Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
7 April 2026
A A
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Ilustrasi - Foto keluarga (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Baik bagi mereka yang berkuliah di PTN maupun PTS, wisuda selalu menjadi momen yang dinantikan. Persiapan wisuda mampu menyaingi persiapan untuk kelulusan itu sendiri, tak terkecuali untuk salah seorang wisudawan dari Program Studi Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja yang ingin memiliki foto keluarga bersama sang ayah.

Baginya, wisuda menjadi momen istimewa yang memungkinkan hal tersebut. Ia berharap, perayaan kelulusannya dari PTS di Jogja ini juga dapat mengukir momen yang belum pernah dimilikinya sedari kecil.

Namun sayang, harapannya tidak dapat terwujud sepenuhnya. Di hari wisuda yang ditunggunya, sang ayah justru harus segera dirawat ke rumah sakit jiwa (RSJ). Foto keluarga yang tidak pernah dimilikinya sedari kecil pun kembali gagal diwujudkan. 

Berjuang mati-matian untuk lulus dari PTS dalam 4 bulan tanpa figur ayah

Desi (24) namanya. Desi lahir dari keluarga sederhana yang selalu mendukungnya, meskipun sang ayah tidak selalu bisa hadir seperti orang tua umumnya dalam setiap fase kehidupan Desi.

Absennya figur ayah dalam hidup Desi termasuk dalam perjuangannya untuk lulus dari salah satu PTS di Jogja. Ia hanya menerima dukungan dari sosok ibu yang selalu menyemangatinya agar segera meraih gelar sarjana farmasi.

Meski terpisah tempat tinggal, sang ibu tidak jarang menyambangi kos Desi dari Kulon Progo ke Kota Jogja. Sesekali, ibu juga menginap untuk memberikan dukungan. 

“Untuk ibu saya dukungannya cukup mendukung, selalu menyemangati saya kok,” kata Desi kepada Mojok, Rabu (18/3/2026).

Sementara itu, Desi tidak bisa selalu menjenguk ayahnya dalam kondisi mengejar kelulusan. Ia turut absen dari kunjungan rutin ke yayasan rehabilitasi yang merawat ayahnya, mengingat ada konsentrasi yang harus dijaga selama merampungkan tugas akhir di Prodi Farmasi.

“Tapi, kalau ayah saya sih karena tidak tiap bulan saya jenguk ayah, kemarin jadi saya cuma bilang ke ayah saya jarang ke situ karena lagi skripsian aja,” kata dia. 

Bukan sekadar alasan, Desi bercerita bahwa dirinya memperjuangkan untuk menyelesaikan skripsi sesegera mungkin. Lulusan PTS di Jogja ini melakukan seminar proposal pada Juli 2025, kemudian mengikuti sidang tidak lama pada empat bulan setelahnya, pada Oktober 2025.

“Untuk skripsi alhamdulillah cepat sih kebetulan aku ikut proyek dosen,” kata dia.

“Terus lupa berapa bulannya, tapi saya seminar proposal 15 Juli 2025 terus sidangnya 29 Oktober 2025,” kata dia menambahkan.

Terbiasa hidup tanpa ayah yang dirawat di RSJ

Ketidakhadiran ayah bukan sesuatu yang baru dalam kehidupan Desi. Perempuan yang berkuliah di Program Studi Farmasi UAD Jogja ini mengaku, ayah telah menerima diagnosis skizofrenia sebelum dirinya lahir.

“Ayahku didiagnosis skizofrenia dari sebelum aku lahir,” kata dia.

Iklan

Sedari kecil, Desi sudah familiar dengan RSJ dan yayasan rehabilitasi. Keakrabannya dengan dua tempat yang akan menjadi mengerikan untuk orang lain ini disebabkan sang ayah yang telah menetap di sana sejak enam tahun yang lalu.

Dirinya dan ibu memutuskan untuk menitipkan ayah di RSJ dan yayasan rehabilitasi sebab perilakunya yang berada di luar kendali, bahkan cenderung membahayakan mereka. Dalam satu waktu, Desi bercerita, sang ayah pernah lupa meminum obat sehingga kondisinya semakin parah.

Situasi rumah menjadi tidak terkendali, bahkan tidak hanya sekali ayah mencoba untuk membunuh ibu.

“Sejak 2020, kami memutuskan menempatkan ayah di yayasan agar beliau bisa mendapat perawatan yang lebih terkontrol dan aman untuk semua. Karena ketika ayah lupa minum obat, kondisinya bisa kambuh dan situasi di rumah menjadi tidak terkendali,” kata dia.

“Bahkan, ayah beberapa kali ingin membunuh ibu,” tambah dia.

Menyaksikan parahnya kondisi ayah saat sedang tidak stabil, Desi juga semakin akrab dengan perundungan. Ia mengatakan, pernah di-bully karena kondisi ayahnya yang berbeda.

“Waktu kecil, aku juga pernah di-bully karena kondisi ayah. Dibilang punya ‘ayah gila’,” kata dia.

Gagal foto keluarga di wisuda karena kondisi sang ayah

Karena kondisi ayah, Desi bilang, dirinya belum pernah memiliki foto keluarga.

Foto itu menjadi salah satu alasan Desi mempersiapkan wisudanya dari Prodi Farmasi dengan baik. Sedari jauh-jauh hari, Desi telah menghubungi yayasan rehabilitasi untuk meminta izin agar ayah dapat menghadiri wisudanya.

Ia juga telah membelikan baju untuk ayah, senada dengan dirinya dan ibu, serta sepatu.

Tak hanya itu, Desi telah memesan make up artist dan dua fotografer untuk memastikan dirinya mendapatkan foto keluarga yang proper bersama sang ayah. Ia juga memikirkan dengan matang bahwa tidak memungkinkan untuk ayahnya hadir pada hari wisuda, yang dilaksanakan pagi hari. Dengan begitu, Desi mempersiapkan fotografer kedua untuk foto keluarga pada sehari setelah wisuda.

“Jadi nggak ada yang jemput ayah kalau pagi-pagi pas hari H wisuda, makanya kami memutuskan untuk foto keluarga H+1 wisuda,” kata dia.

Namun lagi, rencananya tidak berjalan mulus. Ayah harus segera kembali ke RSJ karena meminta diizinkan cuti dari rehabilitasi selama beberapa hari. Kondisi ini, kata dia, berpotensi menimbulkan kegaduhan karena kondisinya bisa jadi akan tidak stabil.

“Tapi, pas di sana malah ayah saya malah bilang ke aku dan ibu saya mau minta cuti gitu beberapa minggu. Nah, saya takut kalau cuti nanti dibawa ke sananya susah,” kata dia.

“Karena dulu, awalnya dibawa ke sana juga susah karena pasti ayah saya nggak mau dibawa ke RSJ atau yayasan. Kan ayah saya udah sering banget bolak-balik RSJ ya, bahkan dari saya kecil itu bawanya harus datangin ambulans dan minimal dua perawat soalnya kalau dibawa ke RSJ pasti berontak,” tambahnya.

***

Kejadian tersebut membuat Desi gagal memiliki foto keluarga yang dicita-citakannya. Padahal, perempuan ini mengaku hanya ingin mendapatkan foto keluarga bersama ibu dan ayahnya lengkap, serta menggunakan setelan keluarga yang juga dipersiapkannya—sebagaimana keluarga lainnya.

Menurutnya, momen wisuda menjadi momen yang dinantikan untuk mewujudkan mimpi foto keluarga ini. Kesempatan Desi ada melalui wisuda ini, kalau saja segala sesuatunya berjalan sesuai rencana.

“Penting banget sih, saya nggak punya foto keluarga dari kecil. Punya baju seragam sekeluarga aja nggak punya saya,” kata dia.

“Jadi, menurutku momen wisuda tuh momen untuk punya foto keluarga,” kata dia menambahkan.

Desi bilang, dirinya kerap merasa iri melihat orang lain memiliki foto keluarga yang harmonis. Mereka juga mengunggahnya di media sosial. Sementara itu, Desi harus menelan pil pahit bahwa selama 24 tahun hidupnya, ia masih belum memiliki potret yang mengabadikan keluarganya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: foto keluargafoto wisudaJurusan Farmasijurusan farmasi ptskuliah ptslulusan farmasimahasiswa ptsprodi farmasi uadPTSpts di jogjauniversitad ahmad dahlanwisuda ptswisuda UAD
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Rela bayar mahal kuliah jurusan Keperawatan PTS besar demi jadi perawat. Setelah lulus malah jadi kayak babu MOJOK.CO
Sekolahan

Rela Bayar Mahal di Jurusan Keperawatan demi Prospek Karier Perawat, Cuma Berakhir Jadi “Babu” di RSUD

14 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO
Sekolahan

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO
Sekolahan

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Wisudawati jual harta berharga untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya), sempat ditolak di PTN. MOJOK.CO
Kampus

Uang Habis untuk Biaya Pengobatan Ibu sampai Jual Harta Berharga agar Bisa Kuliah, Kini Jadi Wisudawati dengan Segudang Prestasi

27 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Merusak Astrea Grand Jadi Motor Racing Kampung MOJOK.CO

Pengalaman Saya “Merusak” Astrea Grand Milik Bapak Menjadi Motor Racing Kampung: Jebakan Menyenangkan dari Motor Honda yang Menjerat Saya Sampai Tua

2 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.