Konon, menjelang bertambahnya usia, kehidupan terasa semakin mengerikan. Hari-hari menyeramkan ini kian intens ketika menginjak usia seperempat abad, yakni 25 tahun. Sebagian orang akan merasa takut, tetapi alumnus UGM ini memilih untuk memanfaatkan quarter-life crisis sebagai dorongan melanjutkan kuliah S2 di Australia, lalu ikut ekspedisi ilmiah ke Antartika.
Quarter-life crisis pada usia 25 tahun bukan alasan
Berbeda dengan midlife crisis yang merujuk pada krisis yang dialami orang paruh baya, quarter-life crisis mengadu kepada mereka yang masih berusia muda, tetapi akan beranjak dewasa.
Dilansir dari situs jaringan kesehatan mental, Newport Institute, krisis ini menandakan pergolakan dan pencarian diri mereka yang mengalaminya. Hal ini dialami mereka yang berusia muda, sebab saat beranjak dewasa mulai mempertanyakan tujuan hidup dan meragukan jalur karier yang ditempuh.
Mereka yang mengalami quarter-life crisis, masih berusia 25 tahun, merasa ragu terhadap diri sendiri. Perasaan tidak pasti, ragu, gelisah, cemas, sampai dengan depresi menjadi makanan sehari-hari saat menginjak pertengahan usia 20-an hingga awal 30-an.
Survei yang dilakukan LinkedIn menunjukkan bahwa 75 persen mereka yang berusia 25 hingga 33 tahun mengaku pernah mengalami quarter-life crisis. Survei ini menemukan, mereka merasa berada di persimpangan jalan hidup pada usia tersebut.
Alasan utama krisis ini adalah kesulitan menemukan pekerjaan yang benar-benar disukai. Sudahlah tidak tahu, mereka yang masih kebingungan ini kerap diharapkan dengan ralitas teman-teman yang lebih sukses. Akibatnya, mereka (49 persen) merasa belum berhasil dalam pencapaian hidupnya.

Menghadapi situasi ini, Ezra Timothy Nugroho (25) memilih untuk tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berjalan lebih lambat. Ezra memilih untuk menjadikan tekanan ini sebagai dorongan untuk meningkatkan pencapaiannya, terlebih setelah lulus dari Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Lulus UGM, langsung kuliah S2 ke Australia hingga berkesempatan ikut ekspedisi internasional
Tidak ambil waktu lama setelah lulus dari UGM Jogja, Ezra melanjutkan studi magister di Institute for Marine and Antarctic Studies, University of Tasmania, Australia.
Ia bercerita, kuliah S2 membuka pintu baginya untuk melakukan penelitian di Antartika. Padahal, kesempatan untuk melakukan penelitian di wilayah Antartika masih menjadi sesuatu yang langka bagi peneliti Indonesia.

Namun, Ezra berhasil menjadi salah satu dari peserta ekspedisi ilmiah selama 57 hari di Antartika yang berlangsung sejak 2 Januari hingga 27 Februari 2026 lalu. Pencapaian ini berhasil diwujudkannya pada usia 25 tahun.

Keterlibatan Ezra bermula dari ajakan dosen pembimbingnya untuk mengambil sampel penelitian di Cook Region, yang merupakan salah satu wilayah di Antartika Timur. Pengambilan sampel ini dilakukan untuk melanjutkan penelitian tesis yang sekaligus akan menjadi dasar untuk studi doktoral (S3).
Dalam penelitiannya, ia mengkaji DNA yang diperoleh dari sedimen bawah laut. Melalui ekspedisi ini, Ezra memiliki kesempatan meneliti ekosistem dan sedimen laut di kawasan Antartika Timur, serta memahami lingkungan laut dan perubahan iklim di wilayah kutub.
“Tesis research saya itu tentang sedimentary ancient DNA, jadi berfokus pada DNA yang didapatkan dari sedimen bawah laut. Fokusnya ke Southern Ocean sama Antartika,” tuturnya, dilansir dari laman UGM, Jumat (17/4/2026).
Berhasil ke Antartika, tapi tidak tahan dingin karena tidak pernah merasakannya di Indonesia
Namun demikian, tidak mengalami quarter-life crisis seperti orang-orang seusianya, bukan berarti Ezra tidak menghadapi kesulitan. Ia justru harus berjuang untuk bertahan hidup selama melakukan penelitian di Antartika.
Kondisi ekstrem tersebut menjadi tantangan untuk Ezra selama proses penelitian. Pasalnya, hampir dua bulan menetap di Antartika, ia menjalani kehidupan di kapal penelitian dengan ombak tinggi di Laut Selatan, serta suhu dingin yang mencapai minus tiga derajat celcius.
Sebagai orang Indonesia yang lebih akrab dengan panas alih-alih dingin, Ezra mengakui ini sebagai tantangan untuknya. “Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah terkena udara dingin, itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya,” kata dia.
Tak hanya itu, dirinya juga harus beradaptasi hidup di kapal dalam jangka waktu yang cukup lama. Keterbatasan ruang, aktivitas yang terjadwal, serta keharusan menjaga kondisi fisik menimbulkan kesulitan tersendiri selama ekspedisi.
Meskipun begitu, Ezra mengaku dapat menyelesaikan seluruh rangkaiannya hingga akhir. Pemuda berusia 25 tahun ini, mengatakan, dirinya dapat lolos dari tantangan ekspedisi, termasuk cuaca ekstrem yang tidak biasa.
“Selebihnya sih aman-aman saja. Saya di sana dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan ekspedisi dengan baik,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














