Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
31 Januari 2026
A A
Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” MOJOK.CO

Ilustrasi Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gencarnya pemerintah dan lembaga kemanusiaan seperti Wahana Visi Indonesia (WVI) dalam mengatasi masalah stunting di Indonesia bukan tanpa alasan. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting secara nasional telah mencapai 19,8 persen. Artinya, satu dari lima bayi yang lahir di Indonesia mengalami stunting.

Para ahli kesehatan sepakat, stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi berdampak langsung pada perkembangan otak, kesehatan anak, hingga produktivitas ekonomi masyarakat di masa depan. 

Oleh karena itu, Wahana Visi Indonesia (WVI) memiliki program PASTI atau Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia. Program Director WVI, Eben Ezer Sembiring menjelaskan anak-anak adalah masa depan bangsa. 

Oleh karena itu, setiap keluarga, desa, dan pemangku kepentingan memiliki peran penting dalam memastikan hak dan kebutuhan makanan bergizi anak, serta memutus akar persoalan stunting. 

“Melalui pendampingan Program PASTI bersama dengan pemerintah daerah dan masyarakat, kami membuktikan bahwa perubahan perilaku dan sistem dapat berjalan beriringan dan menghasilkan dampak besar,” ujarnya. 

Periksakan anak stunting. MOJOK.CO
Pemeriksaan motorik anak. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Lalu, mengapa kasus stunting masih terjadi? Apa langkah konkret yang bisa dilakukan orang tua guna mencegah stunting pada anak? Berikut lima fakta yang perlu diketahui soal stunting:

#1 Stunting mengancam di 1.000 hari pertama kehidupan 

Periode emas dari kehamilan hingga usia dua tahun menentukan masa depan anak. Untuk itu, penting bagi orang tua memerhatikan kecukupan gizi ibu dan bayi di bawah dua tahun (baduta), karena kegagalan memenuhi kecukupan gizi kronis di fase ini dapat memicu gagal tumbuh dan menghambat perkembangan otak. 

Guna menjawab tantangan tersebut, WVI bakal memberikan bantuan nutrisi untuk 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), menjangkau lebih dari 1.276 baduta dan ribuan keluarga berisiko lewat program PASTI.

#2 Gizi bayi yang tidak seimbang

Kurangnya nutrisi dan gizi penting seperti protein, vitamin, dan mineral membuat anak rentan terdampak stunting. Oleh karena itu, orang tua harus mendapatkan informasi yang memadai soal pola makan yang baik dan cukup agar anak mendapatkan nutrisi yang optimal. 

Informasi itu bisa didapatkan melalui 127 Pos Gizi DASHAT (PGD) aktif. PASTI memastikan keluarga mendapatkan edukasi dan akses pangan bergizi di tingkat desa. 

#3 Edukasi gizi masih rendah

Selain belum mendapat informasi yang cukup soal gizi, sebagian keluarga juga belum memahami pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi. Oleh karena itu, penting untuk menghadirkan edukasi berkelanjutan kepada orang tua. 

Selain orang tua, anak usia remaja juga aspek penting yang perlu mendapatkan informasi yang tepat untuk mendorong perubahan persepsi dan perilaku orang tua dalam memberikan gizi yang cukup. 

Para orang tua maupun anak usia remaja dapat mengikuti program pelatihan dari PASTI, di mana mereka memiliki 363 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan menggerakkan 178 remaja sebagai agen perubahan untuk Kampanye Perubahan Perilaku (KPP). 

Iklan

Para remaja tersebut kini juga berhasil menjangkau 2.178 remaja usia 15-19 tahun guna membantu dan memfasilitasi warga.

#4 Sanitasi buruk memicu infeksi 

Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko diare dan infeksi serta menghambat penyerapan gizi. Oleh karena itu, akses air bersih dan jamban sehat adalah kebutuhan yang sangat mendesak. 

Program PASTI juga turut mendukung pembangunan jamban sehat di desa dampingan, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kebiasaan hidup bersih.

#5 Stunting tak bisa selesai jika sendiri

Menurut WVI, stunting bukanlah sebuah masalah yang dapat diselesaikan oleh satu pihak. Pemerintah, masyarakat, dan mitra harus turut berkolaborasi dan bekerja sama untuk mengatasi isu ini, serta memastikan semua anak di Indonesia mendapatkan hak mendasar mereka akan makanan yang baik dan layak. 

WVI sendiri telah membangun kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Tanoto Foundation, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, dan PT BCA Tbk guna melaksanakan program PASTI.

Saat ini, WVI berhasil mengimplementasikan program tersebut di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Hingga Desember 2025, program ini menjangkau 6.808 orang dewasa, memperkuat 402 anggota TPPS, dan mendorong terbentuknya 26 Desa Model agar praktik baik berkelanjutan. 

Atas kontribusi ini, PASTI meraih empat penghargaan nasional dari BKKBN dalam kategori Mitra Pentahelix Program GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Dengan kata lain, program PASTI telah dipercaya kontribusinya untuk menurunkan stunting di Indonesia.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Rahasia Sukses Semarang untuk Menggenjot Masalah Stunting hingga Jadi Peringkat ke-2 Terendah di Jawa Tengah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: angka stuntingBKKBNcegah stuntingprogram PASTIsolusi stuntingstuntingWahana Visi IndonesiaWVI
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak Indonesia bicara soal isu perkawinan anak dan kekerasan di forum dunia. MOJOK.CO
Aktual

Anak-anak Indonesia Muak Dipaksa Kawin tapi Jarang Didengar, Kini Kesal dan Mengadu ke Forum Dunia

8 Mei 2026
Relawan di Sumatera Utara. MOJOK.CO
Ragam

Cerita Relawan WVI Kesulitan Menembus Jalanan Sumatera Utara demi Beri Bantuan kepada Anak-anak yang Terdampak Banjir dan Longsor

3 Desember 2025
Seorang bapak di Semarang tak tega lihat anak stunting, hindari isu fatherless. MOJOK.CO
Ragam

Awalnya Tak Tega Lihat Anak Sakit hingga Dampingi Istri ke Puskesmas, Lalu Sadar Pentingnya Peran Seorang Bapak

7 November 2025
Seorang ibu di Puskesmas Sekaran, Semarang periksakan anak stunting. MOJOK.CO
Ragam

Pertama Kali Periksakan Anak ke Puskesmas di Kota Semarang karena Masalah Stunting: Mulanya Khawatir, Lalu Sadar Telah Ambil Keputusan Tepat

3 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Warga Bogor Kelaparan sampai Tak Mampu Beli Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.