MOJOK.CO – Supra Fit adalah motor pertama saya. Awalnya, motor Honda ini bikin kecewa. Namun, ia justru yang paling berjasa dalam hidup saya.
Jujur, kalau boleh memilih, saya tidak pernah memimpikan punya sepeda motor bernama Supra Fit. Bahkan, ketika kali melihat motor Honda tersebut, reaksi saya lebih ke kecewa, bukan bahagia. Namun, anehnya, justru motor aneh ini yang paling berjasa dalam hidup saya.
Kisah saya dan Supra Fit berawal pada 2012. Saat itu, saya baru lulus SMP dan bersiap masuk SMK. Waktu itu, satu hal yang jadi masalah utama bukan jurusan atau sekolahnya. Masalah yang saya hadapi adalah cara saya sampai ke sekolah.
Jadi, saya tinggal di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Satu hal yang lebih menyulitkan selain jarak adalah hampir tidak ada angkutan umum. Jalan kaki jelas bukan pilihan. Mau tidak mau, saya membutuhkan kendaraan pribadi.
Nah, di rumah, sebenarnya sudah ada sepeda motor. Kakak laki-laki saya punya Yamaha Jupiter Z warna oranye yang, menurut saya waktu itu, ganteng banget. Motor Yamaha itu terawat dengan baik, kencang, dan terlihat “anak muda sekali”. Saya sering diam-diam berharap bisa memakainya. Tapi tentu saja, itu cuma harapan.
Motor itu milik kakak saya dan hasil kerja kerasnya sendiri. Bahkan sampai sekarang, kakak saya masih sayang sama Jupiter oranye itu.
BACA JUGA: 3 Keistimewaan Honda Supra Fit 100 cc yang Bikin Saya Betah Memakainya
Munculnya ide membeli Supra Fit, motor Honda yang sudah pasti bekas
Akhirnya, orang tua saya mengambil jalan tengah. Mereka meminta bantuan kakak ipar saya di Jakarta untuk mencarikan yang bekas saja dengan harga terjangkau. Nggak banyak syarat, yang penting bisa saya pakai sehari-hari dan harganya masuk akal. Syarat yang sangat mudah. Yah, mengingat keterbatasan biaya jadi saya maklum.
Masalahnya, kedua orang tua saya tidak mau memberi informasi terkait sepeda motor itu. Entah itu jenisnya apa, tahun, bahkan warnanya seperti apa saya tidak tahu. Semuanya misteri.
Ada satu kalimat dari ibu yang sampai sekarang masih saya ingat:
“Motor kamu nanti nggak sebagus kakakmu, ya. Dia beli sendiri. Nanti kalau kamu sudah kerja, kamu juga bisa beli sendiri.”
Waktu itu saya cuma mengangguk. Jujur saja, sebagai anak SMP, saya kesulitan mencerna kalimat dari ibu. Yah, saat itu, saya hanya mengiranya sebagai kalimat penenang biasa.
Sampai akhirnya Supra Fit itu datang. Dan di situlah, semua ekspektasi saya runtuh pelan-pelan.
Baca halaman selanjutnya: Gak bikin bangga, tapi juga tidak mengecewakan.














