MOJOK.CO – Honda Revo warna biru itu menjadi saksi kerasnya hidup penagih utang. Saya melihat, menjalani, dan saya sungguh tak kuat.
Saya masih ingat, itu tahun 2018. Tahun ketika saya merasa bosan dengan pekerjaan saya. Jadi, sudah tiga tahun saya bekerja sebagai pelayan restoran di Jogja dengan gaji UMR.
Sebetulnya, gaji tersebut cukup lumayan untuk ukuran anak muda. Namun, saya memutuskan untuk resign. Saya ingin mencari pengalaman baru.
Beberapa waktu kemudian, sebuah koperasi di Purworejo menerima saya sebagai kolektor. Jujur saja, saya sama sekali tidak paham dunia kolektor.
Pikiran saya sederhana. Saya tinggal mengambil uang dari nasabah, tidak perlu mencari nasabah baru, dan tidak perlu menjual sesuatu. Ya tinggal ambil uang. Sesederhana itu. Dan bodohnya, saya tidak riset sama sekali.
BACA JUGA: Motor Honda Revo Memang Mengenaskan, Ia bukan Motor, tapi Simbol Kemiskinan Umat Manusia
Fasilitas kantor bernama Honda Revo
Setelah hari terakhir bekerja di restoran, saya langsung pulang ke Gunungkidul naik Vario kesayangan. Saya membawa pakaian, beberapa barang pribadi, dan perasaan optimistis yang ternyata terlalu polos untuk dunia kolektor.
Sesampainya di Purworejo, koperasi itu menempatkan saya di sebuah rumah kontrakan bersama pegawai lain. Dua sampai tiga orang mengisi satu kamar. Lemari pakaian seadanya. Kasur seadanya. Tapi makan ditanggung kantor karena ada orang yang khusus memasak untuk kami.
Nah, kantor memberi saya satu motor operasional, yaitu Honda Revo warna biru. Sebuah motor yang tidak akan pernah saya lupakan.
Tarikannya ringan, mesinnya enak, dan terasa sangat siap saya pakai perang. Kehujanan tidak rewel, untuk jarak jauh tidak gampang panas. Saya juga melihat Honda Revo kantor ini rutin ganti oli dan cukup terawat. Buat orang lapangan seperti kolektor, Honda Revo memang terasa seperti motor yang lahir untuk bekerja keras.
Kebodohan ketika menerima pekerjaan
Tadi saya sudah mengaku kalau tidak melakukan riset sebelum menerima tawaran bekerja sebagai kolektor. Setelah masuk, saya baru sadar bahwa “mengambil uang” ternyata artinya menagih utang naik Honda Revo. Ini jauh berbeda dengan bayangan saya sebelumnya.
Lucunya, sebelum benar-benar mulai bekerja, saya sempat menerima telepon dari rumah. Saya ngobrol dengan bapak, kakak, dan ibu. Lalu ada satu kalimat yang masih saya ingat sampai sekarang.
“Mau aku krungu, neng Duwur Rubuh ono mayit. Jarene kui mayit bank plecit.”
Artinya: ”Tadi aku dengar di Duwur Rubuh ada mayat. Katanya mayat itu kolektor koperasi.”
Anehnya, waktu itu saya bisa-bisanya nggak kepikiran kalau cerita itu menyeramkan. Sebesar itu risiko jadi penagih utang. Lha wong saya bahkan belum benar-benar memahami pekerjaan baru yang akan saya jalani bersama Honda Revo biru itu.
Baca halaman selanjutnya: Motor perjuangan, saksi mata beratnya kehidupan penagih utang














