Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Mei 2026
A A
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO

Ilustrasi - mie ayam wonogiri (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai orang yang tinggal di Wonogiri, saya sangat akrab dengan pemandangan gerobak mie ayam dan bakso. Nyaris setiap orang asli daerah ini yang merantau dan membuka usaha kuliner tersebut di luar kota, ujung-ujungnya selalu sukses. 

Saat mudik lebaran, mereka bisa pulang dengan membawa mobil. Bahkan, mereka bisa membangun rumah yang bagus di kampung halaman.

Bakso dibuat pagi, tiba-tiba membusuk di siang hari

Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada sebuah mitos yang telanjur diamini kuat oleh warga desa. Yang mereka percaya: mau buka usaha di mana pun, asalkan masih di Pulau Jawa, kemungkinan suksesnya sangat besar. Tapi kalau sudah nekat buka usaha sampai menyeberang laut alias ke luar Jawa, kemungkinan gagalnya justru jauh lebih tinggi.

Alasan yang paling sering saya dengar adalah soal “magis” atau keberuntungan yang katanya langsung luruh ketika melewati air laut. 

Yang paling menyebalkan, ada keyakinan bahwa pengusaha dari Wonogiri sering dijahili oleh pesaing lokal di luar pulau dengan cara-cara mistis. Karena posisi mereka sudah di luar Jawa, ilmu penangkal yang dibawa dari desa seolah tidak berdaya mengatasinya.

Salah satu cerita klenik yang cukup populer, pernah saya dengar dari seorang tetangga yang pernah buka usaha di Medan. Kata dia, gara-gara “dijahili”, bakso dan mie yang cepat busuk. 

Katanya, sering ada kejadian pedagang yang pagi-pagi bikin bakso atau mie ayam, siangnya tiba-tiba sudah bau, sehingga harus langsung dibuang. Padahal, sepengalaman mereka berdagang di Jawa, makanan itu bisa awet seharian penuh. 

Ada juga cerita soal warung yang sengaja “ditutup” pakai hal gaib. Warungnya buka, tapi pembeli yang lewat seolah tidak bisa melihat keberadaan warung tersebut.

Usaha gagal total tak selalu karena santet

Jujur saja, kalau sudah bicara klenik, saya agak skeptis. Saya pun penasaran, kira-kira apa alasan logis di balik kegagalan para perantau ini ketika mereka nekat berdagang keluar Pulau Jawa.

Untuk menjawab rasa penasaran ini, saya mengobrol dengan Heri (45), tetangga saya sekaligus seorang pedagang mie ayam yang pernah babak belur saat mencoba peruntungan buka warung di Sumatra, beberapa tahun lalu. 

Dulu, saat usahanya hancur dan ia terpaksa pulang kampung, Heri juga sempat percaya bahwa warungnya dikerjai pesaing. Apalagi, ia sering mengalami kejadian kuah kaldunya sering bau di siang bolong.

Namun, setelah bertahun-tahun kembali berdagang di Jawa dan merenungkan kegagalannya, Heri mengaku punya pandangan yang jauh lebih masuk akal. Ia tak mau lagi menyalahkan hal gaib.

“Kalau berdasarkan pengalaman saya sih, itu kayaknya bukan karena dikerjain santet,” kata Heri, Selasa (5/5/2026). “Hawa di luar Jawa itu kan beda, kadang jauh lebih panas. Terus, yang paling ngaruh itu air sumurnya.”

Heri menduga kuat bahwa perbedaan kualitas air tanah adalah biang keroknya. Menurut pengalamannya, air tanah di beberapa daerah di luar pulau kadang ada yang berbau gambut, rasanya agak berbeda, atau kadar kapurnya tinggi.

Iklan

“Kuah kaldu daging sapi atau ayam itu kan sensitif banget. Kena air yang kandungannya beda sedikit saja, rebusannya pasti beda. Makanya cepat rusak atau basi. Bukan karena ditaburi tanah kuburan sama saingan,” tebak Heri sambil menertawakan kepolosannya di masa lalu.

Warung dibuat “tak kelihatan”, pembeli kabur

Lalu, bagaimana dengan mitos usaha warung yang ditutup hal gaib sampai tidak kelihatan oleh pembeli? 

Kini, Heri menyadari, warungnya dulu sepi murni karena urusan selera lidah warga lokal, bukan karena sesuatu yang tidak kasat mata.

Heri bercerita, mie ayam dan bakso Wonogiri itu punya ciri khas rasa yang cenderung manis dan gurih. Sementara itu, banyak warga di luar Pulau Jawa yang lidahnya lebih terbiasa dengan bumbu rempah yang tajam, masakan bersantan kental, atau rasa yang sangat pedas. 

“Wajar kalau jualan saya dulu sepi, karena nggak bisa maksa selera Jawa ke orang Sumatra yang benar-benar berbeda,” ungkapnya.

Lebih jauh lagi, Heri menyinggung soal beban mental perantau. Menurut dugaannya, alasan mistis ini pada akhirnya sering dipakai semata-mata karena urusan harga diri.

“Gini lho, orang-orang itu gengsinya gede banget kalau sudah merantau. Pas terpaksa pulang kampung karena usahanya hancur, rasanya malu sekali kalau harus ngaku kalah saing sama pedagang sana,” ungkap Heri.

Bagi Heri dan banyak perantau gagal lainnya, memakai dalih “dikerjain orang pakai ilmu gaib” adalah tameng yang paling aman. Alasan tersebut sangat ampuh untuk menutupi rasa malu dan menyelamatkan nama baik di depan tetangga desa.

Kunci sukses usaha di luar Jawa ada di Paguyuban

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ketua Paguyuban Mie Ayam Tunggal Rasa Wonogiri, Eddy Santoso. Salah satunya, Eddy membedah mitos “ilmu luruh saat nyeberang laut” ini murni dari kacamata jaringan bisnis.

Menurut Eddy, “magis” kesuksesan orang Wonogiri selama berdagang di Pulau Jawa itu sebenarnya adalah wujud nyata dari kekuatan paguyuban. Di kota-kota di Jawa, ekosistem perantau Wonogiri ini luar biasa solid.

“Di Jawa ini kita punya jaringan. Kalau ada pedagang baru butuh pasokan mie basah yang murah, kita tahu harus cari ke mana. Kalau butuh pinjaman modal darurat untuk sewa tempat, atau gerobaknya tiba-tiba rusak, ada ratusan kawan satu daerah yang siap turun tangan membantu,” tegas Eddy.

Paguyuban ini berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang sangat kuat. Para pedagang tidak pernah benar-benar berjuang sendirian. 

Namun, kondisi ini berubah total ketika seorang pedagang nekat menyeberang ke luar Pulau Jawa. Di tanah yang jauh, ekosistem perantau Wonogiri ini sering kali tidak ada, atau jumlahnya masih sangat sedikit.

Mereka terpaksa merintis usaha benar-benar sendirian, tanpa jaringan agen bahan baku yang murah, dan tanpa teman yang bisa dimintai tolong saat kehabisan modal.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2026 oleh

Tags: ide bisnisKulinerkuliner khas wonogirimie ayammie ayam wonogiriusahausaha di luar jawausaha mie ayamusaha mie ayam wonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO
Kuliner

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
Mie ayam bintang di Jakarta. MOJOK.CO
Kuliner

Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta

29 April 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026. MOJOK.CO

Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten

26 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Remy Sylado Menelanjangi Toxic Masculinity melalui Trabar Batalla: Saat Kekerasan Jadi Ajang Pamer Kejantanan

25 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026
Anak tunggal dari pengusaha toko kelontong diterima di UGM. MOJOK.CO

Lolos UGM Justru Dilema karena Tak Tega Tinggalkan Ibu untuk Merantau dan Buka Toko Kelontong Sendirian

21 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.