Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Februari 2026
A A
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Ilustrasi - slow living (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Slow living di Jawa Tengah cuma jadi romantisisasi orang-orang luar, seperti Jakarta. Sementara bagi warga asli, narasi ini lebih terdengar sebagai omong kosong. Bagaimana bisa seseorang hidup “slow” dengan upah pas-pasan tapi pengeluaran besar?

***

Iklan

Kalau kamu mengetik kata kunci “kota pensiun” atau “tempat paling nyaman dihuni” di mesin pencari, algoritma hampir pasti akan menggiringmu ke satu provinsi: Jawa Tengah. Bayangan tentang sawah yang menghampar hijau, latar Gunung Merbabu atau Merapi yang gagah, serta pagi yang berkabut dengan secangkir teh atau kopi, adalah imajinasi yang dijual mahal di media sosial. 

Istilah kekiniannya: slow living. Sebuah konsep hidup melambat, menikmati setiap detik yang berjalan tanpa dikejar target kerja gila-gilaan, dan menjauh dari hiruk-pikuk metropolitan yang bikin pening.

Salatiga, Magelang, Temanggung, konon surganya slow living

Narasi tersebut tumbuh subur. Kota-kota seperti Salatiga, Magelang, hingga Temanggung didaulat sebagai surga bagi mereka yang ingin menepi. Salatiga dengan udaranya yang sejuk dan toleransinya yang tinggi, Magelang dengan tata kotanya yang rapi, serta Temanggung yang tenang di lereng gunung. 

Bagi warga Jakarta yang setiap hari bertarung dengan macet dan polusi, narasi ini terdengar indah. “Pindah ke Jateng, hidup tenang, biaya murah.” Begitu kira-kira narasi yang liar di media sosial.

Sayangnya, bagi warga lokal, romantisme itu seringkali terasa seperti omong kosong. Bagi mereka, slow living di Jawa Tengah hanyalah mitos. Yang nyata adalah gaji kecil, harga kebutuhan pokok yang tak beda jauh dengan kota besar, serta biaya sosial yang mencekik leher.

UMR kecil, tapi biaya hidup besar

Mari bicara angka, karena angka tidak pernah berbohong. Narasi biaya hidup murah di Jawa Tengah seringkali dijadikan pembenaran untuk melanggengkan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMR) yang rendah. 

Pada tahun 2025, rata-rata UMR di kota-kota “slow living” ini masih berkutat di angka Rp2 jutaan. Banjarnegara atau Wonogiri bahkan masih ada di kisaran angka yang membuat kita mengelus dada jika dibandingkan dengan biaya kebutuhan dasar.

Bandingkan dengan Jakarta, Bekasi, atau Karawang yang UMR-nya sudah menembus Rp5 juta. Selisihnya bisa dua kali lipat lebih. “Ya kan biaya hidup di Jateng murah,” kilah para pembela narasi ini.

Benarkah?

Bayu (28), seorang desainer grafis yang bekerja di sebuah agensi lokal di Magelang, tertawa getir saat mendengar kalimat itu. Bayu adalah representasi anak muda Jawa Tengah yang sudah muak dengan romantisisasi kemiskinan di daerahnya.

“Orang luar lihatnya kita santai, padahal kita ngap-ngapan. Gaji UMR di sini itu cuma cukup buat bertahan hidup, bukan menikmati hidup, apalagi slow living slow living-an,” ujar Bayu, Selasa (10/2/2026)

Ia merinci pengeluarannya. Harga bensin Pertalite di Magelang, misalnya, sama persis dengan di Jakarta Selatan. Harga minyak goreng, beras, dan telur, juga mengikuti harga pasar nasional. 

Bahkan, jika kamu ingin membeli sepatu branded atau gawai terbaru, harganya tidak lantas didiskon 50 persen hanya karena kamu tinggal di kaki Gunung Sumbing.

“Kopi di kafe-kafe estetik di sini juga sekarang harganya sudah Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Kalau UMR cuma Rp2,1 juta, nongkrong dua kali seminggu itu sudah mewah banget,” katanya. 

“Jadi, slow living itu cuma buat orang Jakarta yang pindah ke sini bawa tabungan miliaran. Buat kami? Kami harus kerja keras, kadang double job, cuma buat dianggap hidup layak,” tambah Bayu dengan nada frustrasi.

Biaya “rukun” yang bikin tambah mahal

Masalah finansial di Jawa Tengah tidak berhenti pada rasio gaji dan harga barang. Ada hal lain yang lebih “menakutkan” bagi isi dompet, meski seringkali tabu untuk dibicarakan: biaya sosial atau rukun.

Iklan

Jawa Tengah sangat memegang teguh budaya guyub rukun. Di permukaan, ini terlihat indah. Gotong royong, saling membantu, dan kedekatan antartetangga. Namun, di balik itu, ada ongkos sosial yang sangat mahal, dan harus dibayar tunai.

Di desa-desa atau pinggiran kota tempat slow living didengungkan, hidupmu bukan sepenuhnya milikmu. Hidupmu adalah milik tetanggamu juga.

Ratna (30), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Salatiga, misalnya, merasakan betul beratnya beban ini. Ia menyebut budaya “sumbang-menyumbang” atau sebagai pengeluaran tak terduga yang paling menguras emosi dan ekonomi.

“Di sini, kalau ada orang hajatan nikah, sunatan, atau bahkan orang meninggal, kita wajib datang dan ‘ngamplop’. Dulu mungkin 20 ribu pantas, sekarang standar kepatutan itu minimal 50 ribu. Kalau teman dekat atau saudara, ya harus 100 ribu atau lebih,” cerita Ratna.

Masalahnya, hajatan di desa tidak mengenal musim libur. Saat bulan-bulan baik dalam penanggalan Jawa, seperti bulan Besar atau Rejeb, undangan bisa datang bertubi-tubi.

“Pernah dalam seminggu ada empat undangan. Itu saja sudah keluar 200 ribu. Belum lagi iuran ini-itu. Ada iuran kematian, iuran 17-an, iuran perbaikan jalan, jimpitan ronda. Gaji suami yang pas-pasan itu kadang habis cuma buat ‘nyumbang’ biar nggak diomongin tetangga,” keluhnya.

Baca halaman selanjutnya…

Mana bisa slow living. Kelihatan santai dikit malah jadi cibiran tetangga.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: jawa tengahkota pensiunkota pensiun jawa tengahpilihan redaksislow livingslow living jawa tengah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.