Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 April 2026
A A
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Ilustrasi salah jurusan di PTN. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di Indonesia, bulan-bulan pengumuman kelulusan ujian masuk perguruan tinggi, atau kini UTBK, selalu menjadi arena pembuktian gengsi. Ada aturan tak tertulis yang telanjur dipercaya banyak orang: lolos Perguruan Tinggi Negeri (PTN) adalah kasta tertinggi pendidikan. 

Sebaliknya, masuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sering dianggap sebagai pilihan cadangan atau tempat penampungan bagi mereka yang gagal menembus ketatnya persaingan kampus negeri.

Iklan

Dogma soal “kasta” ini begitu kuat mengakar. Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang rela membuang cita-cita aslinya hanya gengsi kuliah di PTN. Bima (27), bukan nama sebenarnya, adalah salah satu orang yang kini harus membayar mahal karena termakan gengsi tersebut.

Membuang cita-cita menjadi orang hukum cuma gara-gara gengsi

Cerita Bima bermula empat tahun lalu. Sejak SMA, ia punya impian kerja di bidang hukum. Paling tidak seperti kakaknya yang merupakan seorang corporate lawyer atau pengacara perusahaan.

“Soalnya lihat kakak kerjanya santai tapi elegan,” katanya, Sabtu (4/4/2026) lalu.

Untuk mewujudkan mimpinya, Bima pun mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja pada 2017 lalu. Bagi siapa saja yang paham, Fakultas Hukum UII bukanlah kampus sembarangan. 

Fasilitasnya lengkap, kualitasnya diakui secara nasional, dan koneksi alumninya di berbagai firma hukum ibu kota, pengadilan, hingga instansi pemerintahan sangatlah kuat. Secara finansial, orang tua Bima juga sangat mampu membayar biaya kuliah di sana.

Secara logika, jalan Bima menuju masa depan sudah sangat terang. Namun, semuanya hancur saat tekanan dari lingkungan sekitarnya mulai datang.

Teman-teman dekat Bima di tongkrongan banyak yang lolos ke PTN. Teman-temannya yang gap year, bahkan ada yang memamerkan tangkapan layar pengumuman lolos SNBT (dulu SBMPTN) di media sosial. Di sekolah pun, guru-guru hanya memuji siswa yang masuk negeri. Bahkan ada anggapan di lingkungannya kalau anak yang masuk kampus swasta berarti kurang pintar.

“Stigmanya itu PTS anak-anak buangan, bodoh. Yang penting bayar. Kalau PTN itu pinter, gitu,”ungkapnya.

Ego Bima terluka. Ia merasa tidak siap menjadi satu-satunya anak di tongkrongannya yang memakai jaket kampus swasta. Gengsi telah mengambil alih akal sehat.

Tanpa pikir panjang, hanya enam bulan kuliah, Bima nekat membuang kursi Fakultas Hukum UII. Ia memilih berhenti kuliah dan fokus mengejar tes masuk PTN di tahun berikutnya.

Agar peluang lolosnya besar, ia sengaja memilih jurusan yang peminatnya paling sepi, yakni Jurusan Filsafat di salah satu PTN. 

“Tahu nggak, ini kata orang-orang jurusan buangan. Karena ya buat anak-anak yang merasa nggak mampu aja masuk jurusan lain,” tawanya.

Jadi mahasiswa Filsafat di PTN cuma “ngang-ngong”

Di awal masa kuliah, hari-hati Bima ia jalani sebagaimana mahasiswa umumnya. Ada kelegaan bisa kuliah di PTN, apalagi salah satu kampus top–meski ia merasa di jurusan yang salah.

Namun, penyesalannya datang begitu cepat. Begitu perkuliahan benar-benar berjalan, Bima baru sadar bahwa ia telah salah jurusan.

Otaknya tak bisa berpikir. Ia mencoba terbiasa dengan materi yang menurutnya “aneh” dan sama sekali baru baginya. 

Sebagai pelarian dari rasa penyesalan, Bima memaksa dirinya belajar mati-matian. Ia tidak mau terlihat gagal. Namun, semakin keras ia mencoba, ilmu yang masuk tak bisa maksimal. Ibarat kata, “belajar doang tapi nggak paham”.

Iklan

“Menjelang skripsian makin ngerasa salah jurusan karena nggak tahu kudu ngapain. Di situasi itu aku mikir kayaknya lebih baik DO dan melihara lele,” candanya.

Namun, berkat bantuan teman-teman dan pacarnya, ia berhasil lulus pada 2024 lalu setelah kuliah 11 semester–atau molor satu setengah tahun.

Baca halaman selanjutnya…

Ijazahnya malah tak laku di mata HRD. Bahkan mau daftar CPNS pun mentok.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: Biaya kuliah PTNjurusan buangankuliah ptnkuliah ptsmahasiswa ptnpilihan redaksiPTNPTSUII
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet.MOJOK.CO

Kemiskinan Struktural di Balik Riuh Operasi Pesta Copet

25 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.