Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

Oni Tarsani oleh Oni Tarsani
25 Mei 2026
A A
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO

Ilustrasi Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO –  Kadang saya merasa dosen sekarang bukan lagi pekerja akademik, tapi admin yang sesekali mengajar. Bahkan melihat harga kopi di kafe saja seorang doktor berpikir keras.

Saya tahu hidup dosen belum benar-benar mapan ketika seorang teman yang baru diwisuda sebagai doktor bertanya dengan wajah serius, “Di kafe itu air putih gratis nggak?”

Padahal beberapa jam sebelumnya ia baru saja berdiri gagah memakai toga. Foto bersama keluarga masih berseliweran di WhatsApp. Ucapan, “Selamat atas gelar doktornya” datang bertubi-tubi. Bahkan ada yang menulis, “Selamat memasuki fase baru kehidupan akademik.”

Fase baru itu ternyata dimulai dengan melihat harga americano. Teman saya akhirnya memilih duduk di warung kopi biasa. Gelar doktornya memang baru, tapi refleks melihat harga sebelum duduk masih tetap sama. Anehnya, itu bukan cerita langka.

Jadi dosen, tapi masih takut lihat harga kopi di buku menu

Di kampus, gelar doktor kadang memang tidak otomatis membuat hidup terasa longgar. Yang bertambah sering kali bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga daftar kewajiban.

Baru selesai S3, dosen didorong publikasi. Sudah publikasi, diminta naik jabatan. Sudah lektor kepala, mulai ditanya: “Profesor kapan?”

Kadang saya merasa kehidupan akademik Indonesia ini seperti game yang levelnya terus naik, tetapi hadiah akhirnya tetap belum cukup untuk membeli harga kopi tanpa lihat angka di buku menu.

Lucunya lagi, masyarakat sering membayangkan dosen sebagai profesi yang hidupnya tenang. Datang ke kelas, mengajar sambil membawa buku tebal, lalu pulang dengan aura intelektual yang menenangkan.

Padahal kenyataannya banyak dosen lebih sering membuka portal administrasi daripada membuka jurnal. Grup WhatsApp dosen hari ini bahkan lebih menyerupai pusat notifikasi nasional.

“Mohon segera upload.”
“Data belum sinkron.”
“Deadline besok.”
“Mohon revisi.”

Kadang saya curiga kalau dosen meninggal pun admin kampus masih sempat mengingatkan, “Mohon melengkapi berkas sebelum pukul 15.00 WIB.”

Sebagian besar dosen sebenarnya tidak keberatan belajar. Banyak yang memang suka membaca, suka mengajar, dan menikmati riset. Problemnya, dunia akademik kita perlahan membuat dosen lebih sibuk menjadi operator hidupnya sendiri.

Kadang saya merasa dosen sekarang bukan lagi pekerja akademik, tapi admin yang sesekali mengajar. Yang dikejar bukan cuma ilmu, tetapi juga laporan. Bukan cuma penelitian, tetapi juga unggahan. Bukan cuma gagasan, tetapi juga format PDF maksimal 2 MB.

Dosen sekarang lebih takut portal error menjelang deadline daripada mahasiswa yang namanya diblok karena belum bayar UKT. Sebab mahasiswa masih bisa datang ke bagian keuangan. Sementara dosen biasanya cuma bisa pasrah sambil refresh halaman dan menyebut nama Tuhan pelan-pelan.

Iklan

Dosen di Indonesia, di depan mengajar dengan tenang di belakang panik biaya jurnal

Belum lagi urusan jurnal. Di kampus hari ini, membuka email dari jurnal kadang lebih menegangkan daripada sidang skripsi. Sebab kita tidak pernah tahu isinya revisi kecil atau justru revisi yang membuat hidup terasa ikut ditolak.

Tidak semua dosen takut sidang. Banyak yang justru lebih takut kalimat, “Reviewer Comments Attached”

Ada dosen yang menghitung honor ngajar demi membayar publikasi jurnal. Ada yang berangkat seminar sambil mencari hotel termurah dalam radius lima kilometer. Ada juga yang kalau konferensi lebih fokus membandingkan harga tiket kereta daripada isi materi presentasi.

Dosen Indonesia memang makhluk ajaib. Di depan kelas bicara epistemologi dengan tenang. Di belakang layar panik karena biaya APC jurnal ternyata lebih mahal daripada isi tabungan.

Mahasiswa mungkin mengira dosennya hidup nyaman karena masih bisa menjelaskan teori sosial selama dua jam tanpa melihat catatan. Padahal malam sebelumnya dosen itu baru saja menghitung apakah bulan ini masih aman kalau harus ada revisi mendadak. Dan di tengah semua itu, jabatan profesor perlahan berubah bukan cuma menjadi simbol prestasi akademik, tetapi juga harapan ekonomi.

Baca halaman selanjutnya

Menjadi profesor ibarat mengejar promo hidup

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2026 oleh

Tags: doktorDosenesaiKampuskopiPendidikan
Oni Tarsani

Oni Tarsani

Oni Tarsani adalah dosen Ilmu Komunikasi yang sering menulis tentang dunia kampus, keresahan kelas menengah, dan fenomena sosial sehari-hari. Percaya bahwa kadang hidup paling jujur justru terlihat dari obrolan receh di warung kopi.

Artikel Terkait

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO
Esai

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO
Tajuk

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

"Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah" - Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah.MOJOK.CO

‘Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah’ – Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah

13 Juni 2026
Tingkatkan literasi dengan baca buku. MOJOK.CO

Cerita Sebuah Keluarga Membangun Kebiasaan Membaca Saat Orang Lain Berubah Menjadi “Phubbing”

11 Juni 2026
Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026
Uang recehan di dasbor motor Honda Genio ibu jadi berkah dan penyelamat bagi anak-anaknya dan orang-orang di lampu merah MOJOK.CO

Kebiasaan Ibu Taruh Uang Receh di Dasbor Motor: Jadi Berkah dan Penyelamat bagi Anaknya serta Orang-orang di Lampu Merah

9 Juni 2026
Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Cinta dan Benci MOJOK.CO

Suzuki Satria Pro: Motor Aneh yang Meleburkan Batas antara Cinta dan Benci

11 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.