Sebagai sarjana Akuntansi dari PTN ternama, Riko (26) idealnya memang kerja kantoran. Namun, pemuda asal Klaten ini memilih jalan yang membuat ijazahnya “sia-sia” bahkan dan keluarganya mungkin mengelus dada. Ya, ia memilih bekerja sebagai tukang pijat.
Meski kerap dihina dan diremehkan, nyatanya Riko rutin mengantongi uang tunai Rp200 ribu per hari. Angka ini jelas mengalahkan gaji teman-temannya yang setiap hari memakai lanyard mentereng di perusahaan startup tempat bekerjanya dulu.
Resign dari startup karena pekerjaan elite tapi gaji sulit
Keputusan Riko membuang status pekerja kerah putih bukan tanpa perhitungan. Semua berawal dari hitung-hitungan logisnya saat ia masih bekerja kantoran di sebuah startup di Jogja.
Di awal kariernya, Riko hidup layaknya standard sukses anak muda kekinian. Ia adalah tech-bro sejati. Bekerja di ruang ber-AC, berbaju kasual, dengan gaya kerja yang nyantai.
Namun, pekerjaannya itu cuma keren di luar saja. Aslinya, bikin dia menderita.
Dengan gaji setara UMR Jogja yang saat itu berkisar Rp2,4 juta, gaya hidup startup justru pelan-pelan mencekiknya. Gaji tak seberapa, tuntutan nongkrong di tempat mahal pun datang setiap hari.
“Logikanya begini, gaji saya cuma segitu, tapi biaya hidup jauh lebih gede. Belum sampai tanggal 15, saldo rekening udah habis,” katanya, Kamis (23/4/2026).
Ujung-ujungnya, Riko terpaksa berhemat nyaris tiap hari. Jangankan buat nabung atau transfer bulanan ke orang tua. Buat urusan perut saja dia mengkis-mengkis.
Membunuh gengsi, dan mantap jadi tukang pijat
Lelah berpura-pura mapan, insting bertahan hidup Riko menyala. Ia tidak mencari pelarian yang muluk-muluk, tetapi memilih kembali ke akar.
Sejak SMA, Riko sebenarnya sudah terbiasa memijat. Ayahnya di kampung adalah seorang tukang pijat. Riko tumbuh dengan melihat ayahnya memijat tetangga. Dan, dari hasil memijat itu juga ia bisa kuliah sampai lulus S1.
“Ya yang namanya orang tua, nggak pengen anaknya niru mereka. Harapannya kan saya kuliah biar nggak jadi tukang pijat kayak bapak,” kata Riko.
Namun, di kota, Riko justru melihat keahlian memijat ini sebagai peluang bisnis. Di kantornya, teman-temannya sering mengeluh sakit pinggang. Mereka juga cerita, tiap kali manggil tukang pijat, tarifnya bisa Rp50-100 ribu.
“Pikir saya waktu itu, pasar ini nggak akan pernah mati. Banyak anak muda yang ternyata suka dipijat.”
Namun, Riko juga sadar ia tidak bisa sekadar menjual jasa sebagai “tukang urut”. Ia butuh profesionalitas. Makanya, ia minta izin ke bapaknya untuk mendaftar kursus pijat bersertifikat.
Awalnya, keputusan ini sempat ditentang. Namun, karena dia bersikukuh, ayahnya memberinya uang untuk ikut kursus selama enam bulan.
“Jadi kita itu diajarin buat paham letak fascia, trigger point saraf, sampai bisa membedakan masalah yang dialami misalnya atlet sama pekerja kantoran gitu. Profesional banget, karena langsung diajarin sama terapis sport massage.”
Pekerjaan dianggap kampungan. Dinyinyirin teman bahkan tetangga
Setelah enam bulan, Riko berhasil menyelesaikan kursus. Namun, mengantongi sertifikat dan keahlian, nyatanya tidak serta-merta membuat hidupnya kebal dari cibiran. Memilih jalan resign dan banting setir jadi tukang pijat, bikin ia dipandang miring oleh teman-temannya.
Bagaimana tidak. Pekerjaan ini dianggap “terlalu kampungan” untuk anak muda. Tiap bekerja, harus siap-siap bau khas minyak urut hingga balsam. Di saat teman-teman sebayanya sibuk memamerkan nama jabatan di profil LinkedIn, Riko tidak punya status apa pun untuk dipamerkan.
“Cuma bisa flexing jabatan di bio Whatsapp,” kata dia.
Tak cuma dari teman. Keluarga besar dan tetangganya bahkan merasa uang belasan juta yang dibayarkan untuk UKT hangus sia-sia. Mereka menganggap pekerjaan Riko tidak butuh otak dan bisa dilakukan siapa saja asal bertenaga. Padahal, Riko butuh ketelitian agar pasiennya tidak cedera atau salah urat.
“Dipikir jadi tukang pijat itu bisa asal urut. Ini ada ilmunya, sama kayak pekerjaan lain.”
Jadi tukang pijat penghasilannya 2 kali UMR Jogja
Orang-orang boleh saja memandang pekerjaan Riko ini nggak keran. Namun, nyatanya, pekerjaan ini sangat menghasilkan.
Menjadi tukang pijat memang menguras fisik. Riko tidak menampik bahwa jempolnya sering kram dan pinggangnya ikut pegal setelah menangani tiga sampai empat pasien dalam sehari.
Namun, jerih payahnya ini, ia berhasil mendapat bayaran bersih Rp200 ribu per hari.
“Apalagi kalau sudah punya langganan. Bisa minta dipijat seminggu sekali,” kata dia.
Awalnya, Riko mendapat pelanggan dari teman seprofesi. Sampai akhirnya, dari mulut ke mulut, banyak yang mengaku puas dan merekomendasikannya sebagai tukang pijat tetap. Pelanggannya pun beragam, dari berbagai lapisan usia, meskipun mayoritas adalah bapak-bapak PNS atau pekerja kantoran.
Dalam sebulan, pendapatan Riko bisa menyentuh angka Rp6 juta. Angka ini dua kali lipat melampaui UMR Jogja dan gaji teman-temannya di startup dulu.
“Aku nggak perlu malu. Bahkan, tiap kenalan sama cewek gitu, ditanya kerjanya apa ya saya jawab tukang urut. Dengan penuh kepercayaan diri,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Gelar Sarjana Akuntansi Tak Guna, Akhirnya Pilih Kuliah S2 dan Nekat Cari Beasiswa dari “Ordal” dengan Harapan Kerja di Perusahaan Besar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














