Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
22 Juli 2026
A A
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Ilustrasi Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bermula dari resep majalah dan bakmi berformalin

Di balik sarapan yang ditemukan wisatawan melalui layar ponsel itu, terdapat perjalanan panjang Muna dan suaminya, Ardi (60). Sejak kecil, Ardi akrab dipanggil Icung. Panggilan tersebut kemudian dipadukan dengan nama istrinya menjadi Muna Cung.

Pagi itu, Muna tidak terlihat melayani pembeli.

Iklan

“Hari ini Ibu tidak ke warung, sedang istirahat di rumah,” kata Ardi yang lebih sering dipanggil Pak Cung.

Nasi Kuning Muna Cung dirintis sekitar tiga dekade lalu. Sebelumnya, Muna berjualan makanan dengan berkeliling di dalam Pasar Pathuk. Ia kemudian menetap dan menjual bakmi, bihun, serta capcai.

“Saya masih ingat, satu bungkus waktu itu harganya Rp500,” ujar Pak Cung.

Dagangannya sempat laris. Namun, pada masa itu beredar kekhawatiran masyarakat mengenai penggunaan formalin pada sejumlah produk mi basah. Meskipun tidak berkaitan langsung dengan dagangan mereka, kabar tersebut membuat pembeli menjauh.

Pak Cung dan Muna kemudian mencari menu lain yang dapat mereka jual. Melalui sebuah majalah, mereka menemukan resep nasi kuning. Saat itu, menurut Pak Cung, belum ada pedagang nasi kuning di Pasar Pathuk.

Mereka menguji resep tersebut berkali-kali. Percobaan pertama tidak selalu berakhir memuaskan. Pak Cung masih mengingat pesanan besar pertama yang mereka terima.

“Dulu, awal-awal jualan kami pernah dikomplain karena perkedel buatan kami ambyar. Padahal, orangnya pesan 500 biji dan itu pesanan pertama kami,” katanya sambil tertawa.

Masukan dari para pembeli kemudian membantu mereka memperbaiki resep. Dari resep yang ditemukan di majalah, keduanya menemukan takaran yang dianggap paling sesuai. 

Mereka juga menambah pilihan lauk, seperti empal, babat, iso, kering kentang, dan ayam suwir. Hanya sate ayam yang tidak mereka produksi sendiri.

Ardi Icung atau Pak Icung, pemilik Nasi Kuning Muna Cung. (Agung PW/Mojok.co)

Pasar Pathuk, bukan semata tempat mencari nafkah

Bagi Pak Cung dan Muna, Pasar Pathuk bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Pasar tersebut menjadi bagian dari sejarah keluarga mereka. Orang tua dan kakek-nenek Pak Cung juga pernah berjualan di sana.

“Dulu mereka jualan bakmoy, laris dan terkenal. Namanya Bakmoy Mbah Kerto Beskalan. Namun, tidak ada yang meneruskan, termasuk saya,” katanya tertawa.

Pak Cung dan Muna memilih memulai usaha sendiri. Meski demikian, orang tua mereka tetap memberikan saran, salah satunya agar Muna tidak lagi berjualan keliling dan mulai menempati tempat tetap.

Iklan

Kini, Pak Cung mengalami kegelisahan serupa dengan generasi sebelumnya. Dua anaknya belum menunjukkan keinginan untuk meneruskan usaha nasi kuning tersebut.

“Dua anak saya kelihatannya tidak ada yang mau meneruskan,” kata kakek dua cucu tersebut sambil tertawa.

Namun, ia bersyukur hasil berjualan nasi kuning mampu mengantarkan kedua anaknya menjadi sarjana. Keduanya merupakan lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Seorang anaknya kini bekerja dan berkeluarga di Malang, sedangkan seorang lainnya tinggal di Yogyakarta.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Sisi Magis Jalanan Maliboro Jogja Era 1960-an Bisa Jadi Renungan bagi Komunitas Sastra Hari ini

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: Kulinermalioboromuna cung
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Sri Sultan HB X tegaskan: penataan kawasan pedestrian Malioboro bukan berarti apa-apa tidak boleh MOJOK.CO
Kabar

Sri Sultan HB X: Malioboro Full Pedestrian Bukan Tutup Total Akses Kendaraan, Tapi Penataan agar Tidak Crowded

24 Juli 2026
Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, Istri Bahagia dan Rumah Idaman jadi Tujuan MOJOK.CO
Kuliner

Kisah Pegawai Bank Jualan Mie Ayam Malam Hari, demi Istri Bahagia dan Rumah Idaman

21 Mei 2026
Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin MOJK.CO
Esai

Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin

8 Mei 2026
usaha mie ayam wonogiri.MOJOK.CO
Kuliner

Buka Usaha di Luar Pulau Jawa Kerap Gagal Bukan karena Klenik “Dikerjain” Akamsi, Ada Faktor Lain yang Lebih Masuk Akal

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.