MOJOK.CO – Vario 150 yang saya kendarai berisi kasih ibu. Tanpa ibu, motor Honda terbaik itu pasti sudah hilang karena cicilan yang macet.
Saya pernah nangis di atas motor yang saya cicil sendiri. Bukan karena jatuh, bukan karena kecelakaan, tapi karena waktu itu saya tidak punya pekerjaan dan tidak tahu harus bayar cicilan bulan depan dari mana.
Motor itu adalah Honda Vario 150 warna cokelat doff keluaran 2016. Sampai sekarang, warnanya masih sama seperti pertama kali saya pilih, yaitu cokelat yang tidak terlalu mencolok, tapi cukup beda dari yang lain.
Dulu, waktu memilih, saya sempat bingung. Tapi kakak saya bilang, “Ambil yang doff saja, kelihatan lebih unik.” Saya nurut saja. Waktu itu, yang penting buat saya bukan soal warna atau model, tapi satu hal sederhana. Saya akhirnya punya motor yang “lebih baik” dari sebelumnya.
Sebelum Vario 150 itu datang, saya pakai Supra Fit. Motor Honda lama yang sudah menemani cukup lama. Nggak keren, nggak juga jelek. Biasa saja. Tapi cukup untuk membawa saya ke banyak tempat. Sampai akhirnya, saya menjual motor itu untuk menjadi uang muka.
Sisanya? Ya seperti kebanyakan orang, saya ambil jalan yang paling umum: Kredit. Nyicil.
Kredit Vario 150 yang bikin hidup jadi terasa aneh
Awalnya terasa aneh. Biasanya hidup tanpa tanggungan, tiba-tiba setiap bulan saya harus mengingat satu tanggal penting. Tanggal yang, kalau terlewat, bisa bikin kepala pusing. Cicilan selama 35 bulan demi Vario 150 memang terdengar tidak terlalu lama. Tiga tahun kurang sedikit. Tapi begitu menjalaninya, rasanya panjang juga.
Waktu itu saya bekerja di sebuah restoran di Jogja. Statusnya merantau dari Gunungkidul. Gajinya tidak besar, tapi cukup. Setidaknya untuk makan, bayar cicilan Vario 150, dan sesekali memberi sedikit ke ibu saat pulang. Hidup terasa sederhana. Tidak mewah, tapi juga tidak terlalu berat.
Setiap berangkat kerja, motor itu selalu jadi teman. Pagi-pagi berangkat, malam pulang, kadang kehujanan, kadang kepanasan. Hal-hal kecil yang waktu itu terasa biasa saja. Saya bahkan sempat merasa, “Oh, ternyata nyicil motor nggak seseram itu.”
Sampai akhirnya saya memutuskan resign. Keputusan yang, kalau saya ingat lagi sekarang, terlalu berani atau mungkin terlalu nekat.
Waktu itu saya punya rencana. Saya ingin mencoba pekerjaan baru sebagai collector di sebuah koperasi. Lokasinya di Purworejo. Ini cukup jauh dari tempat kerja saya sebelumnya. Saya pikir, ini kesempatan untuk belajar hal baru, dapat pengalaman baru, dan mungkin penghasilan yang lebih baik demi melanjutkan cicilan Vario 150. Ternyata saya salah.
Terlalu nekat, bikin hidup menderita
Pekerjaan itu tidak seperti yang saya bayangkan. Banyak hal yang tidak saya pahami. Tekanannya berbeda. Cara kerjanya juga jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Dan jujur saja, saya tidak siap.
Hanya dalam waktu 17 hari, saya memutuskan untuk berhenti. Iya. Tujuh belas hari!
Angka yang, kalau saya renungkan sekarang, bahkan belum cukup untuk benar-benar mengerti pekerjaan itu. Tapi waktu itu, saya sudah merasa cukup.
Hari terakhir saya bekerja, saya pulang ke rumah dengan Vario 150 itu. Perjalanan sekitar tiga jam. Dan sepanjang jalan, saya lebih banyak melamun.
Di atas jok Vario 150, saya berkendara sendirian. Hanya suara mesin motor, angin jalanan, dan pikiran saya sendiri yang tidak berhenti. Berputar antara gimana caranya membayar cicilan Vario 150, hidup kok makin nggak jelas, dan menyesali sudah mengambil keputusan terlalu terburu-buru.
Merasakan takut di atas jok Vario 150
Di atas jok Vario 150, saya tidak menangis keras. Tapi beberapa kali, mata saya terasa panas. Saya sempat menepi sebentar. Saya menarik napas, mencoba menenangkan diri, lalu lanjut lagi.
Di momen itu, saya sadar satu hal yang sederhana tapi cukup menakutkan.
Saya takut.
Bukan takut jatuh di jalan atau kecelakaan. Tapi takut tidak bisa bertanggung jawab dengan pilihan saya sendiri. Termasuk perkara cicilan Vario 150.
Motor Honda satu ini tetap jalan seperti biasa. Stabil. Tidak ada masalah. Seolah-olah tidak peduli saya lagi kacau seperti apa. Dan mungkin justru itu yang bikin saya terus jalan juga.
Sampai di rumah, saya bersikap seperti biasa. Istirahat, diam, tidak banyak bicara. Besoknya, saya bilang ke ibu kalau saya sudah tidak bekerja lagi.
Saya tidak menangis. Kalau mengingatnya lagi, mungkin itu salah satu momen paling hancur yang pernah saya rasakan.
Ibu saya tidak marah. Tidak banyak bertanya. Dia cuma bilang pelan, “Nggak apa-apa. Nanti juga dapat kerja lagi.” Kalimat sederhana yang, entah kenapa, waktu itu terasa cukup untuk bikin saya bertahan satu hari lagi.
Kasih ibu untuk sebuah motor Honda
Beberapa hari setelah itu, saya masih belum dapat pekerjaan. Sudah coba ke sana-sini, daftar ini itu, tanya teman, cari lowongan, tapi belum ada hasil. Sementara itu, waktu terus jalan. Dan seperti biasa, gimana caranya membayar cicilan Vario 150 bikin saya takut.
Setiap kali ingat tanggal jatuh tempo, rasanya seperti ada yang mengganjal di kepala. Tidak besar, tapi cukup untuk bikin tidak tenang. Sampai akhirnya, di akhir bulan, ibu saya memberikan uang tunai satu juta rupiah.
Katanya, “Ini buat bayar cicilan motor kamu.”
Padahal sebenarnya saya masih punya uang untuk membayar. Tapi waktu itu, saya tidak langsung menjawab. Saya cuma diam. Rasanya campur aduk.
Malu, karena harus dibantu ibu. Sedih, karena merasa belum bisa benar-benar bertanggung jawab atas keputusan kredit Vario 150. Dan terharu, karena di kondisi seperti itu, ibu saya masih memikirkan saya.
Kasih ibu yang mengubah segalanya
Saat itu, Vario 150 terparkir di depan rumah. Parkir seperti biasa. Tapi di momen itu, entah kenapa rasanya berbeda.
Seolah-olah, motor Honda itu ikut jadi saksi betapa saya waktu itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Seolah-olah semua perjalanan, semua pikiran, semua rasa takut yang saya bawa di jalan waktu itu, berhenti di titik itu. Setelah itu, pelan-pelan, semuanya mulai bergerak lagi.
Saya akhirnya mendapat pekerjaan. Tidak sebaik yang sebelumnya, tapi cukup untuk kembali berdiri. Lokasinya di Piyungan, Bantul. Saya memutuskan untuk pulang-pergi setiap hari naik Vario 150.
Capek? Jelas.
Perjalanan yang tidak dekat, ditambah kondisi fisik yang kadang sudah lelah dari kerjaan. Tapi saya tetap jalan. Setiap hari. Pagi berangkat, sore atau malam pulang. Dan lagi-lagi, Vario 150 itu menemani usaha saya.
Di situ saya mulai merasa, hidup ini mungkin memang tidak selalu sesuai rencana. Tapi selama masih bisa jalan, ya jalani saja dulu. Saya sempat pindah kerja lagi setelah beberapa bulan. Mencari yang lebih baik, baik dari segi gaji maupun lingkungan kerja. Dan dari situ, pelan-pelan semuanya mulai terasa lebih stabil.
Tidak langsung mudah. Tidak juga langsung lega. Tapi setidaknya, saya sudah tidak lagi merasa “jatuh” seperti sebelumnya. Dan yang paling penting, saya tetap membayar cicilan Vario 150.
BACA JUGA: Tips Mengendarai Honda Vario 150 Biar Efisien Waktu dan Bensin: Studi Kasus Rute Jogja-Klaten
Wujud tanggung jawab dan kejatuhan ketika berusaha
Sampai akhirnya, Vario 150 itu benar-benar lunas.
Sekarang, setiap saya melihat motor Honda itu di teras rumah, rasanya tidak lagi sama seperti dulu. Bukan cuma soal punya kendaraan sendiri. Tapi lebih ke mengingat semua yang pernah kami lewati bersama.
Karena di balik cicilan motor Honda yang tiap bulan saya bayar, ternyata ada banyak hal yang ikut berjalan. Ada rasa takut, tanggung jawab, tangis yang mungkin tidak pernah terlihat.
Dan mungkin, dari situ saya baru benar-benar paham bahwa punya sesuatu dengan cara nyicil bukan cuma soal mampu membeli, tapi juga soal mampu bertahan. Terima kasih, Vario 150.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.














