Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
22 Juli 2026
A A
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Ilustrasi Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tiga wisatawan asal Tangerang memilih berjalan kaki mencari Nasi Kuning Muna Cung, beberapa jam setelah tiba di Jogja. Perjalanan pagi mereka menunjukkan bahwa banyak tempat menarik di sekitar Malioboro yang belum banyak diketahui wisatawan.

***

Iklan

Bus yang membawa Chira (22), Dinda (22), dan Lia (23) tiba di Terminal Giwangan sekitar pukul 04.00 WIB. Dari sana, tiga sahabat asal Tangerang, Banten, tersebut menuju sebuah homestay di tengah Kampung Pathuk, Kota Yogyakarta.

Lokasi penginapan mereka tidak jauh dari Malioboro, salah satu tujuan utama selama berlibur di Jogja. Namun, beberapa jam setelah tiba, mereka justru tidak langsung menuju jalan yang menjadi ikon wisata tersebut.

Nasi Kuning Muna Cung jadi daya tarik wisatawan

Seorang pengemudi Grab memberi tahu mereka tentang tempat sarapan enak di dekat penginapan: Nasi Kuning Muna Cung di pintu selatan Pasar Pathuk.

“Dari driver Grab, kami diberi tahu kalau ada tempat sarapan enak di dekat tempat kami menginap. Katanya harus coba karena viral,” kata Chira kepada Mojok, Selasa (21/7/2026).

Penasaran dengan rekomendasi tersebut, mereka mencari informasi tambahan melalui media sosial. Foto nasi kuning dengan berbagai pilihan lauk yang mereka temukan membuat ketiganya sepakat mencobanya.

Wisatawan menikmati nasi kuning Muna Cung MOJOK.CO
Tiga wisatawan asal Tangerang menikmati Nasi Kuning Muna Cung setelah dapat informasi dari driver taxi online. (Agung PW/Mojok.co)

Setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak, mereka berjalan kaki menuju Pasar Pathuk. Jaraknya sekitar setengah kilometer dari homestay dan dapat ditempuh kurang dari delapan menit.

Ketika mereka tiba, antrean telah terbentuk di depan Nasi Kuning Muna Cung. Ketiganya bergabung bersama warga, pekerja, dan wisatawan lain yang sama-sama mencari sarapan.

Selama beberapa hari di Jogja, mereka berencana mengunjungi pantai-pantai di Gunungkidul, kawasan Merapi, menikmati kuliner, dan berjalan kaki menyusuri Malioboro.

“Rencana kami mau ke pantai-pantai di Gunungkidul, ke Merapi, kulineran, dan jalan kaki keliling Malioboro,” ujar Dinda.

Meski sudah beberapa kali mengunjungi Jogja, Dinda dan teman-temannya baru mengetahui bahwa Pasar Pathuk menyimpan banyak pilihan kuliner pagi. Selama ini, mereka lebih mengenal Pasar Ngasem sebagai tujuan sarapan.

“Kami suka tempat-tempat kuliner seperti ini. Kalau didukung publikasi, pasti lebih banyak orang tahu kalau di sekitar Malioboro banyak tempat kuliner,” katanya.

Pengalaman mereka memperlihatkan bahwa wisatawan sebenarnya bersedia meninggalkan jalan utama untuk memasuki kampung dan pasar tradisional. Mereka hanya membutuhkan informasi, jalur yang mudah dijangkau, serta alasan untuk berbelok.

Iklan

Nasi Kuning Muna Cung, hanya beberapa menit berjalan kaki dari Malioboro

Saya mencoba perjalanan serupa dari Jalan Margo Mulyo, bagian selatan kawasan Malioboro. Sepeda motor saya titipkan di Parkir Beskalan, tempat parkir yang dikelola Dinas Perhubungan DIY.

Parkir Beskalan, tempat parkir yang hanya berjarak puluhan meter dari Malioboro. MOJOK.CO
Parkir Beskalan, tempat parkir yang hanya berjarak puluhan meter dari Malioboro. (Agung PW/Mojok.co)

Dari pintu masuk Jalan Beskalan, saya berjalan menuju Pasar Pathuk. Jaraknya sekitar 220 meter dan dapat ditempuh kurang dari lima menit dengan berjalan santai.

Sepanjang perjalanan, suasana wisata Malioboro perlahan berganti dengan kehidupan pagi warga. Sejumlah toko masih tertutup, sementara pedagang mulai menyiapkan dagangan dan warga berjalan membawa belanjaan.

Sesampainya di pintu selatan pasar, orang-orang sudah mengantre di depan Nasi Kuning Muna Cung. Udara pagi yang dingin membuat sebagian pembeli mengenakan jaket. Di balik jaket tersebut terlihat seragam pekerja. Sebagian pembeli lainnya memakai kaus dan sepatu olahraga.

Di depan mereka, nasi kuning terus berpindah dari bakul ke kertas pembungkus. Pembeli dapat memilih lauk berupa empal, ayam suwir, perkedel, telur, babat, iso, hingga sate ayam. Kering kentang, serundeng, dan orek tempe melengkapi nasi berwarna kuning dengan aroma rempah tersebut.

Pedagang makanan keliling melintas di Jalan Beskalan
Pedagang makanan keliling melintas di Jalan Beskalan (Agung PW/Mojok.co)

Orang perlu lebih tahu potensi kuliner di sirip-sirip Malioboro

Di luar antrean, saya bertemu Ameng (60), wisatawan asal Batam yang datang bersama istri dan anaknya. Pagi itu, mereka sengaja berjalan-jalan di Pasar Pathuk.

Anak laki-lakinya, Sopri (30), yang akrab dipanggil Acong, pernah kuliah di Jogja pada 2012 hingga 2016. Pada masa itulah ia mengenal Muna Cung dan menjadikannya salah satu tempat sarapan langganan.

Bertahun-tahun setelah menyelesaikan kuliah, Acong kembali ke Jogja dan mengajak kedua orang tuanya mencicipi nasi kuning tersebut.

“Orang tua saya suka main ke pasar. Jadi, sekalian saya ajak ke sini karena ini nasi kuning yang paling saya suka,” kata Acong.

Sebelumnya, ia pernah mengajak orang tuanya berjalan menyusuri Malioboro dari ujung ke ujung dan berwisata kuliner di Pasar Ngasem. Kali ini, ia ingin memperkenalkan Pasar Pathuk yang menurutnya belum seramai tujuan kuliner lainnya.

“Kalau Pasar Ngasem mungkin sudah banyak yang tahu, sudah viral. Daerah sekitar Malioboro seperti Pasar Pathuk ini belum banyak yang tahu,” ujarnya.

Di Batam, kata Acong, keluarganya terbiasa menikmati nasi lemak. Namun, ia meyakinkan orang tuanya bahwa nasi kuning Muna Cung tidak kalah menarik untuk dicoba.

Antrean di Nasi Kuning Muna Cung. Warung ini buka mulai pukul 06.30-11.30 WIB. (Agung PW/Mojok.co)

Menurutnya, kuliner rumahan di pasar-pasar tradisional Jogja terutama yang ada di sekitar Malioboro perlu lebih banyak dikenalkan. 

Wisatawan yang datang ke Malioboro dengan demikian tidak hanya berjalan di jalan utama, tetapi juga memasuki kawasan di sekitarnya.

“Pilihan kuliner di pasar-pasar Jogja beragam. Mungkin banyak yang belum tahu karena tahunya kuliner kekinian. Makanan rumahan seperti nasi kuning ini banyak yang belum tahu,” katanya.

Baca halaman selanjutnya

Awal mula lahirnya resep nasi kuning Muna Cung

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: Kulinermalioboromuna cung
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO
Kabar

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO
Kuliner

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO
Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
Alumnus Peternakan UMM Kerja Jadi Manager di Australia. MOJOK.CO

Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia sebagai Manajer Peternakan

11 Agustus 2026
Hyrox. MOJOK.CO

Panduan Selamat sebelum Menjajal Hyrox agar Nggak Celaka: Dari Latihan Angkat Beban sampai Tips Punya Asuransi Jiwa

9 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.