Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

Wiwi Susanti oleh Wiwi Susanti
8 Mei 2026
A A
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Ilustrasi Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebagai praktisi mie ayam, penulis pusing bukan karena harga-harga bahan pokok naik, tapi harga yang pindah tempat.

Menjadi penjual mie ayam itu bukan cuma soal mahir mengocok saringan mie di dalam dandang panas atau memastikan takaran micin pas di lidah pelanggan. Lebih dari itu, ini adalah pertempuran mental yang dimulai bahkan sebelum matahari kepikiran buat bangun. Kalau orang bilang rezeki dipatok ayam, saya mah sudah standby di pasar saat ayamnya sendiri masih mengigau.

Iklan

Fenomena pindah harga bahan baku mie ayam

Rutinitas subuh saya dimulai dengan hawa dingin yang menusuk tulang, menembus jaket lungsuran yang sudah mulai tipis. Tujuan utamanya pasar. Di sana, saya menemui drama yang jauh lebih menegangkan daripada sinetron stripping mana pun: drama harga bahan baku.

Belakangan ini, saya sering garuk-garuk kepala setiap kali tanya harga sawi atau dada ayam. Para pedagang di pasar punya istilah baru yang bikin saya pengin nanya ke pakar ekonomi mana pun. Mereka nggak bilang harga naik. Mereka bilang harganya pindah.

“Bukan naik lagi, Teh, ini mah pindah harga!” celetuk Mang Dadang, langganan saya untuk urusan daging ayam.

Istilah pindah harga ini bagi saya terdengar sangat filosofis sekaligus menyakitkan. Kalau naik, biasanya ada harapan bakal turun. Tapi kalau pindah? Ya berarti dia sudah menetap di tempat baru yang lebih tinggi dan nggak mau pulang-pulang. Bayangkan, keuntungan dari semangkuk mie ayam itu tipisnya sudah kayak tisu dibagi dua.

Kalau harga ayam pindah ke atas tapi harga jual mie ayam saya tetap di situ-situ saja demi menjaga perasaan pelanggan, ya wasalam. Tapi ya mau bagaimana lagi? Jualan makanan itu soal rasa, dan rasa nggak boleh bohong gara-gara bahan yang dikurangi.

Ngopi bersama bapak, adu nasib dengan saudara

Selesai bertarung di pasar dengan belanjaan yang beratnya menguji kesabaran, saya nggak langsung pulang ke rumah untuk eksekusi dagangan. Ada satu rute wajib yang tidak boleh dilewatkan, yaitu rumah Bapak.

Mampir ke rumah Bapak adalah oase di tengah gurun pindah harga tadi. Saya biasanya bawa sarapan seadanya, entah itu bubur ayam atau nasi uduk, ditambah gorengan yang minyaknya bisa buat goreng satu kompleks. Di sana, ritual suci dimulai: ngopi bareng Bapak.

Biasanya, saudara-saudara saya yang lain juga ikutan kumpul karena memang rumahnya berdekatan. Di teras rumah Bapak inilah, “sidang paripurna” keluarga digelar. Isinya? Tentu saja saling lempar keresahan alias adu nasib.

Ada kakak saya yang curhat suaminya bikin masalah terus sampai pusing tujuh keliling. Ada adik yang mengeluh anaknya susah diatur dan lebih memilih jadi pro player ketimbang belajar. Ada juga yang jujur-jujuran bilang lagi nggak pegang duit sama sekali buat bayar kebutuhan hari ini.

Menariknya, di forum ini nggak ada yang sok jadi motivator. Nggak ada yang bilang, “Sabar ya, ini ujian,” atau “Kamu kurang bersyukur.” Kami cuma dengerin, sesekali nyeletuk kasar buat ngeledek, lalu ketawa bareng.

Kami semua sadar kalau obrolan ini nggak akan menghasilkan solusi finansial atau perubahan kebijakan negara. Tapi anehnya, setelah uneg-uneg itu keluar bersama asap kopi hitam, beban di pundak rasanya berkurang beberapa gram. 

Kami pulang dengan perasaan yang sama-sama hancur, tapi setidaknya kami tahu kalau kami nggak sendirian dalam kehancuran itu.

Iklan

Botol saus mie ayam adalah indikator kebahagiaan, tapi kadang pembeli kebangetan

Setelah urusan “kesehatan mental” selesai di rumah Bapak, barulah realitas yang sesungguhnya dimulai. Begitu sampai rumah, saya langsung berubah jadi chef merangkap kuli dan juga driver delivery.

Menyiapkan air rebusan sampai mendidih, memotong sawi dengan presisi biar nggak rugi-rugi amat tapi tetap kelihatan banyak, sampai ritual mengisi ulang botol-botol saus.

Ngomong-ngomong soal saus, bagi tukang mie ayam, botol saus adalah indikator kebahagiaan. Kalau botol saus cepat habis, artinya banyak pelanggan yang datang. Tapi ya itu, saya kadang gemas sama pelanggan yang kalau menuang saus kayak lagi mau bikin kolam renang di dalam mangkuk.

“Sausnya satu liter, mienya cuma satu porsi,” batin saya menjerit. Tapi ya sudahlah, demi pelayanan.

Jualan di depan rumah itu ada seninya. Ada saat-saat di mana saya cuma bisa duduk bengong sambil mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, sambil komat-kamit berdoa agar ada motor yang mengerem di depan kedai.

Ramai dan sepi itu memang bumbu dagang, tapi buat saya, masalahnya lebih serius: hidup saya bergantung di setiap mangkuknya. Setiap bulir mie yang masuk ke air mendidih adalah harapan untuk bayar listrik, uang jajan anak, sampai buat beli bensin motor. 

Setiap dentingan sendok dan mangkuk dari pelanggan adalah musik paling merdu yang pernah saya dengar.

Baca halaman selanjutnya

Senin dan Kamis, dua hari yang menguras air mata

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: Kulinermie ayampedagangpilihan redaksi
Wiwi Susanti

Wiwi Susanti

Praktisi Mie Ayam yang sesekali merangkap jadi kurator narasi sejarah. Punya cita-cita sederhana: artikelnya terbit di Mojok agar punya alasan untuk tidak melulu memikirkan stok kuah kaldu dan affiliate TikTok.

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO
Kuliner

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Korupsi makin parah, MUI dorong hukuman mati bagi koruptor MOJOK.CO

Kasus Korupsi di Indonesia Kian Mengkhawatirkan, MUI Dorong Hukuman Mati bagi Koruptor

28 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6 MOJOK.CO

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6

27 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.