Berbanding terbalik dengan mereka yang berada dalam kondisi tidak terbatas, tetapi bermalas-malasan, penyandang disabilitas tuna daksa membuktikan dirinya mampu meraih gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Padahal, dia pernah gagal dalam seleksi PTN jalur SNBT sebelumnya.
Gagal lolos seleksi PTN jalur SNBT tidak menjadi penghalang
Cerita ini datang dari Tiara Agustin Saraswati (Tiara). Ia merupakan salah satu mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ).
Tiara diterima melalui jalur mandiri pada tahun 2021, setelah gagal menembus perguruan tinggi negeri ( PTN) melalui jalur SBMPTN (kini SNBT).
Ia bercerita, kegagalan yang dialaminya tidak mematahkan semangatnya untuk berkuliah di PTN. Ia mengatakan, kegagalan menjadi penyemangatnya untuk berusaha lebih keras agar dapat diterima di UNJ.
Oleh karena itu, dirinya mengikuti pendaftaran seleksi jalur mandiri di UNJ. Melalui jalur seleksi ini, Tiara membuktikan bahwa ia layak berkuliah di PTN dan menjadi bagian dari UNJ.
“Senang dan bangga bisa kuliah di UNJ, apalagi setelah sempat gagal sebelumnya. Ini menjadi kesempatan yang sangat saya syukuri,” kata dia, dikutip dari laman UNJ, Minggu (19/4/2026).

Kuliah Pendidikan Bahasa Arab, tapi tidak bisa bahasa Arab, tidak membuat minder
Karena berhasil diterima di UNJ, Tiara berusaha untuk memaksimalkan masa perkuliahannya. Ia berusaha untuk beradaptasi secepat mungkin, sekalipun nyatanya Tiara belum bisa berbahasa Arab ketika diterima di Prodi Pendidikan Bahasa Arab.
Ia mengaku, pengalaman dirinya yang nol dalam belajar bahasa Arab membuat masa awal kuliahnya dipenuhi tantangan. Pasalnya, dirinya juga mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren.
Namun demikian, perempuan ini mengaku berusaha dalam menghafal dan memahami materi sebisa mungkin. Meskipun, usaha ini memakan proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran.
“Belajar bahasa Arab itu cukup menantang, terutama dalam hafalan,” kata dia.
“Tapi dari situ, saya belajar banyak dan terus berkembang,” kata dia menambahkan.
Tak hanya itu, tantangan lain dalam perkuliahan yang dihadapi Tiara adalah persoalan percaya diri. Sebagai mahasiswa disabilitas tuna daksa, dia mengaku mengalami tantangan dalam membangun kepercayaan diri.
Kondisinya yang berbeda dari teman-teman lainnya menimbulkan perasaan minder dalam diri Tiara. Akan tetapi, ia berusaha optimistis dan meyakinkan diri, bahwa tidak perlu merasa berbeda apalagi minder.
“Kepercayaan diri memang jadi tantangan, tapi saya selalu berusaha yakin bahwa saya bisa,” tuturnya.
Berhasil jadi sarjana pendidikan di UNJ berkat dukungan ayah
Kepercayaan diri Tiara juga datang dari dukungan keluarga. Utamanya, sang ayah. Ia mengungkapkan, sang ayah selalu hadir dalam setiap fase perkuliahannya.
Bahkan, ayahnya setia mengantar dan menunggunya selama berkuliah.
“Ayah selalu mengantarkan saya ke kampus dan menunggu sampai selesai. Itu sangat berarti bagi saya,” kata dia.
Ayahnya, Kurnain, mengatakan bahwa pendidikan menjadi kunci utama untuk masa depan anaknya. Karena itu, ia tidak merasa menemani perkuliahan putrinya sebagai beban. Justru, ia menyadari bahwa kuliah ini bisa menjadi dorongan bagi masa depan Tiara, meskipun memiliki keterbatasan.
“Saya ingin anak saya mandiri. Melalui pendidikan, masa depannya bisa terbentuk lebih baik,” ujar Kurnain.
Menurut dia, keterbatasan fisik putrinya tidak seharusnya menjadi halangan. Hal tersebut tidak bisa berpengaruh terhadap karier Tiara, sebab setiap orang berhak menentukan masa depannya.
Sebab, Kurnain mengatakan, mereka yang memiliki keterbatasan seperti penyandang disabilitas kerap berjuang lebih keras dibandingkan orang-orang yang tidak memiliki keterbatasan.
Berkaca dari putrinya, Tiara juga aktif dalam berbagai kegiatan. Tidak hanya dalam kegiatan akademik, ia juga mengikuti kegiatan non-akademik di luar perkuliahan.
“Jangan pernah menilai seseorang dari fisiknya saja. Mereka justru seringkali berjuang lebih keras dalam hidup,” kata dia.
Dengan perjuangan keras ini, Kurnain mengatakan, putrinya ingin menjadi pendidik. Ia bercita-cita menjadi guru atau dosen, serta mendirikan sekolah yang inklusif untuk semua orang berkesempatan mengemban pendidikan.
Keinginan ini mengantarkan Tiara menjadi salah satu wisudawan sesi pertama pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 UNJ. Ia membuktikan berhasil lulus kuliah selama 4,5 tahun. Hal ini juga sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan fisiknya bukan penghalang.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














