Niat awalnya ingin melepas penat setelah seminggu dihajar deadline pekerjaan. Dika (31), seorang karyawan swasta di Jogja, akhirnya berhasil mencocokkan jadwal dengan tiga teman kuliahnya untuk sekadar mengopi di akhir pekan.
Namun, alih-alih pulang dengan pikiran segar, Dika justru merasa makin lelah. Tongkrongan yang dulu diisi dengan candaan receh dan obrolan asyik, kini berubah seratus delapan puluh derajat menjadi ajang adu nasib.
Misalnya, saat Dika bercerita soal atasannya yang memaksanya lembur tanpa upah, temannya langsung memotong.
“Kamu masih mending cuma ketemu bos bawel. Lah aku udah pusing mikirin cicilan KPR,” ujar Dika, mengulang kata-kata salah satu temannya yang sudah menikah, Rabu (6/5/2026).
Bahkan, teman yang lain ikut menimpali dengan masalah lain. Seperti utang pinjol saudaranya yang harus ditanggung temannya itu, hingga masalah dengan istri yang tak kunjung kelar.
Pendeknya, obrolan di malam itu cuma berputar-putar di urusan “adu nasib”. Siapa yang beban hidupnya paling berat, seolah dialah pemenangnya.
“Jujur, pertemanan di usia segini kadang memuakkan banget. Kita keluar rumah cari hiburan, tapi yang didapat malah beban pikiran baru. Semuanya adu nasib, jarang yang mau dengerin keluhan orang lain sampai selesai,” keluh Dika.
Pertemanan yang asyik itu memang mentok di usia 25
Mendengar cerita Dika, saya yang baru menginjak usia 28 tahun ini hanya bisa mengangguk. Meskipun belum memasuki usia 30, saya sudah relate dengan masalah yang ia ceritakan.
Dulu, di awal-awal masih kuliah saat usia kita mungkin belum genap 20 tahun, nongkrong bareng teman masih asyik-asyik saja.
Tak cuma itu, di awal usia 20-an dulu, tiap akhir pekan sudah pasti menjadi waktu rutin buat nongkrong. Sekarang? Grup WhatsApp tongkrongan sudah sepi, teman-teman mulai susah diajak kumpul. Mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing.
Namun, hal ini merupakan sesuatu yang wajar. Sebuah riset gabungan dari Aalto University dan Oxford University, pernah melacak riwayat komunikasi orang-orang. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah teman manusia memang mencapai puncaknya persis di usia 25 tahun.
Setelah melewati angka itu, grafik pertemanan kita menukik tajam. Teman kita rontok satu per satu.
Lantas, mengapa kalau kumpul isinya cuma keluhan dan adu nasib? Ada penjelasan rasionalnya. Para ahli sosiologi menyebut fenomena ini sebagai dampak dari “competing demands”.
Bisanya, memasuki usia akhir 20-an dan awal 30-an, kepala kita sudah penuh dengan realitas kehidupan. Ada yang memikirkan kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, sampai tuntutan keluarga.
Energi seseorang sudah habis buat memikirkan beban itu. Alhasil, ketika akhirnya nongkrong bareng teman, sisa energi yang ada memang secara alamiah hanya bisa dipakai untuk sambat alias mengeluh alias adu nasib.
Di usia 30-an, teman datang kalau ada maunya saja
Selain adu nasib, ada hal lain yang membuat pertemanan usia dewasa terasa berat. Hal ini dialami oleh Maya (32). Kalau Dika muak dengan ajang adu nasib, Maya lebih muak dengan sifat transaksional teman-temannya.
Maya bercerita, banyak temannya yang dulu sangat akrab, kini hanya muncul ketika ada maunya.
Ada yang tiba-tiba mengirim pesan hanya untuk meminjam uang atau meminta bantuan mencari pekerjaan. Namun, saat tahun lalu Maya sempat masuk rumah sakit karena tipes dan harus istirahat total, grup tongkrongannya mendadak sepi.
Tidak ada yang datang menjenguk, bahkan sekadar bertanya kabar pun hanya satu atau dua orang.
“Di situ rasanya kecewa banget. Kita sadar kalau banyak teman yang ternyata cuma menganggap kita ada saat kondisi kita lagi menguntungkan buat mereka,” kata Maya, Rabu (6/5/2026).
Sejak saat itu, Maya mulai menjaga jarak. Ia tidak lagi memaksakan diri membalas pesan di grup yang dirasa tidak penting dan berhenti ikut kumpul-kumpul yang cuma buang uang.
Pertemanan usia 30-an memang bikin muak, tapi bisa menunjukkan mana teman yang tulus
Proses pilah-pilih teman di usia 30-an, memang menyakitkan dan memuakkan. Kita dipaksa melihat realitas bahwa orang yang dulu sering tertawa bersama kita, ternyata bisa berubah menjadi orang asing.
Namun, bagi Maya, dari sinilah hikmah terbesarnya. Setelah semua drama adu nasib dan teman yang datang saat butuh saja, ia akhirnya bisa melihat dengan sangat jernih siapa teman kita yang sebenarnya.
Bagi Maya, dari puluhan teman kuliah dan teman kantornya, kini hanya tersisa dua orang yang benar-benar ia anggap sahabat.
“Mereka nggak pernah datang cuma pas butuh duit. Dan yang paling penting, kalau aku lagi nangis ceritain masalahku, mereka cuma duduk diam dan dengerin. Nggak ada tuh keluar kalimat ‘lu mah mending, lah gue’. Mereka cuma nemenin,” ucap Maya.
Misalnya, ada fase ketika hidupnya hancur setelah ditinggal ibu yang meninggal pad 2024 lalu, Maya tahu mana teman yang benar-benar hadir dan mana yang cuma sekadar “formalitas”.
Saat mentalnya remuk, ia tahu mana teman yang bisa menguatkan, dan mana teman yang malah adu nasib.
Pada akhirnya, bagi Maya, pertemanan di usia 30-an memang seringkali terasa memuakkan. Namun, ironisnya, di titik paling melelahkan inilah wujud ketulusan jadi sangat terlihat.
“Usia 30-an itu, teman yang tulus bukan lagi mereka yang basi-basi ngajakin nongkrong di kafe. Tapi mereka yang mau meluangkan sisa energinya yang sudah habis, sekadar untuk duduk menemani kita mengeluh tanpa berniat menghakimi.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














