ADVERTISEMENT

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Usaha di desa bisa carut-marut karena racun bernama “kekeluargaan”

Di toko Bagus, racun berkedok kekeluargaan ini merajalela. Apalagi, sebagian karyawan di toko itu masih memiliki hubungan kerabat atau anak dari tetangga dekat yang dulu sengaja dititipkan bekerja kepada bapaknya Bagus. Batasan profesionalisme benar-benar lenyap.

Mobil pikap operasional toko seringkali dipinjam tiba-tiba tanpa meminta izin kepada Bagus. Alasannya hanya untuk mengangkut gabah dari sawah. Belum lagi kebiasaan karyawan yang dengan santai mengambil segenggam paku, kawat sisa, atau semen dari toko untuk mendandani rumah mereka sendiri. 

Kalau Bagus menegur, jawabannya selalu berlindung di balik tameng persaudaraan. “Halah Mas Bagus, sama kerabat sendiri masa perhitungan.” Kira-kira demikian kalimat yang sering didengar Bagus.

Merasa tokonya dikelola dengan cara yang semrawut, kesabaran Bagus akhirnya habis. Ia mencoba memberontak dengan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) ala perusahaan di kota. 

Bagus mulai memberlakukan aturan potong gaji bagi karyawan yang sering bolos tanpa kejelasan, melarang keras kasbon melebihi batas tertentu, dan mengunci kunci mobil pikap di laci kasir agar tidak sembarangan dipakai.

Bukannya membaik, langkah tegas ini malah memicu masalah baru. Karyawan-karyawannya yang tidak terima langsung mengadu kepada bapak Bagus. Sang bapak, yang sudah bertahun-tahun merawat hubungan baik dengan warga desa, langsung turun tangan mengintervensi aturan tersebut.

“Ya Bapak cuma bilang, kayak, ‘sudah le, nggak enak sama tetangga. Apalagi itu masih keponakan Mbahmu sendiri. Biarkan saja.’ Gitu-gitu lah, kan aku muak juga lama-lama.”

Bagus tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tersandera oleh budaya sungkan dan campur tangan orang tuanya sendiri. Ia sama sekali tidak punya kuasa penuh di tokonya. Aturan yang ia buat batal demi hukum adat kekeluargaan yang telanjur mengakar.

Akhirnya, niat awal Bagus untuk menikmati slow living di desa hancur berantakan. Niat hati menjelani hari-hari penuh kedamaian dengan meneruskan usaha milik keluarga di desa, ia malah dibikin stres tak karuan.

“Kalau kamu nggak siap, memang kalau masih muda baiknya kerja aja kantoran di kota. Atau apa aja deh, yang penting jangan sok-sokan mikir bisa slow living di usia muda,” kata Bagus, yang sejak akhir 2025 lalu memutuskan kembali kerja kantoran di Semarang.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh .

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.