Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mahasiswa Lain Akrab dengan Kafe dan Bioskop, Saya Anak KIP Kuliah Harus Jualan Semalaman demi Bahagiakan Ortu meski Dicaci Orang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Oktober 2025
A A
Mahasiswa beasiswa KIP Kuliah: pagi di kampus, malam jualan demi bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa beasiswa KIP Kuliah: pagi di kampus, malam jualan demi bahagiakan orang tua. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beasiswa KIP Kuliah menyalakan harapan saya untuk kuliah. Meski kondisi saya dan keluarga masih harus menerima cacian. Karena tak seperti kebanyakan mahasiswa yang akrab dengan kafe dan bioskop, saya justru lebih akrab dengan asap jagung bakar: jualan untuk tetap menyambung hidup dan perkuliahan.

***

Nama saya Windy Syalwa Mutmainna. Pendeknya, panggil saja Windy. Kini saya tercatat sebagai mahasiswa aktif di Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Maluku.

Saya memang ingin menjadi Hakim atau Jaksa (kelak). Bukan sekadar untuk mengejar jabatan, tapi karena saya tahu betul bagaimana rasanya ketidakadilan dan keterbatasan. Saya juga ingin memberantas korupsi. Tapi jalannya memang masih amat panjang.

Beasiswa KIP Kuliah: titik terang di tengah keterbatasan

Saya lahir di Ambon. Sedari SMP saya dan kedua orang tua saya harus tinggal dengan menyewa dua kamar kos.

Sebelumnya kami sempat tinggal di tanah milik orang lain. Namun, kami harus pindah karena tanah itu dipakai lagi oleh si pemilik.

Dulu, kuliah seperti menjadi jalan yang amat jauh untuk saya gapai. Situasinya seperti ini: Bapak saya dulu seorang nelayan. Namun, karena sudah berusia 60 tahun, tidak memungkinkan bagi Bapak untuk terus berjibaku dengan gelombang laut. Maka, keluarga kami pun menyambung hidup dengan jualan kecil-kecilan.

Tapi Takdir memberi secercah titik terang. Saya ternyata bisa duduk di bangku kuliah melalui beasiswa KIP Kuliah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Pagi kuliah, malam jualan jagung bakar

Beasiswsa KIP Kuliah memang sangat menunjang keperluan kuliah saya. Akan tetapi, saya juga harus memikirkan biaya hidup sehari-hari bersama orang tua.

Oleh karenanya, saya harus membagi peran. Di pagi hari, saya menyimak mata kuliah di bangku kuliah. Lalu malamnya untuk jualan jagung bakar.

Jam 8 pagi saya mengikuti kuliah online. Lalu dari jam 11 sampai jam 2 siang, karena free, biasanya saya gunakan untuk persiapan dagang jagung bakar. Seperti menyiapkan bumbu dan kebutuhan dagangan jasuke (jagung susu keju).

Disambung jam 4 sore kuliah (lagi) offline. Perkuliahan akan berakhir di jam setengah 6 atau setengah 7 petang. Selepas pulang, tanpa ganti baju, saya langsung berangkat jualan.

Saya kerap berjualan hingga hari berganti. Di sela-sela berjualan itu, sesekali saya membuka buku dan catatan perkuliahan.

Acap malu dengan teman, acap terima cacian

Ada kalanya saya merasa malu. Ketika teman-teman kuliah bercerita tentang kafe atau bioskop, saya justru sibuk bergumul dengan arang dan asap jagung bakar.

Iklan

Pernah sekali waktu, ada seorang teman kuliah melintas dan mengenali saya. Saat itu rasanya saya ingin lari dan bersembunyi. Tapi kemudian saya sadar, rasa malu tidak akan membayar biaya kuliah atau mewujudkan cita-cita saya.

Saya juga sadar, bahwa beasiswa KIP Kuliah–yang membuka jalan saya untuk kuliah–harusnya jadi dorongan semangat. Saya harus membahagiakan orang tua.

Perjuangan mereka untuk membesarkan saya harus dibalas dengan prestasi yang membahagiakan keduanya. Saya harus membuat pembuktian kalau anak mereka ini bisa loh menjadi seperti orang-orang di luar sana. Karena selama ini, dengan kondisi serba terbatas kami, cacian kerap melayang. Maka cara membalasnya adalah dengan memberi pembuktian.

Kesadaran itu membuat lelah yang saya rasakan–karena kuliah dan jualan–selalu hilang.

Tuntaskan kuliah dengan Beasiswa KIP Kuliah, tekad ubah nasib orang tua

“Mama deng Papa tenang-tenang saja. InsyaAllah Windy bisa selesai kuliah. Windy bisa bikin Mama Papa bangga dan buktikan ke orang-orang yang pandang kita sebelah mata kalau kita juga bisa.” Itu tekad saya untuk orang tua saya.

Saya bertekad, usai tuntaskan kuliah dengan beasiswa KIP Kuliah ini, saya akan bahagiakan mereka kelak. Saya tidak akan berhenti (bertekad) sampai saya bisa meletakkan palu keadilan di atas meja (menjadi hakim dan jaksa).

Teman-teman–yang membaca kisah saya–saya berharap agar kalian tak takut bermimpi besar. Jangan takut (misalanya) bermimpi bisa kuliah. Sebab, ada banyak beasiswa yang tersedia, seperti beasiswa KIP Kuliah yang saya dapat.

Tulisan ini diolah dari tutur kisah Windy Syalwa Mutmainna dalam rilis humas Kemdiktisaintek Senin (20/10/2025)

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Universitas Brawijaya (UB) Bawa Saya Kuliah Tanpa Biaya, Bisa Kerja Sebelum Wisuda buat Tebus Masa-masa Berat Sekolah Sambil Kerja Sejak Remaja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2025 oleh

Tags: Beasiswa KIP Kuliahbeasiswa kuliahkip kuliah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Urban

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO
Sekolahan

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO
Eksplor

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.