ADVERTISEMENT

Nasgor buatan Nenek Lebih Dirindukan Perantau daripada Masakan Daerah Asal

Nasgor Buatan Nenek Jadi Masakan yang Dirindukan Perantau. MOJOK.CO

Bagi sebagian perantau, rasa rindu kepada rumah ternyata tidak selalu datang lewat rendang, gudeg, pecel, atau makanan khas daerah masing-masing. Kadang, rasa itu justru muncul dari sepiring nasgor atau nasi goreng sederhana yang dimasak nenek di dapur rumah.

***

Di Threads, beberapa orang membicarakan makanan rumahan yang mereka rindukan ketika tinggal jauh dari kampung halaman. Nasgor menjadi salah satu makanan yang muncul dalam percakapan tersebut. Menariknya, nasi goreng itu bukan makanan khas daerah tertentu. Ia hanya makanan rumahan dengan bahan seadanya.

Aris (30), perantau asal Madiun, termasuk orang yang merindukan nasgor buatan neneknya. Ia mengaku sudah mencoba berbagai nasi goreng selama tinggal di tanah rantau, tetapi tidak menemukan rasa yang sama.

“Banyak nasgor yang pernah saya coba, tetap tidak ada yang bisa mengalahkan nasi goreng buatan nenek saya,” ujar Aris melalui DM Threads, Kamis (1/10/2026).

Nasi sisa semalam, bumbu sederhana, dan telur ceplok adalah resep istimewa nasgor buatan nenek

Nasgor buatan nenek Aris sebenarnya tidak memiliki resep yang rumit. Neneknya menggunakan nasi sisa semalam dan bumbu yang sangat sederhana. Tidak ada kecap manis. Tidak ada topping aneh-aneh.

“Jadi komposisinya hanya terdiri dari nasi sisa semalam, bumbu sederhana berupa bawang merah dan bawang putih dengan sedikit garam dan merica juga cabai sekadarnya, tidak perlu kecap. Lalu semua bahan tadi digoreng dengan minyak sedikit. Setelahnya disajikan dengan telur ceplok, itu sudah enak sekali, Mas,” kata Aris.

Justru kesederhanaan itu yang membuatnya sulit digantikan. Aris bisa membeli nasi goreng di warung atau restoran mana pun, tetapi makanan tersebut tidak otomatis menghadirkan rasa yang sama.

Perantau malah tidak terlalu kangen makanan khas daerah asal

Cerita serupa datang dari Anita (35), perantau asal Sumatera yang kini mengadu nasib di Jakarta. Sebagai orang Sumatera, Anita tentu tidak asing dengan masakan Padang dan rendang. Namun, ketika tinggal jauh dari rumah, rendang bukan makanan yang paling ia cari.

“Aku kalau sama rendang atau masakan Padang tidak begitu kangen sih, malah lebih kangen sama nasi goreng buatan ibu saya atau nenek saya,” ujar Anita.

Bagi Anita, persoalannya bukan sekadar dari rasa nasgor itu sendiri. Namun, Ia mengingat siapa yang memasaknya dan suasana ketika makanan itu hadir di rumah.

“Bukan perkara apa, tapi rasa dari nasgor mereka memang tidak ada tandingannya,” lanjutnya.

Cerita Anita memperlihatkan bahwa makanan yang dirindukan perantau tidak selalu mengikuti identitas kuliner daerah asal. Orang Sumatera tidak otomatis merindukan rendang. Orang Jawa juga belum tentu mencari makanan khas daerahnya ketika jauh dari rumah.

Yang dicari bukan nasi gorengnya, tapi rumahnya

Penelitian tentang nostalgia makanan menunjukkan hubungan yang cukup dekat antara makanan, masa kecil, keluarga, dan pengalaman makan di rumah. Sebuah studi terhadap 206 responden di Meksiko menemukan bahwa nostalgia terhadap makanan berkaitan dengan pengalaman masa kanak-kanak. Pada generasi tertentu, makanan yang dimakan di rumah dan berkaitan dengan keluarga menjadi bagian penting dari memori tersebut.

Penelitian Galuh Ambar Sasi di Lembaran Sejarah UGM juga menunjukkan bagaimana makanan dapat menjadi pintu masuk menuju memori kolektif. Studi tersebut membahas kebiasaan makan keluarga Jawa dan bagaimana ungkapan tentang makanan dapat menyimpan ingatan mengenai pengalaman masa lalu.

Artinya, nostalgia terhadap nasi goreng nenek tidak harus muncul karena nasi goreng tersebut memiliki resep istimewa. Makanan itu bisa menjadi pengingat terhadap rumah, orang yang memasak, dan masa ketika seseorang belum harus menjalani hidup sendiri di tanah rantau.

Restoran bisa menjual “nasi goreng rumahan”, tapi…

Fenomena makanan rumahan juga sudah lama masuk ke bisnis kuliner. Kita bisa menemukan warung atau restoran yang memakai istilah “rumahan” untuk menggambarkan menu mereka. Namun, bagi Aris dan Anita, label tersebut tidak otomatis membuat rasanya sama dengan makanan yang mereka kenal sejak kecil.

Aris bahkan tidak mempermasalahkan jika harus membayar nasgor lebih mahal di perantauan. Masalahnya, harga dan bahan tidak bisa membeli pengalaman yang melekat pada nasgor buatan neneknya. Ada alasan mengapa nasi goreng sederhana itu terasa berbeda. Bukan karena bumbunya lebih mahal atau teknik memasaknya lebih canggih. Bagi perantau, orang yang memasak makanan tersebut juga menjadi bagian dari rasa yang mereka ingat.

Nasgor buatan nenek tidak punya resep rahasia

Nasigor buatan nenek mungkin tidak masuk daftar makanan khas daerah. Ia juga tidak memiliki sejarah panjang seperti rendang, gudeg, atau nasi goreng dengan berbagai variasinya. UGM Press sendiri mencatat bahwa nasi goreng memiliki banyak ragam di Nusantara, termasuk nasi goreng Jawa, nasi goreng teri Medan, dan nasi goreng Bali. Buku Makanan Tradisional Indonesia Seri 2 bahkan mencatat puluhan variasi nasi goreng dalam khazanah kuliner Indonesia.

Namun, nasgor yang paling dicari Aris dan Anita justru tidak membutuhkan identitas daerah tersebut. Ia cukup dibuat dari nasi sisa semalam, bawang, garam, cabai, minyak, dan telur. Bagi orang lain, itu mungkin hanya nasi goreng biasa. Bagi perantau, sepiring nasgor itu bisa menjadi cara paling sederhana untuk mengingat rumah. Dan mungkin memang di situlah masalahnya: yang mereka rindukan sebenarnya bukan nasi goreng nenek, melainkan rumah yang dulu selalu menyediakan nasi goreng itu.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pahitnya Jadi Cowok Penyuka Seblak: Dipandang Aneh dan Dipertanyakan Kejantanannya, Bingung Salahnya di Mana? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.