Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

Amanatia Junda oleh Amanatia Junda
29 April 2026
A A
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Ilustrasi Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebelum menghujat orang tua yang menitipkan anak di daycare, coba tanya dulu: mereka benar-benar punya pilihan, atau memang kita semua hidup dalam sistem yang tidak pernah memberi pilihan itu?

Menjadi orang tua tidaklah mudah. Menjadi orang tua pemula jauh lebih berat. Dan menjadi orang tua pemula yang jauh dari keluarga besar jauh lebih berat

Tapi percayalah, menjadi orang tua pemula dari hari pertama kehamilan hingga dua tahun pertama usia anak adalah babak yang sangat genting untuk orang dewasa seperti saya. Semua keputusan yang diambil seolah penuh risiko, semua pilihan yang diambil bagai pertaruhan..

Kasus kekerasan dan penelantaran di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, memicu amarah publik. Peristiwa ini tidak berhenti di situ. Ia juga memunculkan pertanyaan tentang kapasitas orang tua, terutama ibu. Lebih dalam lagi, kasus ini mengguncang kepercayaan. Bukan hanya terhadap layanan penitipan anak, tetapi juga terhadap diri sendiri. Terutama bagi mereka yang pernah memutuskan menitipkan anak di daycare.

Diskusi tentang daycare di media sosial belum pernah semasif ini. Kasus Little Aresha datang seperti tamparan keras. Sebelum itu, perdebatan tidak seramai sekarang. Para orang tua mulai bicara terbuka, umumnya ibu-ibu. Mereka membandingkan berbagai pilihan, daycare versi jasa pengasuh (PRT/Babysitter), atau dititipkan ke keluarga. Biasanya ke ibu atau mertua.

Mengapa orang tua memilih daycare?

Poin positif daycare sering muncul dari testimoni orang tua. Anak dianggap lebih mandiri, ritme harian lebih stabil, kebutuhan sosialisasi terpenuhi. Stimulasi lebih terarah, minim screentime hingga tumbuh kembang terasa lebih terukur.

Dibanding menyewa pengasuh atau meminta bantuan keluarga, daycare terlihat lebih profesional. Sistemnya jelas, terukur dan terkendali. Pengawasannya terasa lebih terkendali. Sementara itu, mencari pengasuh yang cocok di rumah sendiri susahnya minta ampun. 

Banyak orang tua yang akhirnya mencoba menjauh dari drama pengasuhan di rumah dengan mempercayakan sang buah hati pada daycare. Lembaga yang dianggap kredibel dan dibangun oleh orang-orang yang mengerti betul cara merawat bayi dan balita dengan baik. 

Daycare pun bermunculan di kota-kota besar, tumbuh subur terutama di kantong-kantong para pekerja kelas menengah.

Saya pernah membaca komentar seorang ibu di Threads. Ia bilang begitu. Pengalamannya justru positif. Tumbuh kembang anaknya terasa optimal sejak masuk daycare. Dari yang awalnya GTM, anaknya jadi doyan makan. Bahkan mulai hafal doa-doa sederhana.

Aib negara yang abai pada ibu dan orang tua

Namun, kasus Little Aresha dan kasus serupa sebelumnya seolah menggerus semua poin positif daycare. Kepercayaan itu runtuh seketika. Padahal, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut 75% orang tua memilih layanan ini. 

Mirisnya, 44% belum mengantongi izin, hanya 13,3% yang berbadan hukum, 20% belum memiliki SOP, 66,7% SDM-nya belum tersertifikasi. Saya mendapati angka-angka ini dengan terbelalak. 

Arifah Fauzi selaku menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak seperti membongkar aibnya sendiri. Seolah mengakui bahwa negara selama ini absen, tidak hadir. Fungsi pengawasan tidak berjalan. Kualitas daycare di Indonesia tidak terpantau. 

Bahwa negara tidak benar-benar menjalankan amanat konstitusional UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (disahkan pada 2024, kenapa baru 2024?!). Bahwa negara tidak sanggup menjamin rasa aman untuk para perempuan yang hendak dan sedang “berdaya” dengan menitipkan anaknya sejenak di daycare.

Iklan

Sebagai orang tua pemula, saya juga pernah menitipkan anak di daycare. Saya melakukan riset sebisa mungkin. Survei terbatas saya lakukan. Saya akhirnya memilih daycare kecil, dekat rumah. Saat itu anak saya berusia satu setengah tahun. Ia hanya dititipkan 3–4 jam. Anak saya sering absen karena batuk pilek jadi langganan. Saya anggap itu konsekuensi. Virus memang mudah menular di daycare.

Saya observasi dan catat emosi serta perkembangan anak setiap pulang daycare. Saya konsultasikan ke beberapa teman, saat ada yang mengganjal dari perilaku anak saya dan situasi daycare yang saya jumpai. Banyak sekali pengetahuan baru yang saya pelajari mengenai tarif, fasilitas, aturan, dan metode pengasuhan daycare. Saya timbang plus minusnya, saya timbang pula dampak positif dan negatif dari segala sisi.

Jangan salahkan ibu korban Litllte Aresha

Sebagai ibu pemula, saya menyusui penuh waktu. Hampir 24 jam bersama anak sejak lahir. Lalu datang momen sulit itu. Memutuskan anak masuk daycare. Keputusan ini penuh kehati-hatian. Dan tetap tidak mudah.

Saya harus membaca banyak tanda. Apakah anak sulit beradaptasi karena attachment issue? Atau ada yang salah dengan daycare-nya? Pertanyaan itu terus muncul. Tidak ada jawaban cepat. Semua terasa serba ragu.

Dari evaluasi pribadi, saya butuh tiga bulan. Tiga bulan untuk benar-benar mengganti model pengasuhan. Dari daycare ke pola pengasuhan lain. Itu pun karena saya punya pilihan. Punya waktu. Punya energi untuk memutuskan. Tidak semua orang tua punya kemewahan itu.

Karena itu, saya heran ada orang-orang yang menghakimi ibu-ibu korban Little Aresha. Mereka dianggap tidak peka. Tidak cukup peduli pada anak sendiri. Narasi yang muncul jadi sederhana. Warga menyalahkan warga.

Padahal kita sama-sama mau masuk surga jalur WNI. Masalahnya tidak sesederhana itu. Ini bukan sekadar soal kelalaian orang tua. Ini soal struktur yang rapuh, soal negara yang abai pada hak-hak warganya. Sampai kapan kita melihat kasus seperti ini sebagai kesalahan personal? Bukan sebagai kegagalan sistem yang seharusnya melindungi warganya? 

Tradisi yang hilang hingga daycare jadi andalan 

Dalam bukunya Parenting di Negara Gagal, Kalis Mardiasih menyebut kita mulai kehilangan ruang aman. Padahal dulu, hidup terasa lebih kolektif. Kita terbiasa saling menjaga, dan saling membantu.

Kini situasinya berubah cepat. Perkembangan zaman melaju tanpa jeda. Kita masuk ke pusaran kapitalisme. Tanpa sadar, kita mengalami keterasingan. Perlahan, kita tercerabut dari komunalisme.

Dulu, orang tua bisa mempercayakan anak pada tetangga, kerabat, sanak saudara atau keluarga besar secara bergantian. 

Sekarang dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, standar hidup berubah. Kepercayaan itu bisa dibeli, diotak-atik dengan strategi branding yang jitu. orang tua sekarang cerdas dan kritis, tapi sistem pasar sangat adaptif. 

Sementara itu, sudah terlalu banyak tuntutan, beban, ekspektasi, dan nilai-nilai baru yang menggeser kepercayaan kita atas semangat kolektif untuk membesarkan anak. 

Dulu, ada pepatah yang bilang butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak. Namun, ternyata sekarang butuh sekian duit untuk membesarkan anak. Kita tidak berdaya dalam jeratan pasar.

Jika menggunakan kacamata ekonomi, daycare terasa betul seperti bisnis. Sama halnya ketika saya membuka katalog pilihan paket melahirkan di rumah sakit, katalog mom and baby center dengan 101 varian pijat, dan katalog biaya masuk sekolah swasta. 

Berapa banyak uang Anda, di sanalah ada fasilitas komplit. Anda ingin akses CCTV? Di sanalah Anda bersedia membayar lebih mahal. 

Sementara itu, banyak orang tua nyaris tidak punya pilihan. Mereka harus segera kembali bekerja. Gaji pas-pasan, jauh dari keluarga hingga idup sebagai perantau. Tinggal di lingkungan yang tidak selalu akrab. Dengan segala dinamika itu, daycare menjadi opsi yang tampak paling masuk akal.

Apalagi yang ditawarkan terlihat menjanjikan. Anak Anda akan punya banyak teman, variasi kegiatan stimulasi, makan dan snack sehat, pemeriksaan dokter berkala, baby spa tiap bulan, dan masih banyak lagi.

Jika ada yang heran mengapa banyak orang tua begitu yakin menitipkan anak di daycare terkutuk itu, jawabannya sederhana: Little Aresha tampak meyakinkan. Struktur yayasannya terlihat rapi bahkan pengurus yayasannya punya gelar yang tidak sembarangan dengan jam terbang tinggi. Gedungnya lebih dari satu semua memberi kesan profesional.

Mereka memainkan trik marketing yang bahkan akhirnya sangat manipulatif. Terkadang, orang tua kadang tidak bisa meminta lebih karena merasa sudah diberi fasilitas yang lengkap. Terlebih daycare-daycare lain juga tampak serupa. Ini tidak hanya perkara daycare mahal versus daycare murah, tapi tentang bagaimana standar dan model daycare yang diciptakan pasar akhirnya dimanfaatkan Little Aresha sebagai sarang tindak kriminal.

Negara yang membiarkan daycare jadi bangunan yang dingin dan eksklusif

Daycare yang ada di Indonesia adalah rimba yang diatur oleh mekanisme pasar bukan negara. Oh baiklah, negara sudah membuat regulasi dari sejumlah peraturan menteri dan peraturan daerah. Namun, itu seolah masih menjadi dokumen tak bernyawa sementara praktiknya daycare sudah menjadi salah satu tulang punggung reproduksi sosial. 

Kontribusi daycare konkret. Agar ibu-ibu bisa kembali leluasa memasak dan beres-beres. Bekerja, bersekolah, berkumpul, berserikat. Ibu-ibu juga bisa merawat mental mereka dalam jeda pengasuhan. 

Mereka ke salon, nonton bioskop, berbelanja, mengaji, tidur siang, atau bahkan maraton drakor. Sayangnya, semua kebutuhan itu jarang dianggap krusial oleh negara. 

Sehingga daycare tumbuh menjadi sebuah bangunan yang dingin, eksklusif, sebagian bahkan tak memiliki kamar dan halaman bermain yang layak. Lebih bnyak yang mengutamakan fasilitas AC dan ruang beralas playmat puzzle warna-warni.

Cenderung berjarak secara fisik dan emosi dengan orang tua. Padahal, sejatinya daycare adalah rumah kedua anak, tapi mayoritas orang tua antar jemput hanya sebatas pagar, teras, atau lobi. 

Daycare kerap memposisikan orang tua sebagai penganggu

Orang tua kerap diposisikan sebagai pihak yang “mengganggu”. Dianggap kurang bersih, mudah mendistraksi anak, dan bisa merusak ritme harian jika masuk melewati batas. Tidak banyak daycare yang memberi ruang bagi orang tua untuk hadir dengan santai, seperti bertamu ke rumah tetangga yang akrab—yang memungkinkan kita mencicip masakan di atas kompor, atau mengambil sejumput garam dan seruas lengkuas sendiri di dapur.

Keramahtamahan yang ada biasanya berhenti pada satu titik: ini fasilitas untuk anak Anda, bukan untuk Anda sebagai orang tua. Anak boleh tidur siang di sini, tetapi Anda tidak diizinkan menemani mereka bermain sejenak sampai benar-benar merasa aman. Seolah-olah, kehadiran orang tua justru harus dibatasi. Sementara di sisi lain, Anda juga dituntut serba cepat—rapat kantor sudah menunggu.

Dalam praktiknya, anak-anak diperlakukan dengan standar yang cenderung seragam. Padahal karakter mereka berbeda-beda. Metode pengasuhan diklaim cocok untuk semua anak, selama orang tua percaya. Di saat yang sama, sistem berjalan sangat administratif: ada invoice, ada aturan keterlambatan, ada tarif per menit jika jemput melewati waktu. Semua terasa rapi, tapi juga kaku.

Jika ditarik ke belakang, daycare sebenarnya lahir dari kebutuhan yang sangat konkret. Ia muncul pada masa Revolusi Industri, ketika para pekerja pabrik membutuhkan tempat untuk menitipkan anak. 

Kebutuhan ini makin menguat saat Perang Dunia I dan Perang Dunia II, ketika banyak perempuan masuk ke dunia kerja. Di banyak negara, daycare kemudian berkembang menjadi layanan sosial yang disediakan negara, bagian dari konsep Welfare State.

Pertanyaannya, kapan kita bisa merasakan hal yang sama? Daycare yang disediakan negara, hadir dekat dengan warga, seperti posyandu yang ada di hampir setiap dusun.

Menunggu langkah berani negara 

Lazimnya, pemerintah menyelenggarakan berbagai penyuluhan di hotel-hotel. Mengundang perwakilan bunda PAUD dan pengelola daycare. Ada sosialisasi, FGD, dan tawaran hibah bantuan. Format seperti ini akrab disebut “bimtek”, singkatan dari bimbingan teknis. Kegiatannya ada. Programnya berjalan, tetapi dampaknya sering terasa berhenti di situ.

Sebab, intervensi nyata di ruang hidup orang tua belum benar-benar terasa. Apakah cuti melahirkan sudah dijamin sebagai prioritas? Apakah kantor didorong menyediakan daycare dan tunjangan perawatan anak? Apakah pekerja di sektor pengasuhan mendapat upah layak dan akses konseling yang memadai? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung.

Kalau serius ingin berpihak pada perempuan, mestinya tidak cukup dengan regulasi dan pengawasan. Perlu langkah yang lebih berani. Daycare tidak hanya dilihat sebagai lahan bisnis, tetapi sebagai ruang solidaritas kolektif. Tempat yang benar-benar mendukung kerja perawatan, bukan sekadar menjual jasa pengasuhan.

Mungkinkah dimulai dari hal yang sudah ada? Misalnya merevolusi Posyandu agar punya fungsi lebih luas. Lebih dekat dengan kebutuhan orang tua hari ini. Pertanyaannya, adakah iktikad sejauh itu? 

Sanggupkah negara mengembalikan kepercayaan warga bahwa ia benar-benar hadir dalam kerja perawatan? Atau, sebagai ibu pemula, saya terdengar terlalu banyak menuntut?

Penulis: Amanatia Junda
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat dan tulisan Esai lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 April 2026 oleh

Tags: daycareibulittle areshaorang tuaperempuan
Amanatia Junda

Amanatia Junda

Amanatia Junda redaktur tamu Kanal Pemilu 2024 Suara Politik Perempuan.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO
Esai

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja
Aktual

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat MOJOK.CO

Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat

27 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.