Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 Mei 2026
A A
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

ilustrasi - Delanggu di Klaten makin baju berkat petaninya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bukan rahasia lagi jika Delanggu menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten yang terkenal sebagai wilayah penghasil beras unggulan. Lokasinya yang tak jauh dari Gunung Merapi, menjadikan Delanggu dianugerahi karakter tanah regosol. 

Tanah itu cocok untuk ditanami varietas padi. Belum lagi, lahannya dialiri air kualitas premium dari akuifer di kawasan satelit Delanggu yaitu mata air Desa Ponggok dan Desa Cokro. Tak pelak, kualitas padinya menjadi salah satu produk beras terbaik yang dikenal sebagai beras Rojolele. 

Di tengah potensi tersebut, warga harus menghadapi tantangan tersendiri. Salah satunya tidak ada regenerasi petani. Oleh karena itu, beberapa program pun digalakkan guna mengembangkan kemampuan mereka di era modern, serta membentuk ketahanan pangan di desa. 

Salah satu program yang baru-baru ini digalakkan ialah Lahan Sawah Percontohan. Program yang sudah berjalan pada Januari 2026 ini diinisiasi langsung oleh tim Sanggar Rojolele, yakni pusat edukasi budaya, sosial, dan pertanian organik. Salah satu petani yang menjadi warga binaan dalam program ini ialah Muksin (30). 

Belajar bertani di Delanggu mulai dari dasar

Muksin sebetulnya tidak punya dasar menjadi petani. Awalnya, ia bekerja sebagai tukang bangunan. Sebagai pekerja lepas, Muksin merasa belum cukup memenuhi kebutuhan keluarganya karena pekerjaannya yang tak pasti. Kadang ada proyek, kadang nganggur. 

Muksin menyiapkan kebun. MOJOK.CO
Muksin menyiapkan kebun dibantu beberapa pemuda. (sumber: Dok.pribadi)

Di sela-sela waktu itulah, Muksin sebagai warga lokal yang tumbuh di lingkungan petani, memutuskan bergabung ke Sanggar Rojolele guna belajar bertani. Ia pun belajar proses menanam padi dari dasar. Begitu pula soal cara menanam sayur-sayuran. 

“Penghasilan tukang bangunan sebetulnya lebih besar ketimbang jadi petani penggarap. Hal ini terjadi karena petani penggarap yang tidak mampu menyewa lahan sendiri harus berbagi hasil maro dengan pemilik sawah,” kata Muksin dikonfirmasi Mojok, Senin (27/4/2026).

Artinya, Muksin harus membagi hasil panen bersihnya secara rata ke pemilik lahan, yakni 50 persen untuk dirinya sebagai penggarap dan 50 persen untuk pemilik tanah. Hal ini membuat ia merasa dirugikan dengan sistem tersebut. 

Untungnya, lewat program Lahan Sawah Percontohan, Muksin bisa belajar bertani secara organik dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di lingkungan sekitar (permakultur), tanpa pusing memikirkan modal.

Lewat proyek riset sawah percontohan itu juga, Muksin bisa menambah pengetahuan dan praktik permakultur bersama Ketumbar Workshop. Dengan begitu, Muksin dapat mencukupi kebutuhan hidup istri dan 2 orang anaknya yang masih berusia 3 dan 6 tahun. 

Sudah saatnya permakultur di Delanggu eksis

Mbak Menik usia 70 tahun. MOJOK.CO
Mbak Menik usia 70 tahun di kebun sayur yang dikelola kelompok wanita tani. (sumber: Dok.pribadi)

Pengurus Sanggar Rojolele, Citra Megasari berujar program Lahan Sawah Percontohan merupakan eksperimen guna memperoleh data mengenai evaluasi soal sistem desain pertanian permakultur di Delanggu, Kabupaten Klaten.

Eksperimen ini melibatkan satu keluarga warga binaan yang mendapat pendampingan dari Sanggar Rojolele selama satu tahun. Setelah itu, tim Sanggar Rojolele bakal melakukan evaluasi, apakah dengan luasan lahan tersebut hasil tanamnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.

“Karena kalau kita tidak mampu memberikan penghasilan lebih dengan menanam sendiri, keluarga tersebut bisa mengurangi pengeluaran untuk belanja makanan,” ujar Citra. 

Ketika hasilnya baik, Citra berharap banyak masyarakat yang tertarik sebab terkadang mereka baru mau ikut ketika sudah melihat hasilnya. Dengan begitu Citra bisa merekrut warga binaan lebih banyak.

Iklan

Mengapa ketahanan pangan penting?

Paket pangan sehat. MOJOK.CO
Paket pangan sehat yang dibagikan secara gratis di Posyandu. (sumber: Dok.pribadi)

Ide Lahan Sawah Percontohan menggunakan sistem permakultur ini awalnya muncul ketika Citra mengobrol langsung dengan Britania Sari, seorang Penggerak Kebun Rumah dan Permakultur di Kabupaten Bogor, saat keduanya bertemu di Delanggu, Kabupaten Klaten.

Sari sendiri bukan berasal dari keluarga petani. Ia juga tak punya lahan yang besar dan sejatinya tidak tahu dasar menanam sayur-sayuran. Meskipun tidak memiliki dasar pertanian, Sari terdorong untuk belajar dan bergerak langsung setelah melihat seorang anak berusia 9 tahun di sekitar rumahnya dalam kondisi gizi buruk.

“Pada 2023 saya akhirnya mengundang keluarga prasejahtera untuk mengajak mereka berkebun, beternak dan mengompos di depan halaman rumah mereka. Kami buatkan titik-titik komunal yang terbengkalai menjadi kebun dengan izin RT setempat,” kata Sari dihubungi terpisah, Sabtu (25/4/2026).

Selain itu, ia juga bekerjasama dengan posyandu untuk membangun kebun sayur di halaman. Hasil panennya bakal ia bagikan ke balita, ibu hamil, dan orang lanjut usia yang periksa setiap satu bulan sekali. Kebun sayur ini pula yang akhirnya juga diterapkan oleh kelompok wanita tani (KWT) di Klaten.

Menarik minat ibu usia produktif di Delanggu untuk jadi petani

KWT di Delanggu, Klaten. MOJOK.CO
KWT di Delanggu, Klaten melanjutkan pengelolaan kebun sayur komunal. (sumber: Dok.Pribadi)

Mulanya, KWT dibentuk oleh pemerintah kabupaten Klaten sebagai bagian dari program pemberdayaan perempuan khususnya untuk para istri petani sekaligus penunjang ekonomi keluarga. Fokusnya mulai dari pemanfaatan lahan pekarangan, pengolahan hasil panen, sampai penggerak agribisnis.

Namun, Citra mengungkap pelaksanaan KWT tak terlepas dari tantangan. Salah satunya, karena hampir seluruh anggotanya adalah ibu-ibu berusia lanjut yang secara fisik sudah tidak memungkinkan untuk bekerja di ladang dan sulit untuk beradaptasi dengan teknologi. 

“Untuk menarik ibu-ibu usia produktif di Delanggu, Klaten agar mau terlibat dengan program KWT, kami sudah ada beberapa pilot project pemberdayaan ibu-ibu yang sudah berjalan sampai saat ini, yaitu UMKM keripik karak Rojolele dan kripik belut,” jelas Citra.

Baik Citra dan Sari berharap ibu-ibu yang terlibat dalam KWT nanti dapat melanjutkan pengelolaan kebun sayur komunal. Yang mana nantinya, hasil panen kebun sayur tersebut bisa dibeli oleh para donatur untuk kemudian dibagikan gratis saat ada kegiatan Posyandu.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2026 oleh

Tags: delanggukelompok wanita taniKetahanan Panganklatenpermakultur
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026. MOJOK.CO
Lipsus

Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten

26 Mei 2026
Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten MOJOK.CO
Urban

Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten

25 Mei 2026
Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO
Kilas

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO
Urban

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline MOJOK.CO

Harga Kopi dan Ketakutan Dosen Bergelar Doktor pada Portal Error Menjelang Deadline

25 Mei 2026
Vario 150, Motor Honda Terbaik Wujud (Cicilan dan) Kasih Ibu MOJOK.CO

Vario 150: Motor Honda Terbaik tapi Paling Mengancam Kewarasan dan Bikin Malu, Takut Gak Bisa Nyicil Setelah Jadi Pengangguran Akhirnya Diselamat Ibu

21 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.