Terlalu santai dan sulit diajak komunikasi
Yang dimaksudkan Zanur dengan “slow” adalah sikap tidak langsung sigap dalam berkomunikasi. Jadi, biasanya, dia menemukan komunikasi akan terhambat dengan balasan yang tidak cepat.
Misalnya, dengan balasan cepat yang bisa mempersingkat waktu, pekerjaan bisa selesai dalam satu jam.
Namin, karena pekerja Jogja yang menikmati hidupnya kelewat syahdu, butuh waktu lebih banyak untuk menyelesaikannya. Bisa satu jam lebih, bisa berjam-jam lamanya, atau bahkan satu hari.
Intinya, kebiasaan jelek dalam berkomunikasi ini mengacaukan segalanya.
“Biasanya pasti komunikasi karena harus memastikan. Kalau kendala, misalnya dalam satu jam, tapi tidak fast response jadinya terhambat,” kata Zanur.
“Jadi mundur lagi,” tambahnya menyayangkan.
Dari kesalahan sekecil ini, Zanur bilang imbasnya bisa berujung pada berbagai masalah. Bisa jadi, pekerjaan akan terundur menjadi satu jam, atau lebih dari beberapa jam berikutnya baru bisa diselesaikan.
Ditambah, mereka bisa dihadapkan pada kemungkinan mendadak. Bisa berhenti mendadak, atau mengganti vendor secara mendadak, atau bahkan melanjutkan secara mendadak jadi atau tidaknya.
“Katakan misalnya kita udah deal, oke ini 2 minggu kelar ya, tapi dia belum ada kepastian misalnya dari vendornya. Itu pada akhirnya yang membuat menghambat, sehingga kan kita banyak hal-hal yang sifatnya nanti jadinya dadakan, yang seharusnya padahal tidak dadakan, karena udah kita plan, udah kita plan seideal mungkin, tapi tadi karena komunikasi terhambat, jadinya semua serba dadakan,” katanya menjelaskan.
Gemas dengan orang Jogja yang terlalu santai
Penemuan masalah semacam itu semakin sering, lebih dari sekali, ketika Zanur berpindah ke Jogja. Katanya, ia menemukan masalah-masalah komunikasi yang tidak terkendali.
Alasan utamanya, dari pengamatan Zanur, adalah budaya slow living yang kental. Jadilah, mereka bisa seolah menunda-nunda dan tidak terburu-buru pada tenggat pekerjaan.
Ini jelas berbeda dengan pekerja Jakarta. Hidup mati hanya soal kerja.
“Setelah pindah ke Jogja itu, banyak sekali yang kutemukan perihal komunikasi, mungkin aku nggak bisa judge, tapi maksudnya mungkin Jogja terkenal dengan budaya slow living gitu ya, kayak beda gitu intensitasnya terhadap pekerjaan,” jelasnya.
Zanur memberikan contoh, ketika dirinya memesan vendor di Jakarta. Yang terjadi adalah pekerja Jakarta yang mengejar-ngejar dirinya untuk membuat penawaran.
Sementara itu, pekerja Jogja justru sebaliknya.
Ia yang harus memastikan segala halnya, bahkan sampai berusaha menemui vendor secara langsung demi memastikan.
“Misalnya kita baru bertanya nih di Jakarta, mereka tahu karena mereka butuh uang gitu lho jadi mereka intens untuk mem-follow up kita,” katanya.
“Nah di Jogja ini udah hampir 2-3 kali aku temukan, malah misalnya aku yang mau beli ini kan, aku yang membutuhkan, memang sama-sama membutuhkan ya, tapi maksudnya ada keunikan ini harus aku yang kejar terus,” tambah dia.
Apabila membandingkan, Zanur mengakui harga di Jogja memang lebih murah. Secara Upah Minimum Provinsi (UMP) saja, DKI Jakarta senilai Rp5,7 juta sedang Jogja hanya Rp2,8.
Namun buatnya, perbedaan harga ini justru berbicara soal kualitas secara tidak langsung. Jakarta jauh mengungguli Jogja.
Pada akhirnya, ia bilang, bisa jadi pekerja Jogja tidak benar-benar bekerja. Melainkan, hanya sekadarnya karena terbiasa sederhana dan tidak ada tuntutan penghasilan—gambaran slow living sesungguhnya.
“Aku merasa kayak, wah ini, apakah orang Jogja gak butuh uang gitu?” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Aisyah Amira Wakang
BACA JUGA: Modal Ijazah SMA Merantau ke Jakarta demi Hidup Lebih Baik Malah Bernasib Sial, Pindah ke Jogja Makin Ngoyo Hidupnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














