Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Mei 2026
A A
Gedebage, Bandung.MOJOK.CO

Ilustrasi masalah di kota bandung (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bandung adalah kota yang problematik. Penuh dengan masalah kronis yang seolah dibiarkan saja oleh pemerintahnya dan bikin anak mudanya frustrasi. Satu-satunya hal yang bisa mereka banggakan dan menjaga kewarasan adalah Persib.

***

Harus saya akui, dulu saya sempat terjebak dalam romantisme Bandung sebagai kota yang indah dan nyaman ditinggali. Wajar saja, sudut pandang saya adalah sebagai turis. 

Seumur hidup, saya baru tiga kali menginjakkan kaki di Bandung. Itu pun tidak pernah tinggal lama, hanya kunjungan singkat dua atau tiga hari karena ada acara tertentu atau menonton konser musik.

Bagi pendatang yang cuma singgah sebentar, Bandung memang terasa menyenangkan. Udara sejuk (di beberapa daerah atas), banyak kafe “lucu”, dan anak muda yang saya kenal juga ramah.

Namun, ilusi itu pelan-pelan luntur setelah saya banyak mengobrol dengan kawan-kawan yang lahir dan besar di sana. Dari cerita mereka, mata saya terbuka bahwa Bandung ternyata kota yang cukup problematik. 

Bagi kawan-kawan yang menaruh perhatian pada isu perkotaan, tata ruang Bandung menyimpan sisi gelap berupa penggusuran yang brutal. Kasus Tamansari dan Dago Elos adalah bukti nyata bagaimana ruang hidup warga direbut paksa demi dalih penataan kota dan kepentingan komersial. Estetika yang dinikmati turis rupanya dibangun di atas tangisan sebagian warganya.

Namun, bagi warga kelas pekerja pada umumnya, masalah Bandung tidak berhenti pada konflik lahan. Kota ini menyimpan penyakit kronis yang membuat warganya menderita setiap hari. 

“Tua di jalan” karena transportasi umum amat jelek

Masalah kronis Bandung, salah satunya diungkapkan Awan (27), seorang pekerja swasta asli Kota Kembang. Keluhan pertamanya adalah soal transportasi publik. 

Bagi warga lokal, hidup di Bandung berarti harus rela tua di jalan. Transportasi umum masih sangat terbatas, angkot mulai ditinggalkan tapi penggantinya belum memadai. Alhasil, ojek online pun jadi satu-satunya andalan.

“Coba tanya ke mahasiswa yang pada kuliah di sini. Kalau nggak punya motor sendiri, ya susah, karena transportasi publik memang sejelek itu,” kata Awan, Sabtu  (23/5/2026).

Awan menambahkan, penderitaannya memuncak setiap akhir pekan tiba. Ketika warga lokal ingin istirahat atau keluar rumah, kota mereka justru “diinvasi” oleh lautan kendaraan berpelat luar kota. 

Ujung-ujungnya, warga lokal lebih memilih mengurung diri di rumah ketimbang harus stres menghadapi macet.

Uneg-uneg Awan bukan isapan jempol. Berdasarkan laporan lembaga navigasi global TomTom Traffic Index 2024, Bandung resmi dinobatkan sebagai kota termacet nomor satu di Indonesia, mengalahkan Jakarta. Sementara di tingkat global, kemacetan Bandung menduduki peringkat ke-12 dunia.

Iklan

“Minimal orang Jakarta masih enak, macet tapi transportasi publiknya memadai. Banyak opsi. Lah kami, busuk banget.”

Banjir di Bandung jadi masalah menahun

Banyak quotes berseliweran bilang, “hujan di Bandung itu terasa syahdu dan romantis.” Namun, bagi Awan, mendung gelap saja sudah terasa ancaman, apalagi hujan. 

“Kalau di Bandung hujan deras agak lama sedikit, mending nggak usah ke mana-mana, pasti ada jalan yang tenggelam,” keluh Awan.

Faktanya, Bandung memang punya masalah tata kota yang semrawut. Salah satu ironi terbesar ada di kawasan Gedebage, Bandung Timur. 

Kawasan yang dulunya rawa dan resapan air ini disulap habis-habisan menjadi pusat keramaian baru. Mulai dari Stadion GBLA, Masjid Al-Jabbar, sampai stasiun kereta cepat. 

Sayangnya, pembangunan megah itu tidak dibarengi dengan sistem drainase yang memadai. Hasilnya, setiap musim hujan, kawasan Gedebage rutin berubah menjadi kolam raksasa yang melumpuhkan lalu lintas di sekitarnya.

“Bandung Lautan Sampah”

Masalah lain yang bikin Awan sering merasa malu dengan kotanya sendiri adalah pengelolaan sampah. Bandung seolah hanya bersih di titik-titik wisata. 

Begitu masuk ke area permukiman atau jalan-jalan raya tertentu, tumpukan sampah mudah sekali ditemukan.

Data dan rekam jejak pemerintah membuktikan betapa rentannya kota ini. Bandung Raya sangat bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang sebenarnya sudah kelebihan kapasitas (overload) sejak bertahun-tahun lalu. 

Puncaknya pada pertengahan 2023, saat TPA Sarimukti kebakaran, sistem pengangkutan sampah di Bandung langsung lumpuh total. Status darurat sampah ditetapkan, dan warga dipaksa hidup berdampingan dengan gunungan sampah yang membusuk di sudut-sudut kota.

Persib, penyelamat kewarasan anak mudanya

Di tengah semua rasa frustrasi menghadapi macet, banjir, dan bau sampah, lantas apa yang membuat orang Bandung tetap bertahan dan mencintai kotanya?

“Kalau bukan karena Persib, Bandung itu overrated,” kata Awan sambil tertawa getir. “Sumpah, mending jangan pernah bercita-cita tinggal di sini.”

Bagi Awan dan jutaan warga lokal lainnya, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Persib adalah oase di tengah kacaunya tata kelola kota. 

Ketika pemerintah gagal memberikan kenyamanan hidup bagi warganya, sepak bola mengambil alih peran tersebut. Bagi Awan, Persib menjadi simbol kebanggaan yang belum direbut dari mereka. 

Lebih dari itu, kecintaan pada klub ini menjadi “perekat” sosial yang sangat kuat bagi anak mudanya, menghidupkan kolektif-kolektif suporter dan pertemanan yang solid di gerakan.

Jika kita melihat linimasa X baru-baru ini, narasi yang Awan sampaikan juga bergema sangat keras. Setelah Persib secara resmi menjuarai Liga 1 untuk ketiga kalinya secara beruntun, banyak warga Bandung yang menyuarakan hal yang sama. 

Mereka terang-terangan mencuitkan bahwa kemenangan Persib adalah satu-satunya pelipur lara yang membuat mereka bisa melupakan sejenak kacaunya hidup di kota ini.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kecamatan Gedebage Bandung Rusak karena Salah Urus Pemerintahnya, Warga Menderita oleh Banjir dan Bau Busuk Sampah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Mei 2026 oleh

Tags: Bandungbanjir di bandungDago Eloskemacetan di bandungkota bandungmasalah sampah bandungPersibPersib Bandungpersib juara liga 1pilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Jagat

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Duta Besar Belanda. dan Jerman terkesan usai bersepeda menyusuri desa di Prambanan, Klaten MOJOK.CO
Kilas

Bersepeda Susuri Desa di Prambanan Klaten bikin WNA Terkesan Ramahnya Warga Jateng, Sampai Usulkan Kota Ramah Sepeda

21 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO
Catatan

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Melihat semarak event lari Tidar Borobudur 10K yang diikuti 8000 pelari, Magelang punya potensi jadi jujukan sport tourisme MOJOK.CO

Rute Lari Sejuk dan Nyaman di Magelang, Jadi Destinasi Sport Tourism seperti Tidar Borobudur 10K yang Diminati Banyak Orang

24 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.