan mereka demi harga diri keluarga. Terutama simbah saya.

Introvert dipaksa gabung tongkrongan bapak-bapak

Hampir sepuluh tahun merantau dan hidup di kota besar telah mengubah banyak hal dalam diri saya, terutama soal bagaimana saya menghabiskan waktu. Sebagai seorang introvert, saya sudah lama menerapkan seleksi ketat dalam pergaulan. 

Iklan

Di kota, jika sebuah ajakan nongkrong tidak benar-benar penting atau bukan dengan teman yang benar-benar dekat, saya hampir pasti akan menolaknya. Bagi saya, menjaga energi sosial adalah kunci agar tetap waras di tengah hiruk-pikuk pekerjaan.

Namun, semua kemewahan untuk menjadi “pemilih” itu mendadak luntur setiap kali saya pulang ke kampung halaman. Di desa, saya tidak bisa menjadi diri saya yang biasanya. 

Saya tidak bisa begitu saja mengunci diri di kamar atau menolak ajakan kumpul warga. Sebab, di atas pundak saya ada beban yang cukup berat: menjaga “harga diri” keluarga, atau lebih tepatnya, menjaga marwah Simbah. Caranya, srawung di tongkrongan bapak-bapak.

Nasib menjadi cucu simbah yang dihormati

Simbah saya adalah salah satu sesepuh yang sangat dihormati di desa. Beliau adalah sosok tetua yang disegani, tempat orang-orang bertanya atau sekadar meminta nasihat. 

Dampaknya, identitas saya sebagai individu seolah melebur. Saya bukan lagi sekadar anak muda yang kebetulan mudik, tetapi “cucunya Mbah”. Bahkan ketika saya berkunjung ke desa sebelah dan bertemu orang asing, saya cukup menyebutkan nama kakek saya, dan mereka akan langsung mengangguk hormat.

Status sebagai cucu tokoh terpandang ini adalah dilema besar. Jika saya tidak mau “srawung” atau nongkrong bersama bapak-bapak di pos ronda, yang akan kena imbasnya bukan cuma saya, tapi nama baik Simbah. 

Bisik-bisik tetangga di desa itu sangat tajam. Sekali saja saya absen dari kegiatan kumpul-kumpul, mereka bisa saja bergunjing. Mau ditaruh di mana muka kakek saya kalau cucunya dicap tidak punya tata krama?

Maka, setiap kali mudik, saya terpaksa nongkrong bareng bapak-bapak. Sebab, teman sebaya saya juga sudah sibuk dengan urusan masing-masing di perantauan, sehingga di desa ya adanya tongkrongan bapak-bapak.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Obrolan di tongkrongan bapak-bapak ngawur kalau sudah bahas politik

Namun, jujur saja, nongkrong bersama bapak-bapak di desa itu seringkali menguji kesabaran. Masalah utamanya adalah obrolannya seringkali tidak nyambung dengan logika saya.

Bapak-bapak di desa paling suka mengobrolkan politik, tapi basisnya cuma sentimen dan hoaks yang mereka dapat dari grup WhatsApp dan TikTok.

Ada satu momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya pernah mendengarkan salah satu bapak bercerita dengan sangat meyakinkan bahwa Presiden Sukarno dulu sering mencari harta karun karun bareng Presiden Amerika Serikat bernama “Robert”. 

Sebagai orang yang pernah kuliah Ilmu Sejarah, batin saya menjerit. Saya memutar otak mencoba mencari tahu siapa Presiden AS bernama Robert, karena sepanjang sejarah Amerika, tidak ada presiden dengan nama depan itu yang sezaman dengan Bung Karno. 

Iklan

Ada perasaan sangat ingin menyela dan meluruskan fakta sejarah yang porak-poranda itu. Namun, energi saya biasanya sudah habis duluan. Saya juga khawatir dianggap sok tahu dan menggurui jika berani meluruskan. 

Pernah sekali waktu saya mencoba sedikit menyela saat mereka membahas politik pemerintah pusat dengan data yang menurut saya keliru, eh, saya malah dicap sebagai orang yang “benci pemerintah”. 

Sejak saat itu, saya belajar untuk lebih banyak mengangguk dan berkata, “Nggih, Pak,” sambil tetap tersenyum meskipun kepala saya pening.

Obrolan seksis dan jorok

Selain obrolan sejarah dan politik yang ngawur, saya juga harus berdamai dengan kenyataan bahwa bapak-bapak ternyata jauh lebih suka bergosip daripada ibu-ibu.

Jika selama ini ada stereotip bahwa hanya perempuan yang suka membicarakan tetangga, itu salah besar. 

Di meja tongkrongan bapak-bapak, gosip mengalir sangat deras. Mulai dari urusan tanah, kecurigaan soal kekayaan tetangga yang tidak masuk akal, hingga obrolan yang kadang-kadang terasa seksis dan jorok. 

Sebagai pendengar, saya sering merasa risih, tapi demi menjaga “wajah Simbah”, saya harus bertahan di sana dengan sisa-sisa kesabaran.

Tongkrongan bapak-bapak paling asyik kalau membahas mistis

Meski begitu, tidak semua bagian dari tongkrongan ini terasa menyiksa. Ada satu momen yang selalu saya tunggu-tunggu dan entah kenapa membuat saya merasa damai, yaitu saat obrolan mulai bergeser ke arah mistis dan klenik ketika malam sudah larut.

Biasanya, menjelang tengah malam, bapak-bapak akan menggelar tikar di perempatan jalan atau di sebuah tempat yang kami sebut sebagai “brak” (pos ronda sederhana). Suasananya berubah syahdu. Ada api unggun kecil untuk mengusir dingin, ditemani kopi hitam yang kental serta singkong atau ubi bakar yang diambil langsung dari kebun.

Di bawah kepulan asap singkong bakar itu, bapak-bapak mulai bercerita tentang pengalaman mereka bertemu lelembut, suara aneh di kuburan desa, hingga mitos-mitos kuno yang turun-temurun. 

Sebagai orang yang skeptis, saya sebenarnya tidak percaya pada cerita-cerita itu. Namun, saya menempatkan obrolan mistis ini sebagai hiburan murni. Mendengarkan mereka bercerita tentang mitos atau hantu penunggu alas terasa jauh lebih menyenangkan daripada mendengarkan konspirasi “Presiden Robert”.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: budaya desabudaya di desabudaya orang desaDesakehidupan di desaNongkrongnongkrong di desapilihan redaksisrawungtongkrongantongkrongan bapak-bapaktongkrongan di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.