Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
8 Mei 2026
A A
Lulusan UNJ berkebun di Bogor. MOJOK.CO

ilustrasi - lulusan UNJ pilih hidup sederhana di Bogor dengan berkebun. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai orang tua yang baru saja memiliki anak di Kabupaten Bogor, Britania Sari mencoba berbagai kegiatan untuk melatih tumbuh kembang anaknya di masa golden age. Setelah mencoba berbagai hal, perempuan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mantap mengajak anaknya berkebun guna perkembangan motorik sang anak.

“Karena dia kan mengambil benih yang kecil-kecil, terus menaruh sampai mencampur ke tanah,” ujar lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Perancis UNJ itu.

Sari berujar itu adalah pengalaman pertamanya bertani, memanfaatkan lahan yang ada di halaman rumahnya. Pikirnya dulu, bertani harus dilakukan di lahan yang besar. Namun setelah mengikuti kelas Akademi Berkebun yang diinisiasi oleh komunitas Indonesia Berkebun, Sari sadar, banyak ilmu baru yang ia terima termasuk mempelajari alam semesta.

“Kami belajar prosesnya, bagaimana benih yang ditanam lama-lama bisa mati tapi ada juga yang hidup,” kata Sari, “jadi yang tadinya cari aktivitas untuk anak, lama-lama ibunya yang kesenangan.”

Sejak itulah, Sari belajar soal vertikal gardening, tanaman buah dalam pot (tabulapot), aquaponik, kompos, permakultur, hingga mengajak masyarakat sekitar untuk membuat kebun sayur di halaman rumah, Posyandu, sampai sekolah.

Lulusan UNJ belajar berkebun secara mandiri 

Awalnya, Sari menerapkan kebun dapur untuk pemenuhan kebutuhan pangan bagi keluarganya pribadi.  Tahun 2020 setelah lulus dari UNJ, ia dibantu suami untuk belajar mengenai permakultur karena jam ajarnya sebagai dosen selalu bentrok dengan jadwal Akademi Berkebun. Siapa sangka, suaminya jadi tertarik sampai mendapat sertifikat permakultur di Australia.

“Lahan yang kami garap pertama kali untuk kebun sayur itu awalnya cuma 100 meter, terus ada salah satu tetangga yang nawarin lahan kosongnya seluas 200 meter,” kata Sari.

Sari pun langsung menerima tawaran lahan yang sudah menjadi semak belukar tersebut. Setelah diberi izin, lahan seluas 200 meter itu ia garap sebagai kebun sayuran sedangkan 100 meter lahan miliknya ia jadikan tempat ternak ayam, rumah jamur, sampai kolam ikan.

“Dari kebun itu akhirnya kami bisa menyuplai kebutuhan rumah tangga, walaupun nggak 100 persen tapi setidaknya kami sudah membuat sayur secara mandiri,” ucapnya.

Alumnus UNJ ajak warga sekitar untuk berkebun 

Alih-alih senang bisa mencukupi kebutuhan pangan sendiri, Sari malah tertampar oleh realita pahit di sekelilingnya. Saat tinggal di Kabupaten Bogor, Sari melihat banyak tetangganya yang hidup dalam kesusahan dan kekurangan secara ekonomi, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan harian. 

Puncaknya, ada satu momen yang membuat Sari seolah tertampar, yakni ketika anak tetangganya yang tinggal di seberang rumahnya persis mengalami gizi buruk dan berakhir meninggal. 

“Ketika saya melihat langsung kejadian itu, saya sedih sekali. Anak berusia 9 tahun itu selama hidupnya hanya bisa tidur di stroller. Tidak bisa berdiri. Makannya harus pelan-pelan. Tidak bisa bicara. Beratnya hanya 8 kilogram,” tutur Sari.

“Rasanya seperti dosa. Maksud saya, kemana saja kami selama ini?” kata alumnus UNJ tersebut.

Sejak saat itu, tujuan Sari ikut berubah. Ia ingin mengedukasi masyarakat sekitar, terutama kelompok marginal bahwa anak bisa sehat dengan harga pangan murah, asal berbasis pangan lokal.

Iklan

Sari kemudian mengajak keluarga prasejahtera yang tertarik untuk membuat kebun sayur seperti dirinya, persis di depan halaman rumah mereka. Secara sukarela, Sari juga membantu warga membuat kebun komunal atas izin RT setempat.

“Akhirnya tahun 2024, kami kolaborasi sama Posyandu. Saya minta izin untuk membuat kebun sayur di halaman depan Posyandu, nanti hasilnya bakal dibagikan ke balita maupun ibu hamil yang periksa setiap satu bulan sekali,” kata Sari.

Dari Kabupaten Bogor hingga bantu sekolah di Solo

Tak berhenti sampai di situ, Sari juga membuat program anak asuh. Saban Minggu, rumahnya terbuka bagi anak-anak dari keluarga petani. Di sana, mereka bebas menikmati fasilitas ruang baca, menonton film edukasi, hingga berkebun bersama.

“Kami nggak hanya kasih ongkos jajan, tapi ilmu soal kehidupan yang barangkali tidak mereka dapatkan di sekolah seperti gotong royong, kemandirian, adab, kelas bahasa, sampai kelas mengedit,” kata Sari.

Siapa sangka, segala upayanya itu membuat nama Sari sebagai lulusan UNJ tenar. Sampai-sampai, ada satu sekolah dasar di Solo yang menghubunginya secara pribadi di akhir Desember 2025. Sekolah tersebut meminta bantuan Sari untuk memanfaatkan lahan sekolah mereka yang sudah lama terbengkalai.

“Waktu saya ke sana, halamannya sangat luas tapi hanya dipakai sebagai tempat meletakkan bongkahan puing-puing tembok sekolah. Kami pun diminta merincikan biaya yang diperlukan untuk menyulap lahan tersebut jadi kebun sayur,” kata Sari.

Kepala sekolah itu pun berpesan agar hasil panennya bisa dijual untuk membayar SPP para siswa. Ia berharap siswa-siswi di sekolahnya punya memori baik setelah lulus. Dalam prosesnya, Sari pun tak hanya mengajari murid tapi melatih guru untuk ikut kelas berkebun.

Sari berharap kebun sayur tersebut nantinya dapat berguna untuk siswa dan guru. Anak-anak, kata dia, harus mendapat hak pendidikan secara merata, alih-alih hanya untuk orang berada.

“Jika pendidikan penting untuk anak-anak, mestinya pendidikan yang berkualitas dan terjangkau adalah hak semua anak,” ujar Sari yang kini tinggal di Klaten.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: alumni UNJberkebunbogorKetahanan PanganpermakulturSarjana Pendidikan Bahasa PerancisUNJ
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO
Lipsus

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)
Sehari-hari

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO
Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT
Sekolahan

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok

6 Mei 2026
Perburuan burung kicau untuk penuhi pasar skena kicau mania tinggi, ternyata bisa ancam manusia dan bumi MOJOK.CO

Perburuan Burung Kicau untuk Penuhi Skena Kicau Mania Tinggi: Jawa Jadi Pasar Besar, Bisa Ancam Manusia dan Bumi

2 Mei 2026
Arta Wahana, pensiunan UGM isi waktu dengan berkebun selada (dok. UGM)

35 Tahun Mengabdikan Diri di UGM, Kini Pilih Budidaya Selada Hidroponik Malah Hasilkan Omzet Harian Rp750 Ribu

3 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.