Bukan rahasia lagi jika Delanggu menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Klaten yang terkenal sebagai wilayah penghasil beras unggulan. Lokasinya yang tak jauh dari Gunung Merapi, menjadikan Delanggu dianugerahi karakter tanah regosol.
Tanah itu cocok untuk ditanami varietas padi. Belum lagi, lahannya dialiri air kualitas premium dari akuifer di kawasan satelit Delanggu yaitu mata air Desa Ponggok dan Desa Cokro. Tak pelak, kualitas padinya menjadi salah satu produk beras terbaik yang dikenal sebagai beras Rojolele.
Di tengah potensi tersebut, warga harus menghadapi tantangan tersendiri. Salah satunya tidak ada regenerasi petani. Oleh karena itu, beberapa program pun digalakkan guna mengembangkan kemampuan mereka di era modern, serta membentuk ketahanan pangan di desa.
Salah satu program yang baru-baru ini digalakkan ialah Lahan Sawah Percontohan. Program yang sudah berjalan pada Januari 2026 ini diinisiasi langsung oleh tim Sanggar Rojolele, yakni pusat edukasi budaya, sosial, dan pertanian organik. Salah satu petani yang menjadi warga binaan dalam program ini ialah Muksin (30).
Belajar bertani di Delanggu mulai dari dasar
Muksin sebetulnya tidak punya dasar menjadi petani. Awalnya, ia bekerja sebagai tukang bangunan. Sebagai pekerja lepas, Muksin merasa belum cukup memenuhi kebutuhan keluarganya karena pekerjaannya yang tak pasti. Kadang ada proyek, kadang nganggur.

Di sela-sela waktu itulah, Muksin sebagai warga lokal yang tumbuh di lingkungan petani, memutuskan bergabung ke Sanggar Rojolele guna belajar bertani. Ia pun belajar proses menanam padi dari dasar. Begitu pula soal cara menanam sayur-sayuran.
“Penghasilan tukang bangunan sebetulnya lebih besar ketimbang jadi petani penggarap. Hal ini terjadi karena petani penggarap yang tidak mampu menyewa lahan sendiri harus berbagi hasil maro dengan pemilik sawah,” kata Muksin dikonfirmasi Mojok, Senin (27/4/2026).
Artinya, Muksin harus membagi hasil panen bersihnya secara rata ke pemilik lahan, yakni 50 persen untuk dirinya sebagai penggarap dan 50 persen untuk pemilik tanah. Hal ini membuat ia merasa dirugikan dengan sistem tersebut.
Untungnya, lewat program Lahan Sawah Percontohan, Muksin bisa belajar bertani secara organik dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di lingkungan sekitar (permakultur), tanpa pusing memikirkan modal.
Lewat proyek riset sawah percontohan itu juga, Muksin bisa menambah pengetahuan dan praktik permakultur bersama Ketumbar Workshop. Dengan begitu, Muksin dapat mencukupi kebutuhan hidup istri dan 2 orang anaknya yang masih berusia 3 dan 6 tahun.
Sudah saatnya permakultur di Delanggu eksis

Pengurus Sanggar Rojolele, Citra Megasari berujar program Lahan Sawah Percontohan merupakan eksperimen guna memperoleh data mengenai evaluasi soal sistem desain pertanian permakultur di Delanggu, Kabupaten Klaten.
Eksperimen ini melibatkan satu keluarga warga binaan yang mendapat pendampingan dari Sanggar Rojolele selama satu tahun. Setelah itu, tim Sanggar Rojolele bakal melakukan evaluasi, apakah dengan luasan lahan tersebut hasil tanamnya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.
“Karena kalau kita tidak mampu memberikan penghasilan lebih dengan menanam sendiri, keluarga tersebut bisa mengurangi pengeluaran untuk belanja makanan,” ujar Citra.
Ketika hasilnya baik, Citra berharap banyak masyarakat yang tertarik sebab terkadang mereka baru mau ikut ketika sudah melihat hasilnya. Dengan begitu Citra bisa merekrut warga binaan lebih banyak.
Mengapa ketahanan pangan penting?

Ide Lahan Sawah Percontohan menggunakan sistem permakultur ini awalnya muncul ketika Citra mengobrol langsung dengan Britania Sari, seorang Penggerak Kebun Rumah dan Permakultur di Kabupaten Bogor, saat keduanya bertemu di Delanggu, Kabupaten Klaten.
Sari sendiri bukan berasal dari keluarga petani. Ia juga tak punya lahan yang besar dan sejatinya tidak tahu dasar menanam sayur-sayuran. Meskipun tidak memiliki dasar pertanian, Sari terdorong untuk belajar dan bergerak langsung setelah melihat seorang anak berusia 9 tahun di sekitar rumahnya dalam kondisi gizi buruk.
“Pada 2023 saya akhirnya mengundang keluarga prasejahtera untuk mengajak mereka berkebun, beternak dan mengompos di depan halaman rumah mereka. Kami buatkan titik-titik komunal yang terbengkalai menjadi kebun dengan izin RT setempat,” kata Sari dihubungi terpisah, Sabtu (25/4/2026).
Selain itu, ia juga bekerjasama dengan posyandu untuk membangun kebun sayur di halaman. Hasil panennya bakal ia bagikan ke balita, ibu hamil, dan orang lanjut usia yang periksa setiap satu bulan sekali. Kebun sayur ini pula yang akhirnya juga diterapkan oleh kelompok wanita tani (KWT) di Klaten.
Menarik minat ibu usia produktif di Delanggu untuk jadi petani

Mulanya, KWT dibentuk oleh pemerintah kabupaten Klaten sebagai bagian dari program pemberdayaan perempuan khususnya untuk para istri petani sekaligus penunjang ekonomi keluarga. Fokusnya mulai dari pemanfaatan lahan pekarangan, pengolahan hasil panen, sampai penggerak agribisnis.
Namun, Citra mengungkap pelaksanaan KWT tak terlepas dari tantangan. Salah satunya, karena hampir seluruh anggotanya adalah ibu-ibu berusia lanjut yang secara fisik sudah tidak memungkinkan untuk bekerja di ladang dan sulit untuk beradaptasi dengan teknologi.
“Untuk menarik ibu-ibu usia produktif di Delanggu, Klaten agar mau terlibat dengan program KWT, kami sudah ada beberapa pilot project pemberdayaan ibu-ibu yang sudah berjalan sampai saat ini, yaitu UMKM keripik karak Rojolele dan kripik belut,” jelas Citra.
Baik Citra dan Sari berharap ibu-ibu yang terlibat dalam KWT nanti dapat melanjutkan pengelolaan kebun sayur komunal. Yang mana nantinya, hasil panen kebun sayur tersebut bisa dibeli oleh para donatur untuk kemudian dibagikan gratis saat ada kegiatan Posyandu.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














