Dagangan pedagang lansia yang lapaknya sepi mungkin tidak sesuai selera, tapi tidak ada ruginya
“Ya memang murah, tapi nggak enak, nggak sesuai selera.” Kalimat semacam itu pernah Ihza dengar dari salah satu temannya.
Perkara rasa yang tidak sesuai, memang ada yang begitu adanya. Hanya saja, sebenarnya tidak bikin rugi-rugi amat, setidaknya bagi Ihza sendiri.
Pasalnya, ketika Ihza tidak selera pada apa yang ia beli, pilihannya adalah membagikan pembelian tersebut kepada orang lain.
“Misalnya, bisa kuberi ke pacarku. Atau ada juga kok teman kosku yang suka makan tanpa rewel. Enak nggak enak, tetap dilahap. Dan itu nggak ada ruginya buatku, Karena belinya juga murah,” kata Ihza.
Uang receh yang sangat berharga buat uang biaya sekolah anak
Saya mengamini apa kata Ihza: Betapa uang recehan amat sangat berharga bagi pedagang-pedagang seperti itu.
Pada Januari 2026 lalu, saat dalam perjalanan dari Rembang ke Jogja, saya berhenti di sebuah Indomaret di daerah Semarang atas.
Tidak lama dari saya duduk, ada seorang ibu-ibu penjual jamu menghampiri. Menawarkan botol jamu beras kencur ke sebuah mobil yang terparkir dan orang-orang yang duduk di kursi depan Indomaret. Tidak ada yang tertarik.
Lalu ia mendatangi saya yang duduk ngemper. Ibu-ibu itu bilang: Harga satu botolnya seharusnya Rp10 ribu. Tapi asal laku, ia tidak masalah jika dibeli Rp7 ribu. Saya lalu mengeluarkan uang Rp20 ribu: Membeli dua botol untuk harga aslinya (Rp10 ribu perbotol).
“Mas, ya Allah matur nuwun. Buat anak besok bayar sekolah, Mas,” ujar si ibu.
Reaksi itu membuat saya mbrebes mili. Padahal saya membeli dengan harga asli, bukan harga yang sudah turun. Karena memang, uang berapa pun yang ia dapat, memang seberharga itu di tengah penolakan-penolakan yang ia terima saat menawarkan jamunya ke banyak orang.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













