Berangkat dari Madura untuk kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mafatihatul Maghfirah sadar bahwa ia harus berusaha keras di Ibu Kota. Tidak hanya hidup sebagai mahasiswi biasa (duduk manis di kelas), tapi juga harus mengupayakan finansialnya sendiri.
Mahasiswi Madura di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: jualan risol untuk biaya kuliah
Tidak ingin bergantung biaya dari orang tua di kampung halaman, Mafa (sapaan akrabnya), harus berpikir untuk menghidupi dirinya di perantauan.
Oleh karena itu, tanpa rasa gengsi Mafa mencoba berwirausaha. Melalui brand Kedai Kita yang dipasarkan lewat TikTok dan Instagram, Mafa aktif membuat dan menjual aneka jajanan, seperti risol, brownies, hingga bolu ketan yang sempat viral.
Dari hasil jualan itu, ia sudah mampu membiayai kuliahnya di jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak semester 2. Memasuki semester 6, ia semakin fokus menjalankan bisnisnya demi mengejar target biaya kuliah dan persiapan wisuda.
“Tidak ada kata gengsi dalam berwirausaha selama proses yang dijalani halal dan jujur,” ujar Mafa sebagaiman diceritakan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jualan jalan, akademik jalan: bisa lulus jalur non-skripsi
Kendati disibukkan dengan urusan jualan untuk membiayai kuliahnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sejak awal berangkat dari Madura ke Jakarta Mafa sudah bertekad tidak ingin menjadi mahasiswi biasa-biasa saja.
“Sejak semester satu, saya sudah menanamkan pola pikir untuk menjadi yang terbaik. Rasanya rugi kalau sudah merantau jauh-jauh tapi tidak berprestasi,” ungkap Mafa.
Pola pikir itu lah yang membuatnya selalu konsisten menjaga dan mempertahankan nilai IPK-nya tetap tinggi. Sudah jauh-jauh dari Madura, maka ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan pendidikannya. Karena itu lah tujuannya: memperjuangkan pendidikan.
Hasilnya, Mafa sampai pada puncak pencapaian akademiknya di semester enam. Saat itu ia mengambil peluang program kelulusan cepat non-skripsi melalui jalur publikasi jurnal terakreditasi SINTA.
Mafa mengaku, saat itu ia mendapat motivasi besar dari Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab. Ketua Prodi meyakinkan Mafa bahwa ia bisa menjadi wisudawan terbaik jika mampu menyelesaikan jurnal dan lulus di semester 7.
Mafa menyambut tantangan tersebut dengan kerja keras, hingga akhirnya resmi menyandang gelar sarjana dalam waktu 7 semester sekaligus meraih predikat sebagai wisudawan terbaik setelah merampungkan jurnal berjudul: “Pemberdayaan Santri Melalui Pembelajaran Fiqih Ubudiyah di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Wedi Kapas Bojonegoro”.
Pelajaran dari menjadi wisudawan terbaik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: jangan remehkan hal kecil
Mafa pada akhirnya dinobatkan sebagai salah satu Wisudawan Terbaik pada Wisuda ke-140 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Di akhir ceritanya, Mafa memberikan sebuah analogi mengenai kedisiplinan dan proses menghargai hal-hal kecil yang selama ini menjadi pegangan hidupnya selama berjuang di Jakarta.
“Jangan pernah meremehkan hal sekecil apa pun. Uang seratus ribu rupiah tidak akan pernah menjadi seratus ribu tanpa adanya uang seratus rupiah,” tuturnya.
Mafa pun mengingatkan, ada hal-hal kecil yang sering disepelekan mahasiswa padahal sangat berpengaruh dalam hidup. Mafa mencontohkan: Tertib di kelas, datang tepat waktu tanpa telat 5 menit, atau menahan diri tidak main HP saat dosen mengajar.
Hal-hal itu mungkin terlihat sepele. Namun, bagi Mafa, kedisiplinan pada hal kecil itu lah yang justru membentuk karakter kuat setelah lulus nanti.
Sumber: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BACA JUGA: Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













