Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Juli 2026
A A
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi Kebayoran Baru (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebayoran Baru memang berisik, sumpek. Namun, ia menjadi tempat terbaik bagi perantau Jakarta. Akses transportasi mudah, makanan masih murah.

***

Iklan

Bagi para perantau muda di Jakarta Selatan, arti kemewahan sering kali bergeser. Kemewahan bukan lagi sekadar kamar kos luas berpendingin ruangan atau suasana tenang ala apartemen bertingkat. 

Di kawasan pusat bisnis dan gaya hidup sekelas Kebayoran Baru, berhasil mendapatkan kamar kos dengan harga murah saja sudah dianggap sebuah kemewahan tersendiri.

Risikonya memang jelas. Kos harga miring di kawasan ini umumnya berada di gang-gang padat pemukiman. Ukuran kamarnya pas-pasan, sumpek, dan jauh dari kata tenang karena aktivitas warga yang nyaris tidak pernah putus.

Namun, kos bermodal terbatas di Kebayoran Baru tetap menjadi incaran utama para pekerja muda. Sebab, tinggal di titik strategis ini adalah pilihan logis yang dinilai mampu membereskan tiga masalah terbesar para perantau di ibu kota.

Bebas dari stres dan lelah di jalanan

Masalah nomor satu yang kerap menggerus fisik dan mental para pekerja perantau di Jakarta adalah kemacetan. Bagi mereka yang tinggal di daerah pinggiran demi harga sewa kamar yang murah, perjalanan menuju kantor di Jakarta Selatan adalah ujian kesabaran harian. Berjam-jam terjebak di jalan raya membuat energi sudah habis sebelum hari kerja dimulai.

Hal tersebut pernah dialami oleh Andin (25), seorang perantau dari Jawa Tengah yang bekerja di salah satu perusahaan media di Jakarta. 

Andin menceritakan bagaimana ia pernah merasakan lelahnya menempuh perjalanan jauh setiap hari dari kos lamanya di pinggiran kota.

“Dulu saya stres berat sebelum sampai kantor. Harus bangun jam lima pagi, langsung hadapi macet di jalan raya. Sekarang pas pindah ngekos di daerah Kebayoran Baru, meski kamarnya sempit dan agak berisik kalau malam, saya bisa bangun jam tujuh pagi. Fisik dan pikiran jauh lebih segar,” ujar Andin, Rabu (1/6/2026).

Pengakuan Andin nyatanya sejalan dengan realitas lalu lintas ibu kota. Berdasarkan laporan riset global TomTom Traffic Index, Jakarta masuk dalam jajaran kota termacet di dunia.

Pengemudi di Jakarta rata-rata kehilangan waktu sekitar 125 jam per tahun hanya karena terjebak kemacetan pada jam sibuk pagi dan sore. 

Tinggal di dalam kawasan Kebayoran Baru memangkas jarak tempuh secara drastis, sehingga para perantau seperti Andin tidak perlu membayar mahal kelelahan mereka dengan waktu istirahat yang terbuang percuma di jalan.

Akses transportasi publik bikin kantong nyaman

Selain menghemat waktu dan tenaga, masalah besar kedua yang diselesaikan oleh kos murah di Kebayoran Baru adalah tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi. 

Iklan

Memiliki sepeda motor atau mobil di Jakarta Selatan sering kali diikuti oleh serangkaian biaya bulanan yang membengkak, mulai dari cicilan kendaraan, anggaran bahan bakar, hingga biaya parkir gedung perkantoran yang sangat mahal.

Menurut Andin, keputusan tinggal di Kebayoran Baru membuatnya berani mengambil langkah ekstrem untuk menghemat pengeluaran bulanannya. Ia memilih untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi sama sekali.

“Kebayoran Baru itu pusat transportasi umum. Dari gang kos, saya cukup jalan kaki beberapa ratus meter sudah sampai di stasiun MRT atau halte Transjakarta. Bahkan untuk liputan atau pergi ke area gang kecil, ada armada JakLingko yang bisa naik gratis,” ungkap Andin.

Kebayoran Baru memang dikelilingi oleh hub transportasi utama seperti Stasiun MRT Blok M BCA, ASEAN, hingga Terminal Blok M. Jaringan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sendiri telah menjadi tulang punggung mobilitas warga dengan jumlah penumpang harian mencapai puluhan ribu orang, menawarkan ketepatan waktu tinggi tanpa hambatan kemacetan. 

Keberadaan ekosistem transportasi publik yang lengkap ini membuat perantau seperti Andin bebas bergerak ke seluruh penjuru Jakarta dengan biaya murah, membebaskan gaji bulanan mereka dari beban pengeluaran perawatan kendaraan bermotor.

Di Kebayoran Baru kuliner enak dan murah masih melimpah

Masalah ketiga sekaligus yang paling sering membuat dompet perantau jebol adalah biaya makan. Anggapan umum yang beredar di masyarakat adalah Jakarta Selatan merupakan kawasan serba mahal. 

Dikelilingi oleh deretan kafe estetis dan restoran mewah di kawasan Senopati atau Gunawarman, perantau baru yang belum paham medan sering kali terperangkap dalam pengeluaran konsumsi yang tidak terkontrol.

Namun, realitas di lapangan ternyata jauh berbeda dari mitos tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Ola (26), seorang perantau muda yang memiliki hobi berburu kuliner. 

Saat dihubungi secara terpisah, Ola menepis anggapan bahwa tinggal di tengah pusat gaya hidup Jakarta Selatan otomatis membuat pengeluaran harian menjadi boros.

“Banyak yang kira tinggal di Kebayoran Baru harus selalu makan di kafe mahal. Padahal sebaliknya, kawasan ini adalah surga makanan rakyat,” kata Ola, Kamis (2/7/2026).

“Di belakang gedung perkantoran atau di gang-gang pemukiman dekat kos, harga makanan malah murah meriah,” imbuhnya.

Ola menyebutkan sejumlah kantong kuliner legendaris yang bersahabat untuk ukuran dompet perantau. Mulai dari pusat jajanan serba ada di Pujasera Blok S, deretan warung tegal di kawasan Melawai dan Cipete yang buka 24 jam, hingga beragam kuliner kaki lima di sekitar Blok M Square. 

Keberadaan akses kuliner murah di dekat tempat tinggal ini memungkinkan perantau menyiasati pengeluaran makan tanpa harus mengisolasi diri dari pergaulan anak muda Jakarta Selatan.

“Semua ya balik lagi ke prioritas. Buat perantau dengan gaji pas-pasan seperti saya, tinggal di kos sempit dan berisik di Kebayoran Baru itu adalah pilihan paling masuk akal. Saya tetap bisa makan enak, tabungan tetap aman, dan hidup saya jauh lebih praktis,” tutup Ola.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2026 oleh

Tags: jakartajakarta selatankebayoran barukecamatan kebayoran barukerja di jakartakos kebayoran barukos murah jakartamerantaumerantau di jakartapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.