Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
31 Juli 2026
A A
jadi bridesmaid usai cut off di pernikahan mantan sahabat. MOJOK.CO

ilustrasi - jadi bridesmaid dalam pernikahan eks sahabat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pernikahan seorang sahabat seharusnya menjadi momen membahagiakan, yang membuat haru orang-orang di sekitarnya. Namun bagi saya, yang baru saja di cut off alias telah memutus hubungan komunikasi pertemanan, kabar itu justru menjadi tanda tanya. Terutama saat eks sahabat saya itu meminta saya sebagai bridesmaid. 

Permintaan bridesmaid usai tragedi cut off 

Pengiring pengantin atau bridesmaid kini menjadi tren dalam pesta pernikahan. Dalam sejarahnya, tradisi ini berasal dari kepercayaan Romawi kuno. Penelitian berjudul “Fashion Styles and Aesthetic Values Represented in Bridesmaid Dresses” menyebut, baju yang dikenakan bridesmaid berfungsi mengelabui roh jahat yang bermaksud mengganggu pengantin asli. 

Sementara di Indonesia, pengiring pengantin lebih akrab dikenal sebagai pagar ayu. Umumnya, mereka adalah kerabat dekat yang mendampingi pengantin. Seiring berjalannya waktu, tak sedikit pengantin yang menunjuk sahabat terdekat mereka sebagai bridesmaid. 

Ketika eks sahabat saya meminta saya menjadi bridesmaid dalam pernikahannya, saya kebingungan. Selain karena tidak punya pengalaman, saya tidak tahu tugas spesifik apa yang harus saya lakukan untuk membantu pengantin wanita. 

Apalagi, hubungan saya dengannya sebenarnya sudah selesai alias cut off. Setelah berbulan-bulan lamanya tidak mengirimkan kabar, saya mendapat informasi dari salah satu teman bahwa dirinya akan menikah.

Awalnya saya kecewa karena tidak dikabari secara langsung, tapi saya teringat, bukankah hubungan kami memang sudah selesai? Saya pun tidak mencoba berkomunikasi lagi dengannya. Beberapa minggu kemudian, eks sahabat saya ini akhirnya mengirim pesan.

“Aku bulan Juli menikah, kamu aku jadikan bridesmaid. Beri aku kepastian, bisa atau nggak?” ucapnya.

Ternyata jadi bridesmaid bukan berarti kita spesial

Bohong jika saya tidak terharu dengan pesan singkat siang itu. Seberapa buruknya hubungan persahabatan kami, tentu sudah banyak suka duka yang kami lewati hingga ajakannya itu terdengar tulus di telinga saya.

Bagaimana saya tidak berharap, dalam artikel populer yang saya baca, bridesmaid adalah simbol kekuatan dari persahabatan. Jadi, apakah itu artinya eks sahabat saya ini ingin memperbaiki hubungan? 

Saya tidak tahu. Yang jelas, saya tidak bisa menjawab permintaannya secara langsung. Saya takut, dia lagi-lagi kecewa karena saya tidak cukup membantunya terutama dari segi dukungan emosional. 

Saya akhirnya mengatakan kondisi saya apa adanya, bahwa saya hanya bisa membantu di hari H, karena posisi kami sama-sama di luar kota. Setelah sepakat, dia pun memasukkan saya ke grup koordinasi. Beberapa anggotanya saya kenal, tapi beberapa lainnya tidak.

Dari sana saya paham, ah mungkin menjadi bridesmaid di momen pernikahan dia sebenarnya bukan simbol persahabatan yang terlalu spesial. Sebab yang saya rasa, dia hanya membutuhkan bantuan di hari pernikahannya nanti.

Karena sudah tidak bisa mundur, saya pun berusaha menghadapi segala drama ke depannya. 

Mengeluarkan biaya yang tidak sedikit

Pra acara pernikahan, saya memang tidak direcoki untuk mengurus segala persiapannya seperti memilih gaun pengantin, mencari vendor, atau melakukan pesta lepas lajang. Dia hanya memberikan saya sebuah kain yang senada dengan gaun pernikahannya nanti.

Iklan

Di situlah saya baru tahu, untuk menjadi bridesmaid saja, dalam artian, bukan orang yang nduwe gawe (punya hajat), saya harus rela mengeluarkan banyak uang. Mulai dari menjahitkan baju, membeli kerudung dan sepatu heels yang senada, menyewa MUA, membeli tiket transportasi luar kota, hingga memberi amplop.

Jika ditotal, biaya yang saya keluarkan sekitar Rp1.500.000. Jika disandingkan dengan biaya pernikahan dia memang tidak apple to apple. Saya hanya bingung, kenapa saya rela mengeluarkan uang tersebut hanya untuk tampil cantik dan pamer di media sosial, seolah-olah hubungan kami masih baik-baik saja. Bukankah kami sudah sepakat cut off?

Bertemu dengan kondisi yang canggung

Lagi-lagi, karena sudah tidak bisa mundur, saya pun harus melanjutkannya. Tidak masalah lah mengeluarkan uang segitu, toh itu momen paling bahagia dalam hidupnya. Namun yang sungguh saya sesali ke depannya adalah, waktu, tenaga, dan mental yang harus saya sediakan untuk menghadapi eks sahabat saya ini kembali. 

Sebelum hari H pernikahan, dia mengirim sekitar 25 pesan panjang-panjang berisi keluh kesahnya tentang persiapan pernikahan. Awalnya, saya masih bisa menjawab pesannya satu-satu sampai akhirnya saya ketiduran dan dia kembali marah. 

Jujur saja, peristiwa itu membuat saya bernostalgia. Lagi-lagi soal komunikasi dan kepribadian kami yang berujung cut off. Dari situ saya paham, hubungan kami mestinya benar-benar usai. Sialnya, saya tidak bisa mengundurkan diri menjadi bridesmaid. 

Selain biaya yang sudah saya keluarkan, waktunya juga semakin dekat. Anehnya, saat H-1 sebelum pernikahan, kami bisa bertemu hahahihi seperti biasa walaupun terlihat canggung. 

Bridesmaid adalah peran yang tak berguna

Alih-alih mendampingi pengantin wanita H-1 sebelum pernikahan, saya justru sibuk berkenalan dengan bridesmaid lain agar kerja sama kami nanti berjalan lancar. Eks sahabat saya sudah membagi tugas kami masing-masing, tapi tak semua bridesmaid hadir, sehingga di hari H, semuanya berjalan agak rancu.

Misalnya, bridesmaid yang mestinya sudah bangun pukul 04.00 WIB untuk make up dan bersiap-siap menata tempat akad, justru tampak grusa-grusu mendandani diri mereka sendiri. Sehingga saya yang sudah siap dari tadi justru harus mempersiapkan tugas-tugas yang mestinya dikerjakan bridesmaid lain.

Sedangkan, tugas utama saya seharusnya adalah menjaga souvenir dari siang sampai malam. Jujur saya agak kesal karena dari 10 bridesmaid yang eks sahabat saya undang, hanya beberapa orang yang memang sat set. 

Tak berhenti sampai di situ, meski saya kenal dengan orang tua eks sahabat saya, bukan berarti saya juga akrab dengan semua keluarga besarnya. Saya sempat beradu argumen dengan bibi-bibinya yang ternyata juga ditugasi menjaga souvenir. 

Pengalaman ini membuat saya sadar, bridesmaid sungguh peran yang tidak berguna dalam pernikahan. Di balik kebaya seragam cantik yang kami kenakan, peran ini seringkali hanya untuk mencari tenaga tambahan gratis.

Secara pribadi, alih-alih memperbaiki hubungan pertemanan kami yang sudah kandas (cut off), saya justru kembali menelan pil pahit dengan mengorbankan materi, waktu, tenaga, hingga kewarasan mental akibat drama masa lalu yang terulang.

Penulis: Aisyah Amira Wakang 

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: 10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: bridesmaidcut offcut off pertemananpagar ayupengiring pengantinpernikahanpernikahan sahabat
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

cut off pertemanan. MOJOK.CO
Catatan

10 Tahun Persahabatan Berujung Cut Off Mengajari Saya Satu Hal: Kita Bukan Jahat, tapi Memang Sudah Tak Sejalan

31 Juli 2026
5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita MOJOK.CO
Sehari-hari

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita

6 Mei 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.