Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Redaksi oleh Redaksi
4 April 2026
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu, orang Indonesia terbiasa menjerang air sebelum diminum. Aktivitas sederhana itu menjadi bagian dari rutinitas dapur—air direbus, didinginkan, lalu disimpan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kini, kebiasaan itu nyaris hilang. Galon air kemasan mengambil alih, hadir di rumah-rumah dan kantor, seolah menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal. Padahal, perubahan ini tidak terjadi secara alami, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kondisi lingkungan sekaligus strategi industri.

Nama Aqua menjadi contoh paling kuat. Ia bukan lagi sekadar merek, tetapi sudah menjadi istilah umum. Orang menyebut “minum Aqua” bahkan ketika yang diminum adalah produk lain.

Di balik itu ada Tirto Utomo, sosok yang sejak awal berani menjual sesuatu yang dulu dianggap tak masuk akal: air putih. Melalui pemasaran yang konsisten, kehadiran di berbagai acara besar, hingga membangun citra sebagai air yang aman dan sehat, Aqua perlahan mengubah cara orang Indonesia memandang air minum.

Namun, perubahan ini juga tidak lepas dari kegagalan sistem yang lebih besar. Di banyak negara, air keran bisa langsung diminum. Sementara di Indonesia, air PAM sering kali keruh, tidak stabil, bahkan diragukan kebersihannya. Situasi ini membuat masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap air yang disediakan negara, dan akhirnya beralih sepenuhnya ke air kemasan.

Akibatnya, kebiasaan minum kita pun berubah. Dari yang semula mandiri—memasak dan mengelola air sendiri—menjadi bergantung pada produk industri. Air yang seharusnya menjadi hak dasar, perlahan diperlakukan sebagai komoditas yang harus dibeli setiap hari.

Dari sini terlihat bahwa cara kita minum hari ini bukan sekadar soal kepraktisan. Ia adalah hasil dari pertemuan antara bisnis, kebijakan, dan kondisi lingkungan yang secara perlahan membentuk cara hidup kita tanpa banyak disadari.

Tags: air aquaAir minumjasmerahTirto Utomo

Terpopuler Sepekan

Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Andai ormas-ormas lain seperti Yakuza Maneges Kediri. Bukan tukang malak tapi garda depan berantas kekerasan seksual di pondok pesantren MOJOK.CO

Andai Ormas Lain seperti Yakuza Maneges Kediri: Dulu Dihina tapi Buktikan Sangat Berguna

5 Agustus 2026
Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
kesehatan mental dan stigma odgj mojok.co

Indonesia Darurat Depresi pada Remaja: Jangan Pernah Takut Mencari Bantuan Masalah Kesehatan Mental

31 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.