Motor Honda yang bikin saya hampir menangis
Motor itu adalah Supra Fit. Warnanya silver. Sudah cukup tua. Dan, kalau boleh jujur, sama sekali tidak terlihat keren. Saat teman-teman saya mulai pakai motor matik yang lebih modern, saya justru dapat motor bebek yang, menurut standar remaja saat itu, sudah ketinggalan zaman.
Saya hampir menangis. Tapi lagi-lagi, saya tahan. Ibu saya kembali bilang hal yang sama:
“Nanti kalau kamu sudah kerja, kamu bisa beli sendiri yang kamu mau.”
Akhirnya, dengan setengah terpaksa, saya menerima motor itu. Saya memakai Supra Fit tua itu untuk berangkat sekolah, sesuai rencana awal. Dan di situlah semuanya mulai berubah.
Supra Fit yang seakan bisa memahami pemiliknya
Pelan-pelan, saya mulai mengenal Supra Fit ini lebih dekat. Ternyata, di balik tampilannya yang biasa saja, ada banyak hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Motor Honda ini ringan. Sangat ringan.
Di sekolah, saya sering melihat teman-teman kesulitan menggeser motor mereka, terutama yang matik seperti Vario. Sementara saya? Bisa dengan santai memindahkan Supra Fit sendirian tanpa drama.
Mungkin itu hal kecil. Namun, saya merasa motor ini seakan hadir karena saya memang membutuhkannya, bukan sekadar “ingin saja”. Sudah begitu, motor Honda ini irit banget.
Saya sering membandingkan dengan Yamaha Jupiter Z milik kakak saya. Walaupun lebih keren dan terasa lebih bertenaga, konsumsi bensinnya jelas lebih boros. Sementara Supra Fit ini seperti tidak pernah rewel soal bahan bakar.
Dan di titik itu saya mulai paham satu hal sederhana. Tidak semua yang terlihat “biasa” itu benar-benar biasa.
Bersama melalui banyak cobaan
Saya pakai motor itu selama masa sekolah. Kehujanan? Sudah biasa. Kepanasan di jalan? Apalagi. Mogok? Pernah. Kehabisan bensin? Jelas. Bahkan pernah juga mengalami kecelakaan kecil.
Semua saya lalui bersama motor Honda itu. Dan anehnya, saya tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Bahkan setelah lulus sekolah dan mulai bekerja, saya masih memakai Supra Fit tua itu. Sampai akhirnya saya berada di titik di mana saya sudah punya cukup uang untuk membeli motor baru.
BACA JUGA: Honda Supra Fit X: Motor Termahal di Dunia, Motor Perjuangan Bersama Almarhum Bapak
Supra Fit mengajari saya soal penerimaan dalam kehidupan
Waktu itu, ibu saya ikut membantu menambah DP. Persis seperti yang dulu dia bilang. Dan di situ saya baru benar-benar mengerti maksud kalimatnya dulu.
Motor pertama saya memang tidak keren. Tidak sesuai keinginan. Bahkan sempat membuat saya kecewa. Tapi justru dari situlah saya belajar banyak hal. Khususnya tentang menerima, tentang bertahan, dan menghargai proses.
Karena kalau saya pikir lagi, tanpa Supra Fit itu, mungkin saya tidak akan bisa berangkat sekolah setiap hari. Saya tidak akan punya pengalaman jatuh bangun di jalan. Dan mungkin juga tidak akan sampai di titik saya sekarang.
Jadi kalau ada yang bertanya, apakah Supra Fit itu motor impian saya?
Jelas bukan.
Tapi kalau ditanya, apakah itu motor paling berjasa dalam hidup saya?
Jawabannya: iya.
Dan mungkin, kadang kita memang butuh sesuatu yang “nggak kita inginkan” di awal… untuk mengantar kita ke tempat yang sebenarnya kita butuhkan.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Nestapa Pengguna Honda Supra Fit 2007 dan kisah kebanggaan lainnya di rubrik OTOMOJOK.














