Terlahir sebagai perempuan rasanya menyedihkan. Dihakimi karena bentuk tubuh, warna kulit, wajah, atau bahkan hormon yang mudah emosional. Bahasan ini kemudian dinormalisasi dan dianggap sebagai candaan biasa. Tak hanya di tongkrongan tapi di grup WhatsApp (WA). Seperti yang terjadi baru-baru ini, kekerasan seksual yang terjadi di grup mahasiswa FH UI.
Peringatan: Tulisan ini dapat memicu trauma bagi penyintas kekerasan seksual. Mojok meminta untuk tidak melanjutkan membaca apabila Kamu dalam kondisi rentan.
Candaan humor bernada seksis di grup WA
Bagi perempuan yang pernah menjadi objek candaan di sekitarnya, Desi (bukan nama sebenarnya) mengaku masih berjuang melawan insecurity-nya sampai sekarang. Ia seringkali diejek karena tidak sesuai dengan standar kecantikan sosial.
“Aku pernah dihina fisik, badanku dikatain kayak gajah, sumo, bawang bombay. Nggak hanya aku, temanku yang cantik juga sering dibecandain soal seks dan kewanitaannya,” kata Desi saat dihubungi Mojok, Selasa (14/4/2026).
Tak hanya Desi, Amel (bukan nama sebenarnya) juga pernah mengalami kekerasan seksual di tempat kerja. Sebagai pekerja hotel perempuan satu-satunya di sana, tubuh Amel kerap menjadi objek candaan oleh rekan kerjanya yang kebanyakan berusia boomers.
“Mereka biasanya mengirim foto aneh-aneh di grup WA, seperti lingerie sampai celana dalam perempuan yang mereka temukan di kamar hotel. Terus di sana mereka terang-terangan mengomentari bentuk tubuhku,” kata Amel yang sempat terdiam sebentar, sebelum melanjutkan kalimatnya, “terus mereka menyuruh aku pakai dan kirim fotonya di grup WA, katanya bakal pas, sesuai dengan ‘ukuranku’.”
Tubuh yang kerap dijadikan objek bercanda di grup WA
Komentar bernada seksual di tongkrongan maupun di grup WA, sebenarnya bukan rahasia lagi. Hal ini bisa menjadi topik pembahasan baik di lingkaran pertemanan perempuan maupun laki-laki mesum.
Tapi tidak bagi Hadi (23). Setiap kali melihat tongkrongan dan grup WA yang isinya merendahkan tubuh perempuan atau kiriman link bermuatan unsur pornografi, Hadi memilih tidak ikut-ikutan. Bahkan, saat dirinya mencoba mengingatkan tentang budaya patriarki, yang ada malah dirinya ikut dihujat.
“Waktu itu aku main ke rumah temanku, terus dia maksa istrinya untuk mencuci pakaian punya dia padahal istrinya juga baru pulang kerja. Aku kasihan, tapi malah dianggap sok pahlawan atau dikira naksir istrinya. Kan bego,” kata Hadi.
Saat memilih tidak ikut nimbrung di grup WA, Hadi malah dikeluarkan dari lingkaran pertemanannya karena dianggap tidak solid. Begitu pula yang dialami Rama (24) saat mengingatkan lingkaran pertemanannya di grup WA.
“Mereka melawan ucapanku seakan aku ini orang yang sok suci,” ujar Rama.
Sebagai laki-laki, Hadi dan Rama paham bahwa bentuk tubuh tidak seharusnya dijadikan objektifikasi. Rama sendiri melihat langsung dampak korban kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya, yang mana kebanyakan dari mereka merasakan trauma berkepanjangan.
“Setiap kasus kekerasan seksual yang muncul hits a bit too close to home buatku, karena aku punya kerabat laki-laki yang pernah menjadi korban kekerasan seksual saat dia masih kecil,” kata Rama.
Objektifikasi adalah gerbang masuk pelecehan
Dokter Spesialis Andrologi Dicky Faizal Irnandi menilai chat bernada seksis di grup WA seperti kasus FH UI menandakan hilangnya nilai kemanusiaan. Padahal, seksualitas yang sehat, kata dia, seharusnya punya kombinasi tiga hal yakni respect, consent, dan empathy.
“Jika salah satu hilang, yang muncul bukan lagi ekspresi seksual melainkan objektifikasi seperti yang sering terjadi di grup WA,” kata Dicky dikutip dari Threads, Rabu (15/4/2026).
Menurut Dicky, objektifikasi adalah gerbang masuk pelecehan. Fenomena ini seperti guliran bola salju yang semakin besar. Artinya, ketika ada satu orang memulai candaan seksis, lalu yang lain diam, maka masalah yang dimunculkan akan semakin parah.
“Ini juga yang disebut normalisasi dalam kelompok. Yang salah jadi terasa biasa dan kelak menjadi bola salju besar agar mereka diakui sebagai anggota grup WA tersebut,” lanjutnya.
Beberapa pelaku bahkan menggunakan dalih kesehatan. Misalnya, mewajari aksi kekerasan seksual mereka karena punya hormon testosteron (untuk laki-laki) yang bercanda di tongkrongan maupun grup WA.
“Tapi ini bukan masalah libido atau karena mereka laki-laki terus ‘tinggi hasrat seksualnya’. Mereka cuma nggak pernah belajar membedakan hasrat dan penghormatan,” kata Dicky.
Bercanda seksis di grup WA sama dengan melanggar norma
Sebagai dokter yang bertugas mengedukasi masalah seksual, Dicky berujar pelaku kekerasan seksual tidak cukup diajari soal anatomi tubuh, hubungan seksual, dan reproduksi, melainkan soal batas (boundaries), persetujuan, dan cara pandang seksual pada manusia sebagai subjek bukan objek.
“Maka dari itu, di kasus pelecehan FH UI by grup WA, pelakunya tidak boleh berhenti sampai diberi sanksi, tapi bagaimana kita mencegah dan menghentikan pola ini. Kuncinya adalah literasi seksual dan relasi sejak dini baik untuk laki-laki maupun perempuan,” kata Dicky.
Selain itu, maskulinitas laki-laki, kata Dicky seharusnya tidak diukur dari keberanian mereka bicara dengan vulgar atau secara liar di tongkrongan maupun grup WA. Justru, orang yang lebih bisa mengontrol diri adalah laki-laki sejati.
“Jadi, biasakan menghormati orang lain bahkan ketika mereka tidak membahas soal fisik. Kalau ada di grup WA kalian yang mulai melecehkan, apalagi seksual, jangan diam. Diam itu bukan netral. Kalau kita terus menganggap edukasi seksual itu tabu dan tidak penting, maka kejahatan ini akan sangat sulit dicegah,” kata Dicky.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim”, seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














