Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
30 Maret 2026
A A
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

Ilustrasi - Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap pemberitaan media massa dan media sosial mulai ramai tentang UTBK SNBT, ingatan Hafid (26) selalu melesat ke masa beberapa tahun silam, saat ia masih menjadi pejuang untuk menjadi mahasiswa di salah satu universitas terbaik di Semarang: Universitas Diponegoro (Undip). Sebab, ujian seleksi masuk perguruan tinggi negeri itu memberi kesan perjuangan tidak terlupakan bagi pemuda asal Sarang, Jawa Tengah tersebut. 

Motoran dari Sarang demi UTBK SNBT ke universitas terbaik di Semarang (Undip), nyawa jadi taruhan

Setelah gagal SNBP (dulu SNMPTN), karena masih bertekad masuk salah universitas terbaik di Semarang yakni Universitas Diponegoro (Undip), Hafid tidak mau lekas berputus asa. Ia pun mengikuti UTBK SNBT (dulu SBMPTN) pada awal 2017-an. 

Dari Sarang, Rembang, ia motoran menuju Semarang. Sebenarnya perjalanan Rembang-Semarang tidak terlalu lama untuk ukurannya. Hanya 3 jaman. 

Namun, jalan Pantura adalah gelanggang mengerikan bagi pengendara motor. Apalagi jika melakukan perjalanan malam. Saat itu ia berangkat selepas Isya. 

“Sebenarnya feeling nggak enak sudah sejak di Batangan. Karena selain ramai truk dan bus malam yang ugal-ugalan, jalanannya kan nggak rata, bergelombang. Jadi agak montang-manting waktu bawa motor,” cerita Hafid, Minggu (29/3/2026). 

Nyawa Hafid benar-benar nyaris melayang ketika memasuki Demak. Dari arah berlawanan tiba-tiba ada truk menyalip dan memakan jalan Hafid dalam kecepatan tinggi. Hafid yang kaget sontak banting setir ke pinggir jalan berupa jalan setapak kecil, berlumpur, dan berbatu. 

Motor Hafid oleng kanan-kiri. Dengan kakinya, Hafid bertahan sebisa mungkin agar tidak motornya tidak terjatuh. Dan untung memang tidak terjatuh. Tapi jantungnya langsung berdegup kencang. Kematian berada persis di depan matanya, dalam momen motoran jauh pertamanya demi UTBK SNBT dan lolos universitas terbaik impiannya (Undip) tersebut. 

Numpang di masjid karena cuma bawa uang Rp200 ribu

Hafid berangkat ke Semarang dengan uang pas-pasan. Kira-kira hanya cukup untuk bensin. Maka tidak mungkin kalau ia menyewa kos harian. 

Namun, untungnya, di Semarang ada kakak tingkatnya semasa nyantri di Sarang yang menjadi marbot di sebuah masjid. Di sanalah ia menginap. 

“Sebagai santri, tidur di masjid kan biasa. Jadi waktu itu aku ya tidur di emperan masjid. Cuma pakai alas sajadah, dingin ya dingin,” kata Hafid. 

“Tapi ya bagaimana lagi. Waktu itu kan memang aku nggak minta saku orang tua. Cuma minta saku buat bensin sama uang buat daftar UTBK SNBT. Aku ke Semarang cuma bawa uang Rp200 ribu buat tiga haran,” sambungnya. 

Karena UTBK SNBT masih lusa hari dari hari tibanya Hafid di Semarang, maka ia pun turut membantu kakak tingkatnya dalam mengerjakan pekerjaan marbot: membersihkan masjid. Jadi tidak ada waktu belajar atau persiapan ujian. 

Perjuangan UTBK SNBT demi universitas terbaik Semarang (Undip), kelaparan sampai bergantung makan dari warga

Sejak awal menghubungi kakak tingkatnya, Hafid memang sudah memperhitungkan: bahkan tanpa uang pun ia akan tetap bisa hidup (hehehe). 

Benar saja. Selain numpang gratis di masjid—meski Hafid bayar dengan bantu-bantu jadi marbot—Hafid juga tidak khawatir soal makan. Karena untungnya warga sekitar masjid tersebut dermawan-dermawan. 

Iklan

“Aku tiba di masjid malam itu ya kelaparan. Karena kan cuma modal makan dari rumah. Setelah itu ya kelaparan di jalan. Di masjid itu sampai pagi juga tidur dalam kondisi lapar, cuma kuganjal pakai air putih,” kata Hafid. “Kakak tingkatku kan sama nggak punya uangnya, ya nggak mungkin dia nraktir aku makan. Malah seharusnya kan aku yang nraktir dia makan.”

Namun, warga sekitar masjid memang punya kebiasaan suka berbagi makanan. Hanya saja, berbaginya di jam-jam selepas asar dan jam-jam selepas Isya. 

Dengan kata lain, kalau mau makan gratis, selama ini kakak tingkat Hafid biasanya memang harus menahan lapar dari pagi sampai sore. Kalau sore dan malam hari, kata kakak tingkat Hafid, sering kali warga ngasih makanan lebih dari rumahnya. Maklum, namanya juga warga di perumahan semi elite. Jadi kalau ada makanan sisa pasti disetor ke masjid. 

“Kata kakak tingkatku, kadang juga ngasih bahan mentah, seperti telur, sayur, beras. Terus kakak tingkatku masak sendiri. Hanya sesekali kalau lapar banget dia beli makan di warung. Tapi karena pas aku ke sana bahan pokok lagi kosong di kamar marbot, jadinya kami bergantung pada pemberian warga. Dan memang riil. Sore ada makanan, malam juga dikirim makanan sama warga,” kata Hafid. 

Karena sama-sama “senasib-sependeritaan”, Hafid dan kakak tingkatnya saling mengerti satu sama lain. Malah saling menertawakan kenekatan masing-masing. 

Kelaparan hingga pusing-pusing saat ujian sampai tepar

Karena kondisi tersebut, tidak heran jika situasi tidak mengenakkan menyerang Hafid saat menjalani ujian UTBK SNBT. Ia mendapat jadwal ujian di pagi-siang hari. Jam-jam yang tentu saja belum ada makanan masuk ke masjid. 

Tidak ada sarapan hari itu. Hafid pun tidak membeli sarapan di warung dengan asumsi: sudah biasa lapar dan makan dirapel di sore-malam hari. InsyaAllah aman lah. 

Ternyata, mikir keras menghadapi soal-soal dalam kondisi lapar amat menyiksa Hafid. Tubuhnya lemas, kepalanya pusing hingga kunang-kunang. 

“Pas nyantri dulu kan lapar di kelas tinggal tidur, beres. Kalau UTBK SNBT, taruhannya kan tembus Undip atau nggak. Jadi benar-benar kulawan rasa lapar dan kliyengan itu. Setelah ujian, balik ke masjid, langsung tepar aku,” ungkap Hafid. 

Singkat cerita, hasil UTBK SNBT memang tidak berpihak pada Hafid. Ia dinyatakan tidak lolos ke salah satu universitas terbaik di Semarang impiannya: Universitas Diponegoro (Undip). 

Ya Hafid menyadari, ia memang tidak layak masuk salah satu universitas terbaik di Semarang tersebut, karena lebih banyak nekat dan mengandalkan keberuntungan. 

“Akhirnya ikut ujian UIN di Kudus. Waktu itu masih STAIN menuju IAIN. Keterima lah di situ. Sudah aku syukuri. Di Kudus pun sama ceritanya: aku numpang di masjid, juga dari teman nyantri yang sudah lebih dulu jadi marbot di sana,” kata Hafid.

“Bedanya, di situ, walaupun modal keberuntungan, tapi lolos, hahaha,” pungkasnya. Hingga kini, setiap momen UTBK SNBT tiba, ingatan itu selalu muncul di kepala Hafid. Ia menertawakan kenekatannya: berani-beraninya modal nekat untuk masuk Undip yang dikenal sebagai salah satu universitas terbaik di Semarang. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bimbel UTBK SNBT adalah “Penipuan”: Rela Bayar Mahal demi Rasa Aman dan Jaminan Semu, padahal Tak Pasti Lolos dan Kuliah di PTN atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: SNBTsnbt 2026tips lolos utbk snbtUndipUniversitas Diponegorouniversitas terbaikuniversitas terbaik jawa tengahuniversitas terbaik semarangUTBKutbk 2026utbk snbt
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT
Edumojok

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan Bahasa Arab di UNJ Meski Tak Bisa Bahasa Arab

19 April 2026
Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten
Edumojok

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO
Edumojok

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO
Edumojok

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

4 Tipe Orang yang Tak Cocok Slow Living di Desa: Kalau Kamu Introvert apalagi Usia Produktif, Pikirkan Lagi Sebelum Menyesal

13 April 2026
Penyesalan pasang WiFi di rumah MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali “Merusak” Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP

17 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.