Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 Mei 2026
A A
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

ilustrasi - Anak muda nikah di KUA dianggap merendahkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanpa ada pembahasan apapun, Eki*(24) tiba-tiba nyeletuk ke ibunya. Dia bilang, nanti ingin menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) saja tanpa acara yang meriah. Mendengar pernyataan dari anaknya yang Gen Z itu, ibu Eki terdiam sebentar. 

Namun, diamnya ibu Eki bukan karena lega. Diam itu artinya, besok pagi akan ada huru-hara di rumahnya. Benar saja, keluarganya langsung mengadakan rapat di malam harinya. Seluruh saudara Eki terpantau sudah kumpul di ruang tamu pukul 20.00 WIB.

“Tanteku langsung membuka obrolan dengan pertanyaan, ‘nanti bagaimana kata orang?’,” cerita Eki saat dikonfirmasi Mojok, Selasa (19/5/2026)

Eki pun hanya diam. Dia belum menyiapkan jawaban. Bingung harus merespons bagaimana, sekaligus bingung dengan pertanyaan tantenya.

“Orang-orang yang dimaksud tante ini, bukankah mereka nggak bakal hidup bareng aku nantinya?,” kata Eki.

Biaya yang dibutuhkan untuk menikah

Namun, pertanyaan dari tantenya itu hanyalah permulaan. Pembahasan berlanjut dengan nostalgia acara pernikahan keluarga sepupunya dulu di grup WhatsApp keluarga. Salah satu sepupu Eki yang baru menikah pun membagikan fotonya.

“Dia nikah di ballroom dengan 300 tamu undangan. Dekorasinya putih menunjukkan kesederhanaan tapi berkesan. Kalau ditotal, biaya nikahannya ada sampai Rp150 juta. Dari situ aku sadar, oh makanya pas aku bilang mau nikah di KUA kesannya seperti penghinaan,” tutur Eki.

Di hari berikutnya, tantenya membagikan sebuah artikel berjudul “Segini Biaya Nikah yang Ideal di 2025”. Dalam artikel itu, setidaknya Eki hanya perlu budget Rp75 juta untuk acara yang terbilang sederhana.

Padahal, nikah di KUA biayanya bisa gratis. Jika akad dilakukan di kantor pada hari dan jam kerja, pengantin tak perlu bayar. Sementara, jika akad dilaksanakan di luar KUA atau di luar jam kerja (hari libur/akhir pekan), dikenakan biaya Rp600 ribu yang dibayar langsung ke kas negara.

“Terus dia lanjut bilang, ‘yang penting nabung dari sekarang ya, Nak’. Dan aku hanya diam,” kata Eki.

Eki bukannya benci pesta besar tapi melihat kondisi finansialnya, dia jadi sadar diri. Dengan gajinya yang hanya Rp3 juta, ia menghitung-hitung lagi pengeluarannya. Mulai dari cicilan yang belum lunas, uang makan, transfer bulanan ke rumah, dan tabungan yang masih nol. Bagaimana mau mengadakan acara besar?

“Aku mencoba berhitung. Artinya, aku harus menabung setidaknya 2 tahun lebih. Nah, itu kalau aku rutin menabung full Rp3 juta per bulan sedangkan aku masih harus bayar kos, kuota, dan kasih kiriman ke orang rumah. Terus budaya kita bilang, ‘yang penting niat, pasti ada jalan’. Nah, jalannya lewat mana? Kalkulatorku nggak nemu,” keluh Eki.

Dilarang nikah di KUA hanya karena gengsi

Namun, masalah yang bikin Eki gusar sebenarnya bukan karena protes dari keluarganya, melainkan dirinya sendiri yang mulai memikirkan saran-saran tersebut. Apakah dengan menikah di KUA bikin niatnya tampak tidak serius?

“Di kepalaku cuma ada satu pertanyaan: ini soal pernikahan atau harus memenuhi gengsi siapa?,” kata Eki.

Iklan

Beruntung, Eki berujung pada pemikiran bahwa dia bukannya tidak serius dalam hubungan. Dan acara sakral mestinya tidak dinilai dari berapa total pengeluaran dan jumlah tamu yang diundang.
“Aku cuma nggak mau memulai pernikahan dengan utang yang dibungkus bunga karangan,” tegas Eki. 

Eki tak sendiri, survei dari Jakpat menunjukkan sebanyak 64 persen dari 907 responden anak muda yang masih lajang mengaku urusan keuangan menjadi tantangan utama dalam mempersiapkan pernikahan. 

Kesiapan yang dibutuhkan selain materi

Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Halim Purnomo menjelaskan generasi muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, termasuk mengakhiri masa lajang.

Selain karena aspek ekonomi dan karier, Halim menegaskan faktor psikologis juga memengaruhi alasan generasi muda menunda pernikahan. Laki-laki misalnya, harus siap dengan tekanan sosial karena perannya sebagai pencari nafkah utama nantinya.

Kekhawatiran tersebut, kata Halim, tak selalu buruk. Itu artinya, generasi muda ingin meminimalkan potensi masalah setelah menikah, seperti memastikan kebutuhan dasar mulai dari sandang, pangan, papan, hingga pendidikan anak di masa depan. Namun, Halim mengingatkan bahwa kesiapan tidak harus sempurna.

“Generasi muda perlu banyak berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman. Belajar tidak hanya dari bangku kuliah, tetapi juga dari pengalaman orang lain. Dengan berdiskusi dan memperoleh perspektif yang lebih luas, seseorang akan lebih mantap dalam mengambil keputusan,” ujar Halim. 

“Menikah adalah ibadah sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak, sehingga keputusan itu harus diambil dengan kesiapan, bukan dengan ketakutan,” tegasnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2026 oleh

Tags: acara pernikahanbiaya nikah di kuagenerasi mudagrup wakeluarga besarNikahnikah di KUAWA keluarga
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Anak muda alias gen z dan milenial kini tolak kejar jabatan. MOJOK.CO
Urban

Anak Muda Tolak Karier Elite dengan Jabatan Tinggi, Pilih Side Job yang Jamin Gaji Stabil di Masa Kini

19 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic
Sehari-hari

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026
Ide Usaha Minyak Jelantah: Kotor, tapi Untung Jutaan per Bulan MOJOK.CO

Bisnis Pengepul Minyak Jelantah: Ide Usaha yang Nggak Populer tapi Bisa Untung Jutaan per Bulan

9 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.