Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 April 2026
A A
Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian MOJOK.CO

Ilustrasi - Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjelang umur 25 menjadi momen pertama kali saya akhirnya bisa ngobrol agak dalam (deep talk) dengan bapak. Momen itu membuat kami akhirnya saling memahami alam pikir satu sama lain. Dalam konteks saya ke dia, saya akhirnya memahami betapa selama ini bapak amat kesepian, di saat saya mendefinisikan kondisi saya sebagai bagian dari fatherless. 

***

Jika meminjam definisi yang belakangan jamak dipakai, mungkin saja saya termasuk kategori fatherless—mengalami kekosongan peran bapak. 

Bagaimana tidak. Saya berjarak tidak hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dengannya bertahun-tahun nyaris tanpa tenda. 

Jauh sebelum menikah, bapak sudah menjadi TKI di Malaysia. Sampai sekarang pun dia masih menjadi TKI. Seringnya tiga tahun sekali dia baru pulang. Tapi durasinya di rumah tidak pernah lama: hanya tiga-enam bulan. 

Hubungan kami dingin belaka. Kalau tersambung lewat telepon, isinya hanya basa-basi. Sementara kalau kalau bapak di rumah, kami malah jarang bicara karena bapak lebih banyak diam. 

Dia memang ada dalam keluarga kami. Tidak melepas tanggung jawab memberi nafkah. Tapi rasanya dia tidak benar-benar hadir untuk kami (keluarganya). Kurang fatherless apa coba. 

Deep talk dengan bapak menjelang menikah

Saking dinginnya hubungan kami, saya bahkan tidak mengabari bapak perihal rencana pernikahan saya sejak jauh-jauh hari. 

Toh memang saya tidak hendak merepotkan siapapun dalam pernikahan saya. Terutama dari aspek biaya: sudah sejak lama saya bertekad menanggungnya sendiri. 

Toh saat saya menggelar lamaran pada pertengahan 2024 pun bapak tidak pulang dari Malaysia. Tanpa saya sadari, saya sudah sangat terbiasa dengan situasi fatherless. 

Pernikahan saya akan berlangsung pada awal 2025, saat usia saya persis di angka 25. Baru pada penghujung 2024 lah saya mengabari bapak. Itu pun hanya sekadar memberi informasi. 

Saya tidak bermaksud memaksanya pulang. Karena belajar dari sebelum-sebelumnya, “permintaan pulang” kepada bapak seringkali berakhir menjadi pertengkaran di keluarga kami. Saya tidak mau itu terjadi. 

“Kalau bisa, ya pulanglah. Kalau tidak, ya nggak masalah,” kata saya pada bapak melalui telepon. 

Tapi bapak ternyata pulang. Tidak banyak yang berubah. Dia tidak pernah bisa memulai percakapan dengan anaknya. Dan karena saya tidak mau hal itu terus-menerus terjadi, saya pun mencoba mengajaknya bercerita. Tidak sekadar cerita, tapi deep talk. 

Iklan

Deep talk mengurai lingkaran kusut fatherless

Kami kerap duduk berdua di teras rumah setiap menjelang Magrib. Berdua mengisap rokok untuk kemudian deep talk atas banyak hal. 

Ada momen ketika saya mengungkapkan perasaan mengganjal di batin saya: bahwa jika meminjam definisi orang sekarang, saya merasa fatherless. Punya bapak, tapi rasanya tidak hadir. 

Bapak susah payah menjelaskan. Tapi kira-kira begini: bapak lahir tanpa sosok bapak—karena meninggal saat bapak masih di dalam perut. Dia tidak pernah punya sosok ayah, tidak pernah tahu atau mencontoh dari mana perihal menjadi seorang bapak. Dengan kata lain, dia sebenarnya juga merasa fatherless. 

Kondisi fatherless membuat bapak kerap menyalurkan emosinya dalam konteks yang tidak tepat. Kalau dia gembira, dia hanya bisa diam. Kalau dia merasa bersalah, justru marah. 

Bahkan setelah bertahun-tahun, setelah saya tumbuh dewasa, juga setelah dia punya anak kedua (adik saya), bapak masih saja bingung bagaimana semestinya menjadi bapak. 

Dia hanya tahu satu hal: tugas bapak adalah mencari uang. Tapi dalam proses mencari uang itu dia sungguh merasa kesepian karena tidak merasa dekat secara fisik dan emosional dengan anak-anaknya. 

Melihat dari sudut pandang bapak: ia tidak pernah benar-benar marah kepada kami, tapi kepada diri sendiri

Seperti saya singgung sebelumnya: bapak punya masalah tidak bisa menyalurkan ekspresi dengan tepat. Misalnya begini: ketika ibu mengabari bapak perihal kebutuhan rumah tangga yang membengkak (kebutuhan sekolah saya dan adik, uang untuk nyumbang hajatan tetangga, dan lain-lain), reaksi bapak langsung marah. 

Saya pun sempat heran kenapa mesti marah. Seolah bapak tidak ikhlas memberi kami sesuatu. Saya ingat, marah paling besar bapak ke saya adalah ketika menjelang lulus SMA saya meminta dibelikan hp baru. 

Ada banyak momen serupa. Tiap saya, adik, atau ibu meminta sesuatu, respons pertama bapak pasti marah. “Kerja belum dapat uang, sudah diminta lagi buat beli ini, beli itu!” Begitu yang sering bapak ucapkan. 

Tidak pelak itu membuat kami kerap memendam banyak keinginan. Ibu pun mengajari–dan amat serius mendidik—kami soal menabung. Kalau mau beli sesuatu, ya kumpulkan uang sendiri dari menyisihkan uang hari ke hari. 

Momen deep talk akhirnya membuka tabir, bapak sebenarnya tidak pernah bermaksud marah atas permintaan kami. Ia justru sangat marah dengan dirinya sendiri. 

Marah karena sudah bekerja keras tapi uang tidak kunjung terkumpul. Marah karena sebagai kepala rumah tangga, ia tidak bisa langsung membelikan sesuatu yang keluarganya butuh/mau. Dia bersalah dan tidak berguna, dan itu membuatnya marah. 

Kesepian tapi selalu takut pulang

Lewat deep talk itu bapak juga bercerita, dia bukannya betah di negara orang. Bertahun-tahun dia menjalani hari demi hari dengan siksaan kesepian. 

Dia bangun tidur dengan perasaan kosong. Tidak ada istri yang bisa dia lihat sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Tidak ada anak-anak yang anteng di depan televisi sebelum berangkat sekolah. 

Di jam-jam istirahat kerja, dia hanya bisa menikmati kopi dan makan siang dengan hambar. Lalu malam hari, dia harus terus bersusah payah tidur. Karena dengan tidur lah dia tidak akan merasa kesepian. Dengan tidur lah dia tidak akan larut dalam lamunan yang membuat air matanya tiba-tiba menetes karena kangen rumah. 

Bapak selalu kangen rumah. Dia pun selalu ingin sering-sering pulang, sekali pulang juga dengan durasi lebih panjang di rumah. Namun, dia kepalang takut. Dalam benaknya, jika dia pulang, dia akan kesulitan mencari pekerjaan dengan upah layak sebagaimana yang dia dapat di Malaysia. 

Di Malaysia, bapak memang hanya seorang kuli proyek. Tapi upahnya jelas lebih baik dari kuli proyek di Indonesia.  Jika dia pulang ke Indonesia, kerja dengan upah rendah, dia takut tidak bisa memberi hidup lebih baik kepada keluarganya. 

Betahun-tahun beban itu dia simpan sendiri. Dia tidak pernah merasa “layak” bercerita. Sejak kecil dia sudah terbiasa memikul bebannya sendiri.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sesal Dulu Sering Kasar dan Hina Bapak, Kini Sadar Cari Duit di Perantauan dan Berkorban untuk Keluarga Tak Gampang! atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 April 2026 oleh

Tags: bapakdampak fatherlessdeep talkdeep talk dengan bapakfatherlessperan bapakpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android
Catatan

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Journaling

Journaling, Ringankan Beban Pikiran dan Perasaan untuk Lebih Berani Menikmati Hidup

13 April 2026
Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.