Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Melarisi Pedagang Lansia Sepi Pembeli meski Tak Selera: Harga Recehan Tak bikin Saya Rugi tapi Bagi Mereka Sangat Berarti

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Mei 2026
A A
In this economy, melarisi pedagang lansia yang lapaknya sepi tidak bikin kita rugi MOJOK.CO

Ilustrasi - In this economy, melarisi pedagang lansia yang lapaknya sepi tidak bikin kita rugi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski tidak benar-benar selera, di masa-masa sekarang membeli makanan atau jajanan dari pedagang yang lapaknya sepi, apalagi jika pedagangnya lansia, ternyata tidak merugikan diri sendiri. Kita hanya merogoh recehan, sementara para pedagang itu sedang menghapus air matanya diam-diam. 

***

Sudah sejak SMA di Kabupaten Semarang hingga kuliah bekerja di Jogja, Ihza (25), perempuan pekerja kreatif itu punya kecenderungan membeli makanan atau jajanan dari pedagang yang lapaknya sepi atau bahkan lansia. 

Kebiasaan itu ia tiru dari sang ibu. Sebab, di daerah asalnya di Kabupaten Semarang, ibunya kerap tanpa pikir panjang untuk melarisi—terutama pedagang lansia. 

“Mbah-mbah ini sepi, nggak ada yang beli. Kalau kita berpikiran sama kayak kebanyakan orang alias nggak melarisi, nanti beliau pulang nggak bawa apa-apa buat kebutuhan hidup,” begitu tutur sang ibu suatu kali, yang masih diingat jelas oleh Ihza. 

“Akhirnya aku jadi selalu sentimentil tiap lihat lansia tapi masih kerja, masih jualan. Aku pasti teringat simbahku di rumah, sudah lansia dan memang tinggal menikmati waktu di rumah. Tapi di jalan, banyak mbah-mbah usia 70-an tahun lebih, dengan tubuh bungkuk, jalan tertatih-tatih, masih harus jualan,” ungkap Ihza, Senin (18/5/2026). 

Perihal indikator enak dari ramai atau sepinya orang jualan

Semasa kuliah, kebiasaan Ihza jajan dari pedagang sepi atau lansia dianggap “agak lain” oleh sejumlah temannya. Alih-alih mengikuti selera teman-temannya, Ihza justru lebih semangat jajan kalau lihat pedagang pentol, gorengan, bakso, atau es potong jadul dari pedagang lansia yang jelas-jelas tampak sepi pembeli. 

Beberapa teman mahasiswi Ihza memang cenderung pemilih. Mereka jelas lebih memilih lapak-lapak yang direkomendasikan karena terkenal nikmat.

Kalau tidak, ya membeli dari lapak-lapak yang tampak ramai. Karena sudah menjadi indikator umum: Lapak ramai, berarti memang enak. Sementara kalau sepi, anggapan mereka sudah pasti karena memang tidak enak. 

“Ya memang, kadang ada (pedagang sepi atau lansia) yang, mohon maaf, produk jualannya nggak seberapa enak. Tapi banyak juga yang enak kok. Murah juga,” tutur Ihza. 

Tapi sebenarnya, melarisi mereka bukan perkara enak atau tidak enak. Itu lah kenapa belakangan ini Ihza merasa sangat terharu. Pasalnya, ia mendapati banyak konten di media sosial berisi semacam campaign: Di tengah situasi ekonomi seperti sekarang, melarisi pedagang yang lapaknya sepi atau lansia ternyata begitu bermakna. Bukan semata bagi kita, tapi bagi mereka. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh erwin (@exploregunungkidul)

Iklan

Pedagang lansia jualan bukan untuk kaya, recehan sangat berharga 

Ada seorang kepala negara yang baru-baru ini pidato: Rakyat Indonesia tidak punya mimpi menjadi orang kaya. 

Bagi Ihza, memang ada benarnya. Sejauh pengalamannya bersinggungan dengan para pedagang lansia yang lapaknya sepi, mereka tetap jualan hingga usia 70-an tahun lebih bukan karena mengejar kaya. Tetapi sekadar untuk bertahan hidup sehari-hari. 

“Kepala negara udah memastikan nggak akan bikin mereka kaya. Mereka cuma butuh makan, cuma mode bertahan. Barangkali mereka juga punya tanggung jawab di rumah, entah pasangan (suami/istri) atau cucu. Kalau kepala negara udah nggak bisa diharapkan, yang bisa dilakukan cuma saling tolong sesama sipil,” beber Ihza dengan suara bergetar. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Review by Neng Meyess | Food & Kuliner 🍜📍 (@nengsukamakan_)

Sejauh pengalaman Ihza, para pedagang lansia yang lapaknya sepi seringkali memberi harga murah untuk dagangannya. Jelas lebih murah dari lapak-lapak langganan teman-temannya yang ramai pembeli. Dengan kata lain, para pedagang lansia itu sebenarnya hanya butuh “recehan”. “Kita bisa membeli di lapak lain dengan harga lebih mahal tanpa mikir. Maka, uang recehan buat beli di lapak lansia yang sepi pembeli, nggak bikin aku rugi kok,” ucap Ihza. 

Justru, lanjut Ihza, uang yang kita keluarkan memang hanya recehan. Namun, bagi para pedagang itu, uang recehan itu ibarat harta karun. 

Itu lah kenapa, amat sering Ihza menemui situasi: Ketika ia membeli pedagang lansia yang sepi pembeli, sontak saja si pedagang langsung melayani dengan penuh antusias, senyum mengembang di wajahnya dari yang semula murung. 

“Tahu nggak, aku pernah ya, lihat pedagang lansia yang waktu lapaknya sepi, diam-diam beliaunya nangis. Air matanya netes, tapi nggak ada suaranya. Pas aku datang buat beli, air mata itu langsung dihapus, berubah jadi senyum sumringah,” ujar Ihza. 

Dagangan pedagang lansia yang lapaknya sepi mungkin tidak sesuai selera, tapi tidak ada ruginya

“Ya memang murah, tapi nggak enak, nggak sesuai selera.” Kalimat semacam itu pernah Ihza dengar dari salah satu temannya. 

Perkara rasa yang tidak sesuai, memang ada yang begitu adanya. Hanya saja, sebenarnya tidak bikin rugi-rugi amat, setidaknya bagi Ihza sendiri. 

Pasalnya, ketika Ihza tidak selera pada apa yang ia beli, pilihannya adalah membagikan pembelian tersebut kepada orang lain. 

“Misalnya, bisa kuberi ke pacarku. Atau ada juga kok teman kosku yang suka makan tanpa rewel. Enak nggak enak, tetap dilahap. Dan itu nggak ada ruginya buatku, Karena belinya juga murah,” kata Ihza. 

Uang receh yang sangat berharga buat uang biaya sekolah anak

Saya mengamini apa kata Ihza: Betapa uang recehan amat sangat berharga bagi pedagang-pedagang seperti itu. 

Pada Januari 2026 lalu, saat dalam perjalanan dari Rembang ke Jogja, saya berhenti di sebuah Indomaret di daerah Semarang atas. 

Tidak lama dari saya duduk, ada seorang ibu-ibu penjual jamu menghampiri. Menawarkan botol jamu beras kencur ke sebuah mobil yang terparkir dan orang-orang yang duduk di kursi depan Indomaret. Tidak ada yang tertarik. 

Lalu ia mendatangi saya yang duduk ngemper. Ibu-ibu itu bilang: Harga satu botolnya seharusnya Rp10 ribu. Tapi asal laku, ia tidak masalah jika dibeli Rp7 ribu. Saya lalu mengeluarkan uang Rp20 ribu: Membeli dua botol untuk harga aslinya (Rp10 ribu perbotol). 

“Mas, ya Allah matur nuwun. Buat anak besok bayar sekolah, Mas,” ujar si ibu.

Reaksi itu membuat saya mbrebes mili. Padahal saya membeli dengan harga asli, bukan harga yang sudah turun. Karena memang, uang berapa pun yang ia dapat, memang seberharga itu di tengah penolakan-penolakan yang ia terima saat menawarkan jamunya ke banyak orang. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Mei 2026 oleh

Tags: lansia jualanlansia kerjapedagangpedagang lansiapedagang sepi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
ilustrasi Profesi Pedagang yang Kamu Pikir Remeh Itu, Nyatanya Gudang Cuan mojok.co
Pojokan

Profesi Pedagang yang Kamu Pikir Remeh Itu, Nyatanya Gudang Cuan

22 September 2021
Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Status

Cerita Pedagang Online yang Disangka Pelakor karena Memanggil “Kakak”

7 Februari 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ujian SIM C. MOJOK.CO

Pelajaran Berharga dari Gagal Ujian SIM C Sebanyak 11 Kali: Diam Bukan Pilihan untuk Melawan Hal yang Janggal

18 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Nikah di KUA dianggap murahan. MOJOK.CO

Nikah di KUA adalah Solusi bagi Karjimut karena Gratis, tapi Keluarga Menentang Hanya karena Gengsi dan Dicap Nggak Niat

20 Mei 2026
Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
In this economy, melarisi pedagang lansia yang lapaknya sepi tidak bikin kita rugi MOJOK.CO

Melarisi Pedagang Lansia Sepi Pembeli meski Tak Selera: Harga Recehan Tak bikin Saya Rugi tapi Bagi Mereka Sangat Berarti

21 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.