Episode Sebat Dulu kali ini kedatangan Perunggu, band rock alternatif yang belakangan makin sering bikin orang merasa: “kok lagu ini tahu isi kepala gue, ya?” Bertempat di Pendopo Ambarukmo, dengan suasana Jogja yang santai tapi punya energi sendiri, obrolan mengalir ke mana-mana—dari musik, umur 30-an, pekerjaan kantoran, sampai urusan weton dan filsafat hidup ala orang Jawa.
Cerita Masa Lalu Perunggu
Perunggu datang bukan cuma membawa cerita soal album atau panggung besar. Mereka cerita soal masa-masa ketika masih hidup sebagai pekerja kantoran: berangkat kerja, pulang kerja, ngatur deadline, lalu di sela-sela waktu yang sempit itu masih berusaha membangun band dengan serius.
Dari situ terungkap bagaimana kebiasaan jadi “budak korporat” justru ikut membentuk cara mereka mengelola Perunggu—serba terencana, rapi, penuh checklist. Mulai dari rilisan, showcase, video klip, live session, branding visual, sampai cara membangun momentum album sedikit demi sedikit.
Obrolan lalu masuk ke cerita lahirnya Memorandum, album yang banyak dikerjakan saat pandemi. Ketika banyak orang merasa dunia lagi sempit-sempitnya, Perunggu justru menemukan ruang kreatif baru dari ritme work from home. Dari rumah, dari jeda, dari kebingungan yang akrab di masa itu, lahirlah lagu-lagu yang kemudian membawa mereka dikenal lebih luas.
Tapi ternyata tantangan sesungguhnya datang setelah itu: album kedua. Karena setelah album pertama diterima banyak orang, muncul tekanan yang tidak sederhana—gimana caranya bikin karya baru tanpa terus dibayang-bayangi kesuksesan sebelumnya? Dari situ obrolan jadi makin seru. Ada cerita soal intuisi, god feeling, sampai konsep ilmu titen ala Jawa. Bahkan, dengan gaya bercanda khas Mojok, Perunggu sempat “dibaca wetonnya” dan divonis: “kalian ini fix orang Jawa.”
Bukan Hanya Soal Musik
Tidak berhenti di musik, episode ini juga masuk ke keputusan besar yang mungkin pernah dipikirkan banyak orang tapi tidak semua berani menjalankannya: ninggalin pekerjaan mapan demi fokus pada sesuatu yang benar-benar dicintai.
Perunggu cerita soal diskusi panjang dengan pasangan, restu orang tua yang tentu saja sempat khawatir, sampai pertanyaan yang lebih besar dari sekadar urusan gaji: apakah menjadi musisi penuh waktu bisa membuat mereka lebih hadir untuk keluarga, lebih bahagia, dan memberi dampak yang lebih besar untuk orang lain?
Pada akhirnya, episode ini bukan cuma ngobrolin band yang lagi naik daun. Ini obrolan tentang kerja, keluarga, keyakinan, budaya, tekanan hidup usia 30-an, dan bagaimana tetap waras sambil menjaga idealisme di tengah industri musik yang makin padat.
Hangat, jenaka, ngalor-ngidul khas obrolan Mojok, tapi diam-diam menyimpan banyak hal yang mungkin terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.









