ADVERTISEMENT

Tahu Tek Memang Tampak Tak Menggoda, Tapi bikin Ketagihan dan Jadi Kuliner Surabaya Penyelamat Anak Kos

Seporsi tahu tek, kuliner khas Surabaya penyelamat mahasiswa dan anak kos perantau MOJOK.CO

Tahu tek, salah satu kuliner khas Surabaya, mulanya memang membuat perantau atau anak kos berpikir tidak doyan. Namun, makanan ini lah yang kemudian menyelamatkan: meski dompet tipis tapi bisa kenyang.

***

“Suwe rek gak mangan tahu tek (Lama nggak makan tahu tek),” celetukan kerap saya dengar dari sejumlah teman di Jogja yang berasal atau minimal pernah merantau ke Surabaya. 

ADVERTISEMENT

Bagi yang asli Surabaya, tahu tek memang menjadi salah satu makanan yang kerap dirindukan saat jauh dari Surabaya. Karena memang autentik, sulit ditemukan di daerah lain. 

Sementara bagi orang yang pernah merantau di Surabaya seperti saya, kuliner tersebut tidak hanya soal rasa. Tetapi juga tentang memori masa lalu: betapa tahu tek menjadi pilihan makanan yang menyelamatkan mahasiswa maupun anak kos perantau. 

Tahu tek semula tidak menarik karena petis madura

Pada masa-masa awal merantau ke Surabaya, sebenarnya saya sudah langsung ngeh kalau tahu tek menjadi salah satu kuliner yang digemari sebagian banyak warga Jawa Timur. Terutama sebagai pilihan makan malam. 

Amat mudah menemukan kuliner tersebut di Surabaya, dari gang-gang kampung hingga pinggir-pinggir jalan besar. Di perkampungan belakang UIN Sunan Ampel Surabaya—tempat saya ngekos—saja, hampir di setiap gang pasti ada penjual tahu tek. 

Meski begitu, awalnya saya agak ragu untuk mencoba. Apalagi setelah beberapa teman sesama perantau mengungkapkan tidak doyan usai mencicipinya. “Kalau kamu doyan petis Jawa Timur, ya bakal doyan tahu tek.” Itu kata kuncinya. 

Masalahnya, pada masa-masa awal itu, lidah saya cenderung tidak cocok dengan sambal petis Jawa Timuran. Begini, sambal petis pun memang umum ditemukan di warung-warung kopi, sebagai cocolan pendamping gorengan. 

Suatu kali, ketika saya pertama kali mencoba mencocol gorengan dengan sambal petis itu, lidah dan tenggorokan saya justru terganggu. Pedas-pedas nyegrak. Karena itulah saya tidak yakin kalau saya bakal doyan dengan kuliner khas Surabaya tersebut. 

Coba-coba tahu tek karena “kepepet”, malah ketagihan

Hingga akhirnya, lantaran “kepepet”, saya akhirnya coba-coba membungkus dan justru ketagihan dengan kuliner tersebut. 

ADVERTISEMENT

Sebenarnya saya sudah pernah melihat isian dari sebungkus tahu tek. Pasalnya, teman kos yang berasal dari Madura memang kerap membungkus untuk makan malam. 

Dalam sebungkus kertas minyak: tersaji beberapa potong lontong, potongan tahu kecil-kecil, dan taburan kecamba yang diguyur bumbu petis yang agak sedikit encer (tidak sekental kalau jadi cocolan gorengan), serta sebungkus plastik kecil kerupuk. Kalau mau nambah telur, maka akan ada potongan telur dadar di dalamnya. 

Tampilannya biasa saja. Tidak menggoda. Aromanya pun aroma petis yang pekat di hidung. Tapi teman kos, dan sejumlah teman lain yang asli Jawa Timur, selalu tampak makan lahap. Menikmati. 

Lalu pada suatu malam di semester 2, saya iseng-iseng mencoba. Waktu itu sudah lepas tengah malam saat perut saya keroncongan. Saya agak mager kalau harus membawa motor menyisir jalanan kampung untuk mencari makanan. 

Opsi paling dekat adalah jalan kaki keluar gang kos. Di depannya persis pasti sudah mangkal seorang penjual tahu tek asal Madura. Opsi itulah yang lalu saya lakukan: membungkus tahu tek dari penjual di depan gang kosa. 

Kala potongan lontong berbalur bumbu petis menyentuh lidah, saya pun menyadari kalau kuliner khas Surabaya itu tidak seburuk yang saya duga. Saya langsung doyan. Sejak itu saya ketagihan dan menjadi pelanggan setia si penjual asal Madura tersebut: dari semester 2 hingga akhir masa kerja saya di Surabaya pada Desember 2023. 

Seporsi tahu tek, kuliner khas Surabaya penyelamat mahasiswa dan anak kos perantau MOJOK.CO
Seporsi lontong berbalur sambal petis penyelamat mahasiswa dan anak kos perantau. (Aly Reza/Mojok.co)

Penyelamat mahasiswa dan anak kos perantau: murah dan kenyang

Tahu tek kemudian menjelma menjadi salah satu makanan penyelamat bagi mahasiswa maupun anak kos perantau berdompet tipis—seperti saya dan sejumlah teman saya waktu itu. 

Bagaimana tidak. Waktu itu, ia menjadi jenis makanan harian yang harganya cenderung tidak naik-naik, di saat banyak warung sudah menaikkan harga menu perporsinya. Kalau toh ada warung makan langganan yang tidak menaikkan harga, proporsi menu dalam satu piringnya yang dikurangi. 

Harga seporsi tahu tek di Surabaya di masa-masa itu adalah Rp8 ribu jika tidak pakai telur (saya lebih sering beli pilihan yang ini). Sementara jika pakai telur dadar, nambah Rp2 ribu, menjadi Rp10 ribu. Dan benar-benar mengenyangkan. 

Tidak pelak jika tahu tek kemudian menjadi solusi bagi mahasiswa maupun anak kos perantau di Surabaya. Sebab, harga Rp8 ribu di warung makan langganan sudah tidak sekenyang dulu-dulu (sebelum Covid-19). Lebih kenyang kalau dibelikan sebungkus tahu tek. 

Bunyi “tek, tek, tek” dari alat masak yang dipukul oleh penjual seolah menjadi panggilan bagi anak kos berduit pas-pasan: bahwa sang penyelamat asam lambung siap mengenyangkan dengan sebungkus seharga Rp8 ribu. 

Kuliner Surabaya yang bikin kangen

Setelah pindah ke Jogja sejak awal 2024, saya kerap sesekali kangen dengan bagaimana sensasi rasa lontong berbalur sambal petis itu. Itulah kenapa, ketika ada kesempatan main ke Surabaya, salah satu kuliner yang kemudian saya cari adalah tahu tek. 

Sembari nostalgia masa-masa kuliah dan merantau di Surabaya, saya akan menyusuri gang perkampungan di belakang kampus UIN. Beberapa penjual tahu tek yang saya dapati di masa kuliah ternyata masih jualan di tempat yang sama. Termasuk tahu tek langganan di depan gang kos yang saya tinggali. 

Penjual tahu tek MOJOK.CO
Penjual tahu tek, salah satu kuliner khas Surabaya. (Aly Reza/Mojok.co)

Kini harga seporsinya sudah di angka Rp10 ribu tanpa telur dan Rp12 ribu/Rp13 ribu pakai telur. Seturut pengakuan mahasiswa dan anak kos di sana, harga itu ternyata menjadi salah satu harga makanan termurah saat sekali makan di warung kini harus mengeluarkan paling tidak Rp15 ribuan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tahu Tek Haji Ali Surabaya: Berawal dari ‘Rezeki yang Tertukar’ atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.