Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
27 April 2026
A A
Minyak wangi cap lang lebih bagus dari FreshCare. MOJOK.CO

ilustrasi - sebagian anak usia 30-an pilih pakai minyak wangi Cap Lang daripada FreshCare. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah maraknya inhaler tau roll-on minyak angin aromaterapi dari FreshCare, Kenia lebih memilih pakai Cap Lang, minyak angin asal Singapura yang mulai diproduksi di Indonesia tahun 1973. Di usia 30-an, minyak angin jadi kebutuhan primer yang tak bisa ia tinggalkan.

Setidaknya, ia selalu menyisihkan gajinya untuk membeli minyak angin. Toh, harganya tidak terlalu mahal. Khusus untuk minyak angin ukuran kecil misalnya, harganya mulai dari Rp10 ribu. Itu pun tidak akan habis selama satu bulan. 

Iklan

“FreshCare dulu belum populer seperti sekarang makanya aku pakai produk minyak angin yang udah lama. Itu pun dikenalin sama teman-temanku. Jadi setelah ngonser aku merasa badanku nggak enak, terus direkomendasikan lah sama mereka produk Cap Lang ini dan aku langsung suka sama baunya,” kata Kenia. 

Jujur saja, saat kecil, Kenia mengaku tidak terlalu suka bau minyak yang dipakai oleh orang tuanya. Dulu, orang tuanya seringkali mengundang tukang pijat ke rumah sehingga bau dari minyak tawon itu biasanya menyebar ke seantero ruangan.

Lebih dari itu, minyak angin juga sering dihubungkan dengan bau orang tua atau orang lanjut usia dan terkesan jompo. Namun, alih-alih takut diejek jompo padahal belum terlalu tua, Kenia lebih memilih bodo amat.

“Toh, teman-teman sekitarku yang usianya 30-an juga pakai,” kata Kenia. 

Minyak angin, kebutuhan primer orang jompo

Di usia 30-an, Kenia pun mengerti mengapa banyak orang tua sering mengoleskan minyak angin ke badan. Ternyata, faktor usia itu memang benar adanya. Melansir dari Medical Daily, tubuh usia 30-an dapat mengalami perubahan khususnya pada perempuan. 

Perubahan yang terjadi seperti massa tulang mulai berkurang, berat badan rentan bertambah, periode menstruasi yang berubah, hingga kulit yang rentan kering. Kelelahan di usia 30-an juga bisa disebabkan karena gaya hidup tidak sehat, kurang gerak, kurang tidur, pola makan buruk, hingga stres. 

“Entah kenapa di usia 30-an ini tubuh jadi nggak prima lagi. Mungkin karena jarang olahraga juga kali ya terus keseringan madep (menghadap) laptop. Mau nonton konser dan berdiri berjam-jam aja udah nggak kuat,” ucapnya.

“Setelah itu (konser) aku jadi sering pakai minyak angin untuk menghindari gigitan nyamuk. Makin ke sini, aku suka coba minyak dengan bau-bau lain yang meredakan pusing sama menghangatkan badan,” kata Kenia.

Melansir dari laman resmi Akademi Farmasi Cendekia Farma Husada, minyak angin yang mengandung minyak atsiri memiliki beragam manfaat, seperti mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, meredakan nyeri dan peradangan, hingga membantu pengobatan secara tradisional mulai dari flu, sakit kepala, dan gangguan pencernaan. 

Tak berani pakai di ruang umum atau kondisi ramai

Namun, Kenia sadar, tak semua orang seusianya bahkan orang lain menyukai bau minyak angin. Seperti dirinya yang saat kecil tak menyukai bau minyak tawon. Oleh karena itu, Kenia cukup selektif memilih bau minyak angin dan bijak untuk mengetahui kondisi sekitar.

“Kalau misalnya aku lagi ada di tempat umum, aku nggak akan pakai yang baunya menyengat atau biasanya aku pakai sedikit,” ujar Kenia. 

Salah satu merk yang dipakai Kenia adalah Green Oil Herbal, Minyak Angin Lang, dan Cap Kapak. Rata-rata, minyak tersebut mengandung aromaterapi dan klorofil yang membantu meredakan masuk angin, pusing, mual, mabuk, pegal-pegal, serta meredakan gatal akibat gigitan serangga.

Iklan

“Aku juga mau coba cari-cari merk lain gitu, jadi kayak ngoleksi saking sukanya,” ucap Kenia bersemangat. 

Dibandingkan dengan minyak bayi, koyo, FreshCare, Kenia mengklaim masih tetap menyukai minyak Cap Lang. Menurutnya, efek dari minyak Cap Lang lebih terasa daripada produk lain.

“Kalau minyak bayi rasanya kurang hangat, terus kalau koyo harus ditempel-tempel ke badan gitu kan, agak risih aja. Nah kalau FreshCare ini jujur aku nggak ada ketertarikan untuk nyoba. Mungkin karena aku udah nyaman dengan minyak angin ini ya,” jelas Kenia. 

Minyak angin legendaris tak lekang oleh waktu

Selain Cap Lang, sebagian anak menjelang usia 30-an juga memakai produk lain. Seperti Khumairoh yang menggunakan minyak angin Medicated Oil. Atau Eka yang lebih menyukai minyak Gandapura.

“Aku biasa pakai kalau tenggorokan udah mulai nggak enak. Ku oleskan saja di tubuh asal nggak di area hidung pas atau mata. Pedih pasti. Dan jangan nunggu batuk. Nanti biasanya aku nggak jadi batuk. Tapi baunya memang kuat bagi aku,” kata Khumairoh. 

“Aku biasa pakai Gandapura setelah mandi terus mau tidur, wah itu badan rasanya rileks. Nyeri otot sama pegal-pegal di badan jadi hilang,” ucap Eka.

“Apalagi pas musim dingin atau hujan ya, kan musim sakit. Aku sering olesin minyak angin ke tubuh sambil pakai kaos kaki, baca buku di rumah, pokoknya biar rileks aja gitu biar nggak sakit,” kata Kenia. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 April 2026 oleh

Tags: Cap Langfreshcareminyak anginnasihat dari usia 30-anpemuda jompousia 30-an
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Keluh Kesah Ibu Rumah Tangga Umur 30-an, Nganggur Nggak Enak Cari Kerja Susah MOJOK.CO
Kilas

Keluh Kesah Ibu Rumah Tangga Umur 30-an, Nganggur Nggak Enak Cari Kerja Susah

23 Desember 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengamen di kampung Jombang bisa datang 4-5 kali dalam sehari MOJOK.CO

Tinggal di Jombang Selatan: Tiap Hari Rumah Didatangi 4-5 Pengamen Keras Kepala dari Pagi-Malam karena Terlanjur Tuman

22 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah MOJOK.CO

MTQ Nasional XXXI Jateng: Warna Baru Festival Al-Qur’an Terbesar dan Adem Ayem di Semarang

25 Juni 2026
PNS di desa.MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Memang Hidup Makmur, tapi Bikin Tak Berkembang karena Budayanya Toksik dan Membosankan

22 Juni 2026
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.