ADVERTISEMENT

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO

Senin dan Kamis, dua hari yang menguras air mata

Kalau kebanyakan orang benci hari Senin karena harus balik kerja, saya justru harus menutup warung setiap Senin dan Kamis. Bukan karena saya malas atau sudah kaya raya, tapi karena ada tugas negara yang jauh lebih penting: mengantar suami cuci darah ke rumah sakit.

Di titik inilah, mental saya benar-benar diuji. Saat rekan sejawat sesama tukang mie ayam sedang panen pelanggan di hari kerja, saya harus bergelut dengan bau obat-obatan, antrean BPJS yang panjangnya kayak nunggu kepastian dari mantan, dan melihat suami yang harus terhubung dengan mesin selama berjam-jam.

Dilema itu nyata. Di satu sisi, saya butuh jualan setiap hari karena modal dan kebutuhan hidup terus mengejar. Di sisi lain, menemani suami adalah pengabdian yang tak bisa ditawar. Setiap kali warung libur, pendapatan otomatis nol. Padahal, kebutuhan rumah sakit dan biaya transportasi ke sana nggak bisa dibayar pakai pindah harga.

Namun, dari sinilah saya belajar tentang ketangguhan. Menjadi penjual mie ayam mengajarkan saya untuk tidak hanya jago mengaduk bumbu, tapi juga jago mengaduk emosi. 

Saya harus tetap tersenyum ramah saat melayani pelanggan yang cerewet minta porsi “kuli” harga “subsidi”, padahal di kepala saya sedang berputar jadwal cuci darah dan tagihan yang belum lunas.

Mie ayam adalam simbol perlawanan terhadap kerasnya hidup

Mungkin bagi sebagian orang, mie ayam hanyalah makanan selingan di sore hari. Tapi bagi saya, semangkuk mie ayam adalah simbol perlawanan terhadap kerasnya hidup. Ini adalah cara saya bertahan di tengah ekonomi yang makin nggak masuk akal.

Saya belajar bahwa hidup itu persis kayak proses bikin mie ayam. Harus melalui proses perebusan di air yang sangat panas dulu supaya bisa lunak dan enak dimakan. 

Harus diberi bumbu yang pas supaya nggak hambar. Dan yang paling penting, harus dinikmati pelan-pelan, meskipun kuahnya kadang bikin lidah melepuh.

Jika esok hari Anda lewat di depan warung mie ayam sederhana dan melihat penjualnya sedang sibuk menata mangkuk, ingatlah bahwa di balik setiap porsinya, ada doa-doa yang dirapalkan agar cukup untuk menyambung hidup esok hari.

Ada perjuangan melawan lelahnya pasar, ada tawa pahit di teras rumah Bapak, dan ada ketabahan luar biasa di hari Senin dan Kamis.

Bagi saya, selama kompor masih bisa menyala dan air masih bisa mendidih, harapan itu masih ada. Meskipun harga terus “pindah”, meskipun hidup kadang terasa lebih asin daripada bumbu mie ayam kebanyakan micin, saya akan tetap di sini. Mengocok mie, menuang kuah, dan berharap semoga hari ini lebih banyak mangkuk yang kosong di atas meja pelanggan.

Sebab, hidup memang bukan soal mencari solusi dari setiap obrolan ngopi di rumah Bapak, tapi soal bagaimana kita punya cukup tenaga untuk kembali ke “dandangan” masing-masing dan menghadapi hari esok dengan kepala tegak. Mari makan mie ayam, biar nggak oleng menghadapi kenyataan.

Penulis: Wiwi Susanti”
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta dan tulisan lainnya yang membahas Mi Ayam

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh .

Wiwi Susanti

Praktisi Mie Ayam yang sesekali merangkap jadi kurator narasi sejarah. Punya cita-cita sederhana: artikelnya terbit di Mojok agar punya alasan untuk tidak melulu memikirkan stok kuah kaldu dan affiliate TikTok.