MOJOK.CO – Supra X 125 sudah menjadi bagian keluarga kami. Motor Honda ini memang paling tahan hidup menderita, bahkan nggak masuk akal.
Keluarga di atas segalanya. Itu adalah arti dari sebuah kalimat dalam Bahasa Latin berbunyi, “Familia supra omnia.” Kutipan ini mengingatkan saya pada kutipan lain yang juga terkenal dari film The Godfather, ketika Vito Corleone bilang, “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”
Tapi, tulisan ini bukan tentang laki-laki atau perempuan. Ini tentang sebuah keluarga, juga tentang sepeda motor merek Honda Supra X 125 dengan pelipit warna hitam abu. Namanya Supa’i.
BACA JUGA: 10 Tahun Mengendarai Honda Supra X 125 Adalah Salah Satu Kebanggaan dalam Hidup Saya
Supra X 125 wujud cinta orang tua
Supra X 125 ini datang di awal 2012, kalau tidak salah, Januari. Ketika itu kami masih sekira 50 hari jadi manten anyar. Karena datang melalui KAI Logistik, kami harus menjemput motor Honda itu di Stasiun Jember.
Seorang teman Mapala bernama Matyas Catur Wibowo alias Blendes, dialah yang membantu kami ambil Supa’i di stasiun. Supra X 125 itu masih kinyis-kinyis, dengan kode plat nomor kendaraan bermotor yang berasal dari wilayah eks Karesidenan Bojonegoro.
Sungguh kontras, plat S di antara plat P. Kata orangtua saya di Tuban, Supa’i adalah hasil dari begitu banyak cinta. Jadi, ketika kami menikah, banyak orang-orang terkasih yang menitipkan amplop kepada orang tua. Nah, orang tua saya, tidak lantas memberikan uang tersebut kepada saya dan suami.
Kedua orang tua saya menambah sekian rupiah ke dalam yang amplop untuk menjadi Supra X 125 itu. Itulah salah satu wujud cinta dari kedua orang tua saya.
Supra X 125 tersebut memang tampan. Namun, orang-orang sudah telanjur menyebutnya sebagai sepeda wedok atau motornya cewek. Memang begitu budaya di negeri ini.
Motor roda dua saja punya jenis kelamin, sepeda wedok dan sepeda lanang. Ia yang tak punya tangki di belakang kemudi disebutnya sebagai sepeda motor perempuan. Dilengkapi dengan pelek/velg bintang, lengkap sudah ketampanannya.
Meskipun masuk kolom sepeda wedok, kami tetap menamai motor Honda tersebut dengan nama Supa’i. Tidak ada arti khusus selain hanya karena mudah diucapkan, dari Supra X ke Supa’i. Manalah saya mengira bila kelak Supa’i masuk terlalu dalam di hidup kami.
Baca halaman selanjutnya: Motor yang bisa memahami dan kuat menahan derita.














