Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Agustus 2026
A A
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa. (Gemini Generated by Aly Reza)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja. Beberapa orang bahkan menyebutnya terlalu overrated. Namun, bagi perantau dari desa, bakpia justru menyimpan nilai sosial yang sangat berharga. 

***

Setiap hendak pulang kampung ke Kertosono, Jawa Timur, Fardi (24) yang merantau di Jogja sejak kuliah hingga kini bekerja nyaris tidak pernah absen membawa bakpia. Sering kali bakpia kukus sebagai jenis bakpia yang cukup disukai orang-orang rumah. 

Kadang kala Fardi berinisiatif sendiri: meski orang rumah tidak menitip, ia sengaja beli beberapa kotak untuk dibawa pulang. Tidak jarang pula ibunya sendiri yang secara khusus meminta dibawakan. 

“Kalau aku mengabari mau pulang di akhir pekan atau pas libur panjang seperti pekan ini, ibu titip, dibawakan,” ujar Fardi, Kamis (20/8/2026). 

Bakpia itu biasa saja, tapi nilainya bukan hanya soal rasa

Ada masanya ketika Fardi pulang tanpa membawa bingkisan apapun. Ia merasa bahwa bakpia rasanya ya begitu-begitu saja. Varian rasa-rasa pun bisa saja. 

Sejumlah temannya di Jogja pun berkata demikian, sampai-sampai heran dengan kebiasaan Fardi yang suka membawa bakpia sebagai oleh-oleh. “Apa orang rumahmu nggak bosan kalau dibawakan bakpia terus?” Begitu tanya mereka. Sehingga Fardi pun mengira orang rumah pasti akan bosan kalau ia pulang selalu membawa oleh-oleh khas Jogja tersebut. 

Namun, dugaannya keliru. Karena ternyata, diam-diam ibunya kerap menunggu oleh-oleh itu, hanya saja tidak berani bilang karena takut dikira membebani Fardi. 

“Ya aku bilang saja ke ibu, kalau pengin dibawakan bilang saja. Pasti aku bawakan toh harganya nggak mesti mahal,” kata Fardi. 

Jika Fardi pulang membawa oleh-oleh beberapa kotak, orang rumah (orang tua dan adiknya) langsung menyambut dengan antusias. Mereka tidak peduli mau harga murahan sekalipun, bagi mereka rasanya tetap istimewa. 

Bahkan, kata Fardi, sering kali mereka tidak langsung menghabiskan. Diwet-wet kalau istilah Jawa (dihemat-dihemat): dimakan hanya beberapa biji perhari, agar di hari berikutnya masih ada yang bisa dilahap. 

Simbol “peduli” perantau Jogja ke keluarga

Lebih dari itu, lanjut Fardi, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh bakpia Jogja ternyata menjadi simbol sayang ke keluarganya di rumah. Fardi tahu itu dari rasan-rasan dengan paman dari ibu, suatu kali. 

Malam itu, paman Fardi berkunjung ke rumah Fardi. Ibu Fardi mengeluarkan bakpia bawaan Fardi sebagai hidangan di atas meja, untuk melengkapi segelas kopi. 

“Wah ini, makanan yang nggak ada di Kertosono ini,” ujar paman Fardi, sebagaimana digambarkan ulang oleh Fardi. 

Paman Fardi mencomot dua biji. Lalu bercerita kalau anaknya yang merantau di Surabaya tidak pernah berinisiatif membawakan oleh-oleh khas Surabaya. Pernah paman Fardi meminta, tapi malah dijawab, “Oleh-oleh Surabaya itu apa sih, bolu kukus rasanya ya gitu-gitu aja.

“Oleh-oleh sesuatu yang nggak ada di daerah asal itu bagi kami orang tua istimewa loh. Kadang kami nitip ke anak, tapi nanti uangnya kan kami ganti. Karena kami orang tua yang nggak pernah ke mana-mana ini kadang cuma pengin merasakan sesuatu yang berbeda,” ujar paman Fardi waktu itu. 

5 biji bakpia yang berharga di mata tetangga dan saudara

Sejak merantau di Jogja pada 2024, saya pun termasuk orang yang jarang membawa oleh-oleh bakpia tiap pulang ke Rembang. Karena saya merasa memang itu oleh-oleh biasa saja. Mending saya traktir orang tua waktu di rumah saja. 

Sampai akhirnya ibu saya secara khusus menitip. Saya bawakan.

Iklan

Bagi ibu, rasa bakpia Jogja memang biasa saja. Tapi ia memang tidak sedang mengincar cita rasa dari oleh-oleh khas Jogja tersebut.

Ibu hanya ingin tetangga dekat (yang kerap membantu ibu), simbah, dan saudara kandungnya (yang tidak pernah ke mana-mana) bisa ikut merasakan. Itulah kenapa ketika belakangan ia menjadi sering ke Jogja (karena jalan-jalan pabrik maupun sekadar menemui keluarga kecil saya di Jogja), ia pasti minta diantar beli oleh-oleh bakpia sebelum pulang ke Rembang. 

Di rumah, ibu mencoba membagi rata bakpia yang ia bawa dari Jogja: 5 biji untuk setiap orang yang hendak ia beri. Angka yang kecil saja memang. Tapi setiap orang yang menerima ternyata sangat semringah.

Sebab, mereka tidak pernah ke Jogja dan belum tentu bisa jalan-jalan ke Jogja karena kondisi ekonomi. Dengan begitu, bakpia pemberian ibu menjadi semacam obat penasaran perihal Jogja yang kerap jadi perbincangan dalam konteks jalan-jalan. 

Bakpia Jogja jadi perantara srawung di desa

Pada akhirnya, bakpia Jogja menjadi perantara bagi ibu untuk srawung di desa: dengan saudara dan tetangga. 

Sebenarnya motif ibu sederhana: memang ia suka berbagi saja dengan tetangga. Kadang ia malah merasa tidak enak karena hanya bisa berbagi tidak seberapa: misalnya bakpia yang hanya 5 biji. 

Namun, di luar dugaan, dari 5 biji tersebut justru membuat tetangga dan saudara menjadi begitu baik terhadap ibu (dan keluarga kami). Sering kalau ibu punya hajat tertentu, tetangga maupun saudara datang membantu dengan sukarela. Begitu juga dengan bantuan-bantuan fisik lain. 

Bakpia Jogja, yang sebelumnya saya anggap biasa saja sehingga agak ogah membawanya sebagai oleh-oleh, ternyata punya nilai sosial yang sangat berharga. Maka dari itu, meski saya bosan betul dengan oleh-oleh ini, tapi setiap pulang ke Rembang saya usahakan untuk membawanya barang beberapa kotak. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pertama Kali ke Jalan Malioboro Jogja buat Beli Bakpia, Dibuat Kaget karena Tak Sesuai Perkiraan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026 oleh

Tags: bakpiabakpia enak jogjabakpia jogjabakpia murah dan enakJogjaMerantau di Jogjaoleh-oleh Jogjaoleh-oleh khas Jogjaperantau jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Agustusan momen bikin mahasiswa KKN kelihatan jadi orang bingung, kalah pamor dengan anak muda Karang Taruna desa MOJOK.CO

Momen Agustusan bikin Mahasiswa KKN di Desa Jadi Orang Bingung, Lebih Sigap Karang Taruna

17 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.