Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
26 April 2026
A A
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Ilustrasi Resepsi Pernikahan (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi sebagian besar masyarakat, hajatan pernikahan adalah tradisi yang sangat melekat sekaligus simbol kesuksesan sebuah keluarga. Menggelar pesta yang meriah dengan ratusan bahkan ribuan tamu undangan, sering dianggap sebagai pencapaian tertinggi orang tua dalam mengantarkan anaknya ke gerbang rumah tangga. 

Namun, di balik kemegahan acara, hajatan kerap kali menyimpan masalah finansial. Pesta singkat itu justru berpotensi “memiskinkan” pasangan yang baru saja menikah.

Iklan

Realitas pahit inilah yang salah satunya masih membekas bagi Dito (28). Lelaki asal Magelang ini mengaku, berbulan-bulan setelah resepsi, penyesalan itu masih ada.

Tabungan selama 7 tahun tak tersisa

Dito menceritakan bagaimana tabungan masa depannya lenyap tak bersisa. Sebagai pekerja biasa, Dito sudah berhitung matang sebelum memutuskan menikah. 

Ia dan pasangannya butuh waktu bertahun-tahun hidup hemat demi mengumpulkan tabungan sebesar Rp50 juta. Rencana awal mereka, uang itu akan dipakai murni untuk membayar DP KPR sebuah rumah mungil di pinggiran kota. 

Sisanya, mereka hanya ingin menikah sederhana di KUA yang disaksikan keluarga inti.

“Tujuh tahun, Mas. Tujuh tahun kami rela nahan nggak beli ini itu, ngumpulin gaji buat masa depan. Eh, ujungnya habis juga dalam semalam,” kisah Dito, Sabtu (25/4/2026).

Namun, rencana itu buyar seketika karena ia kalah suara oleh keluarga besarnya. Pihak keluarga menuntut hajatan besar dengan alasan sudah sewajarnya pernikahan anak dirayakan. 

Di masyarakat kita, anak acap kali tidak punya kuasa penuh atas acara pernikahannya sendiri.

“Abis hajatan, malah utang yang tiba-tiba numpuk.”

Uang habis buat memberi makan “orang asing”

Dito sadar betul, orang tuanya tidak bersikap egois apalagi berniat memeras keringat anaknya. Saat hajatan berlangsung, Dito melihat ibunya menangis terharu. 

Sang ibu tampak begitu bangga karena bisa mengumpulkan dan menjamu saudara-saudara jauh serta tetangga satu kampung. Sayangnya, harga dari air mata itu teramat mahal bagi kehidupan rumah tangga Dito kemudian hari.

“Asli Mas, saya nyesek kalau inget,” kata Dito sambil menggelengkan kepala. “Uang puluhan juta hasil habis buat ngasih makan orang-orang yang bahkan saya nggak kenal. Ujung-ujungnya sekarang saya sama istri masih numpang di rumah mertua.”

Bagi Dito, hajatan adalah momen di mana harapan memiliki rumah sendiri menguap dalam semalam. Tabungan rumah itu berubah bentuk menjadi hidangan yang dinikmati oleh orang asing.

Iklan

Hajatan cuma buat “membeli” omongan tetangga

Jika Dito kehilangan kesempatan mencicil rumah, pengalaman Tria (27) justru menyoroti sisi lain dari tuntutan adat. Perempuan asal Kulonprogo ini menjabarkan “kekalahan” rencana pernikahannya dengan realitas yang selama ini jadi kewajaran di banyak keluarga.

Realitas pertama, adalah soal ketakutan orang tua pada sanksi sosial. Awalnya, Tria berkeras hanya ingin menikah di KUA saja. Namun, mendengar itu, ibunya langsung panik. 

“Di lingkungan tempat tinggal kami, tidak menggelar hajatan dianggap aib,” kata Tria. 

“Ibu terutama ya takut kalau acaranya biasa-biasa aja dianggapnya pelit lah, nggak ngumumi lah, atau bahkan hamil duluan,” imbuhnya.

Pada titik ini, Tria sadar bahwa hajatan terpaksa dibuat murni untuk “membeli” validasi lingkungan sekitar agar keluarganya tidak jadi bahan omongan.

Omong kosong balik modal

Tak sampai di situ. Tria yang khawatir soal kurangnya biaya diyakinkan oleh ibunya dengan sistem “balik modal”. Ibunya bilang, kalau dirinya nggak usah takut kurang biaya karena tamu pasti banyak.

“Keluarga itu punya catatan dulu pernah datang ke hajatan siapa aja. Nyumbang di desa itu kan harus dibalikin lagi suatu hari nanti. Nah, ibu bilang mereka ini bakal balikin sumbangannya di hajatan saya.”

Kata Tria, ibunya sangat yakin bahwa uang hasil resepsi hajatan nantinya pasti bisa menutup semua biaya vendor. Sayangnya, kenyataan di lapangan meleset jauh. 

Mitos “balik modal” itu hancur saat amplop sumbangan dihitung. Memang benar, tetangga yang dulu disumbang ibunya membalas dengan nominal yang sama. Masalahnya, jumlah keseluruhan masih kurang buat menutup semua pengeluaran.

“Hasilnya nombok. Utang di mana-mana. Dan siapa coba yang punya kewajiban ngelunasin kalau bukan saya dan suami?”

Mempelai cuma jadi pajangan saat hajatan

Bahkan, Tria juga sadar ia hanya dijadikan “pajangan”. Saat hari H tiba, mayoritas tamu yang datang ternyata adalah kenalan bapak dan ibunya. 

Bagi Tria, pesta itu murni menjadi “panggung” untuk membuktikan bahwa orang tuanya berhasil bikin hajatan besar bagi anaknya.

“Padahal saya dan suami pengennya kecil-kecilan aja, ngundang teman dekat. Syukuran, udah. Nggak perlu sampai ada dangdutan segala.”

Tria pun berpikir, kalau anak muda seperti dirinya adalah korban benturan generasi antara anak dan orang tua. Keluarga seringkali memaksakan kehendak mereka, tak peduli seperti apa keinginan mempelai.

“Percuma kita merencanakan nikah dari A sampai Z. Ujung-ujungnya kudu ikut rencana orang tua.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Dilema Hadiri Nikahan Rekan Kerja di Jakarta, Gaji Tak Seberapa tapi Gengsi kalau Isi Amplop Sekadarnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 April 2026 oleh

Tags: biaya hajatanbiaya nikahhajatanhajatan di desahajatan pernikahanmenikahNikahpernikahanpilihan redaksiresepsiresepsi pernikahan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko” MOJOK.CO

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

3 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan MOJOK.CO

Di Balik Lanyard Startup Jaksel: Digembleng Target Tinggi, Digaji Pas-pasan

3 Agustus 2026
Caffino Srikandi Merdeka Cup: turnamen sepak bola putri internasional di Kudus, momentum bakat muda Indonesia unjuk kualitas MOJOK.CO

Srikandi Merdeka Cup: Turnamen Sepak Bola Putri U-16 Level Internasional di Kudus, Momentum Unjuk Kualitas untuk Tembus Timnas

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.