Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Juli 2026
A A
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Ilustrasi - Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana. (Ega Fansuri/Mpjok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Kalau ngomongin wisata, daerah ini memang tidak begitu menonjol jika dibandingkan dengan tetangganya (Magetan) yang punya Telaga Sarangan. Namun, beberapa orang justru mengaku jatuh hati dengan daerah ini. 

Caruban: seperti rumah kedua, tempat menepi sejenak yang menenangkan

Terhadap Caruban, Madiun, saya memang punya ikatan yang sangat personal. Sejak pakde saya—kakak ibu saya—menikah dan memilih berdomisili di Caruban, sejak SMP saya memang sudah akrab dengan daerah tersebut. Beberapa kali ibu saya mengajak mengunjungi Pakde. 

Iklan

Ketika akhirnya kuliah hingga kerja di Surabaya, saya malah punya keleluasaan untuk sering-sering main ke Caruban. Karena menjangkaunya jauh lebih mudah lantaran dilintasi oleh kereta api, ketimbang dari Rembang yang harus beberapa kali oper bus. 

Caruban ibarat rumah kedua bagi saya. Memang, tiap kali ke Caruban, beberapa orang yang saya temui selalu bingung tiap saya tanya perihal rekomendasi wisata. Kebanyakan pasti mengarahkan saya ke Telaga Sarangan yang hanya berjarak 1 jam-an dengan motor. 

Tapi saya tidak sedang fokus mencari wisata. Caruban adalah tempat menepi sejenak, terutama ketika saya sedang sumpek-sumpeknya karena overthinking terhadap hidup. 

Apalagi rumah Pakde saya berada di sebuah desa yang hijau nan sepi. Saya bisa menemukan sensasi pagi dan malam yang tenang untuk menyegarkan pikiran. Dan saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengar nasihat-nasihat kehidupan dari Pakde. Recharge energi. 

Pakde memang dikenal sebagai orang dengan cara pandang bijak di keluarga kami. Pendengar yang baik, penyabar, dan orang yang sangat tulus terhadap siapapun. Mendengar nasihat kehidupan dari Pakde membuat saya kembali lagi ke perantauan dengan kondisi batin yang lebih tenang dan pikiran yang lebih segar. Itulah kenapa Caruban selalu membawa saya kembali.

Merayakan hal-hal sederhana di Caruban

Kesan perihal ketenangan Caruban, Madiun, juga diungkapkan oleh Selvi (26), perempuan asal Gresik, Jawa Timur, yang punya kerabat di Caruban. 

Saat ini—dengan statusnya sebagai pusat pemerintahan Madiun—Caruban bukannya tidak mempercantik diri. Sejumlah kedai kopi modern sudah lebih mudah ditemui, menjadi salah satu opsi ketika Selvi berkunjung ke sana. 

Sepintas, bagi anak muda seperti Selvi, kedai kopi modern barangkali menjadi satu-satunya hal yang relate bagi segmen seusianya dan di bawahnya. 

“Karena memang ya, kalau kerabatku ngajak keluar malam, mentok-mentok paling ke alun-alun,” ungkap Selvi bercerita, Minggu (12/7/2026). 

Sepintas pula, tidak ada yang istimewa-istimewa banget dari Alun-Alun Caruban. Biasa saja, selayaknya alun-alun di kabupaten-kabupaten kecil lain. 

Namun, saat duduk-duduk di tepian alun-alun, Selvi melihat betapa alun-alun tersebut menjadi ruang pertukaran energi yang sangat positif. Semua orang yang ia lihat—dewasa maupun anak-anak—tampak gembira. 

“Dari kerabatku aku dapat penjelasan, Alun-Alun Caruban memang nggak bagus-bagus banget. Tapi hidup di Caruban itu membuat orang-orangnya belajar merayakan hal-hal sederhana,” kata Selvi.

“Istimewa bukan soal tempatnya. Karena di sana juga nggak ada tempat wisata yang recommended. Tapi kebersamaan, itu nilai yang jauh lebih penting,” sambungnya. 

Dari kerabatnya itu pula Selvi belajar bagaimana sebuah keluarga kecil, dengan kehidupan yang sederhana, tapi punya keterhubungan yang kuat satu sama lain. 

Keramahan yang hangatkan hati tapi tak campuri urusan orang

Beberapa kali pula Selvi menginap di rumah kerabatnya di Caruban, Madiun. Kehangatan tidak hanya ia rasakan di rumah sederhana kerabatnya, tapi juga dari lingkungan sekitar. 

Saat ia berjalan atau sedang duduk-duduk di teras rumah, ia mengaku selalu disapa hangat oleh orang-orang yang melintas. Tapi keramahan tidak sekadar berhenti di situ. 

Iklan

“Aku diajak ngobrol. Terus tetangga kerabatku bisa cerita dengan begitu cair,” katanya. 

“Beberapa orang mungkin merasa itu mengganggu privasi. Tapi nggak kok, karena si tetangga itu memang benar-benar pengin silaturahmi lah, nggak sakadar basa-basi,” lanjutnya. 

Dan lebih penting dari itu, berdasarkan cerita yang ia dapat dari si kerabat, keramahan tersebut tidak lantas diikuti oleh “ikut campur” lebih dalam urusan orang lain, sebagaimana yang belakangan kerap diresahkan oleh anak muda yang tinggal di desa. 

Pecel malam: tidak sekadar mengisi perut lapar

Jika menyebut nama Madiun, salah satu yang pertama-tama kerap muncul di benak orang adalah: pecel. Pecel madiun—setidaknya menurut saya pribadi—memang the best. 

Porsinya melimpah tapi dengan harga relatif murah. Bumbu kacangnya kental dan khas. Isiannya, selain lauk utama yang dipilih sendiri oleh pembeli, dilengkapi dengan kangkung, irisan mentimun, kemangi, beberapa juga pakai bunga turi putih, sepotong tempe, dan sepotong dadar jagung. 

Sebagai sentra pecel, ada banyak warung pecel yang buka hingga tengah malam di Madiun. Termasuk juga di Caruban. Begitu keterangan dari Haban (28), laki-laki asli Caruban yang merantau di Surabaya. 

“Di Surabaya sebenarnya nggak susah nemu penjual pecel madiun. Tapi seringnya buat sarapan. Tapi kalau di Caruban, hampir tengah malam itu ada yang buka,” jelasnya. 

Bagi Haban, kulineran pecel madiun di menuju tengah malam tidak sekadar menjadi momen mengisi perut keroncongan. Fungsinya justru mirip warung kopi: tempat nongkrong. 

Sebab, jika sedang pulang ke Caruban, Haban dan beberapa temannya sering malam-malam melipir ke warung pecel. Kodenya: “ayok mecel”. 

“Sambil menyantap pecel, sambil cerita-cerita lah soal kehidupan. Bagi perokok sepertiku, sensasi habis makan pecel dengan bumbu kental dan pedes, terus ngudud, wah nikmat sekali,” beber Haban. 

“Ya kami sering juga kalau ngobrol-ngobrol itu di angkringan atau warkop. Malah jarang di kafe gitu. Tapi kadang di tengah-tengah obrolan, keluar lah celetukan: ‘Untuk menghadapi kenyataan hidup yang seringkali melelahkan juga butuh energi. Mecel jadi solusi’,” pungkasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Madiun, Kota dengan Ruang Publik yang Berlimpah Lebih Memesona ketimbang Jogja yang Katanya Kota Pendidikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan


Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2026 oleh

Tags: carubankuliner carubankuliner madiunmadiunpecel madiunwisata carubanwisata madiun
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

5 makanan khas Jawa Timur (Jatim). Beri kesempatan kaum pas-pasan cicipi kuliner terbaik/terenak dunia MOJOK.CO

5 Makanan Khas Jawa Timur yang Beri Kesempatan Orang Pas-pasan Nikmati Kuliner Terenak Dunia, Di Harga Murah Pula

1 Maret 2026
OTT Wali Kota Madiun

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
Madiun Kota Pendekar tapi ulah PSHT bikin malu. MOJOK.CO

Derita Orang Madiun, Mau Sombong ke Daerah Lain tapi Kena Cap Jelek karena Ulah PSHT hingga Dicap Sarang PKI

28 Juli 2025
Kukuh Prasetya: Merangkai Nada dari Hidup yang Biasa-Biasa Saja

Kukuh Kudamai Pencipta Lagu Mendung Tanpo Udan Berbagi Perjalanan Hidupnya Menjadi Aktor dan Musisi

24 Juni 2025
Didik Kulot: Hidup Tidak Harus Lurus yang Penting Jujur

Filosofi Hidup Komandan SKC Didik Kulot: Hidup Tidak Harus Lurus, yang Penting Jujur

23 Juni 2025
Nopek Novian: Godfather Konten Kampung yang Panen Dolar

Kisah Komika Nopek Novian Jadi Godfather Konten Kampung di Madiun

17 Juni 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.