Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Wisata Surabaya Membosankan, Cuma Punya Kafe Estetik di Jalan Tunjungan dan “Sisi Utara” yang Meresahkan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
23 Maret 2026
A A
Kebanyakan di Jogja saya merasa wisata di Surabaya membosankan selain Tunjungan. MOJOK.CO

ilustrasi - wisata Surabaya membosankan kecuali Tunjungan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Liburan di Surabaya terasa membosankan. Setidaknya, selama saya tinggal di sana, belum ada tempat wisata yang benar-benar memuaskan hati. Bahkan di momen Lebaran, yang ada hanya pemain inti—warga asli yang tidak mudik. Meski menyenangkan karena sepi, saya justru bingung: mudik dari Jogja ke Surabaya terus mau main ke mana? Pilihan satu-satunya ya Tunjungan.

Jalan Tunjungan Surabaya selalu jadi opsi pertama

2 tahun lalu saya meninggalkan Surabaya untuk merantau. Satu tahun di Jakarta dan satu tahun di Jogja. Sesekali saya pulang untuk menemui keluarga dan teman-teman dekat. Namun, ada hari yang mana kadang saya ingin lewong alias jalan-jalan sendiri.

Iklan

Masalahnya, Surabaya bukan kota yang dapat diromantisasi lewat pemandangan alamnya sebab ia jauh dari gunung maupun pantai. Kecuali, pantai Kenjeran yang (maaf) lebih sering disebut “lautan Milo” oleh warga setempat karena warna airnya yang keruh.

Maka, satu-satunya pilihan utama adalah Jalan Tunjungan atau Tunjungan Plaza (TP). Ibarat Malioboro di Jogja dan Blok M di Jakarta, Jalan Tunjungan tak pernah sepi pengunjung. Bahkan, ada ruko yang baru dibuka tahun 2025 seperti Loske Coffee dan Snack House, sehingga pengunjung seolah diberikan banyak opsi.

Tapi ya, pilihannya itu-itu lagi. Kafe estetik terkhusus milenial dan Gen Z, walaupun tak bisa dipungkiri banyak juga rombongan keluarga yang menghabiskan waktu di sana. Namun, jumlahnya tak lebih banyak dari anak muda dress well yang nongkrong hingga malam.

Untuk jalan-jalan ke Tunjungan pun, rasanya tak cukup hanya mengantongi uang Rp20 ribu kecuali kalau cuma ingin beli air mineral. Wong parkir sepeda motor saja sudah Rp5 ribu.

Tapi mau bagaimana lagi, Jalan Tunjungan selalu jadi jujugan utama saya dan teman-teman untuk nongkrong maupun jalan-jalan di tengah banyaknya opsi destinasi yang sudah kami list. 

3 alasan tak berkunjung ke tempat lain

“Kenapa nggak ke Kota Tua? Pos Bloc? Balai Pemuda? Surabaya North Quay? Atau Food Junction Grand Pakuwon? Misalnya,” tanya saya suatu ketika kepada April (25), seorang teman yang juga asli Surabaya. Setidaknya, ini penjelasan menurutnya.

Pertama, cuaca di Surabaya akhir-akhir ini tidak menentu. Pagi sampai sore, panasnya pasti nggak umum. Sore ke malam berpotensi hujan lebat. Kalau pun tidak hujan, biasanya hanya mendung. Jadi, tempat-tempat yang cenderung terbuka dan jauh dari pusat kota, seperti Surabaya North Quay maupun Food Junction Grand Pakuwon jelas ia hindari.

Kedua, acara yang ditawarkan oleh tempat tersebut. Lain dengan mal yang jelas menawarkan barang, makanan, atau minuman, tempat publik seperti Balai Pemuda atau Pos Bloc biasanya baru ramai di hari-hari tertentu. Seperti seminar, talkshow, pameran, pertunjukan seni, festival komunitas, konser lokal, hingga bazar.

Ketiga, keamanan dan kenyamanan pengunjung mestinya menjadi prioritas utama. Bukan rahasia umum lagi kalau kawasan Surabaya Utara memiliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi.

Pemerintah Kota Surabaya mencatat sudah ada lebih dari 100 kasus premanisme dan pencurian kendaraan bermotor dalam beberapa bulan terakhir di Mei 2025. Bahkan, mereka membentuk Satgas Antipremanisme dan Satgas Reformasi Agraria akibat maraknya konflik sengketa tanah. 

Kasus ini belum termasuk begal, parkir liar, pencurian kabel tanam hingga sejumlah kursi besi di kawasan Kota Lama maupun Kenjeran yang sering diresahkan oleh warga. 

Dengan adanya stigma di atas, saya dan kawan-kawan pun jadi malas pergi ke tempat lain kecuali Tunjungan. Hal ini pun membuat saya jadi berpikir, mengapa destinasi wisata yang ada di Surabaya kurang menarik bahkan berpotensi mangkrak? 

Iklan

Padahal, Surabaya sebagai Kota Pahlawan sebenarnya tidak kekurangan potensi dibanding Jogja. Selain tempat wisata yang sudah saya sebutkan di atas, kota ini juga punya destinasi wisata lain seperti museum, monumen, kebun binatang Surabaya (KBS), wisata mangrove, dan lain-lain.

Tempat wisata dan ruang publik yang kurang menarik

Permasalahan soal sektor pariwisata yang dinilai kurang optimal berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga menjadi perhatian DPRD Kota Surabaya. Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Yoga Bagus Widyatmoko menilai pengelolaan aset wisata Pemkot Surabaya hingga kini minim terobosan pasar dan masih berjalan administratif. 

“Wisata itu harusnya fleksibel dan ramah pengunjung. Kalau sistemnya kaku, orang malas datang. Ini tanda bahwa orientasinya masih administrasi, bukan pelayanan,” ujarnya dikutip dari Memorandum, Minggu (22/3/2026).

Jurnal penelitian ekonomi dari Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya juga mengungkap bahwa kunjungan wisata yang tidak signifikan terhadap PAD Kota Surabaya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni kurang adanya event untuk menarik kunjungan wisata dan fasilitas umum untuk lahan parkir yang sempit, toilet, hingga kurangnya kebersihan tempat wisata.

Alasan-alasan inilah yang barangkali juga membuat tempat wisata maupun ruang publik di Surabaya tidak bertahan lama maupun kurang peminat, seperti museum Surabaya, Taman Hiburan Rakyat (THR), Kenjeran Park, Koridor Coworking Space, hingga sebagian taman kota.

Daya tarik Surabaya yang tak bisa tergantikan

Di lain sisi, Pemkot Surabaya justru berhasil mencatat kenaikan signifikan jumlah kunjungan wisata selama periode libur Natal Tahun 2025 kemarin. Terutama didominasi oleh pusat perbelanjaan atau mal di Kota Surabaya. Dan disusul oleh Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran lalu Taman Prestasi.

Artinya, Surabaya tetap menjadi kota yang akan selalu dirindukan oleh banyak orang. Ia memang tidak se-istimewa Jogja, tapi sebagai kota metropolitan terbesar kedua, Surabaya punya infrastruktur lebih maju, pusat bisnis dengan transportasi publik modern, dan tata kota yang asri. 

Oleh karena itu, Surabaya sejatinya membutuhkan pengelolaan yang lebih “bernyawa”. Jika pemerintah mampu menyulap tempat wisata publik seaman dan senyaman Jalan Tunjungan–dengan fasilitas terjaga dan bebas dari kriminalitas–bukan tidak mungkin Kota Pahlawan ini dikenal lebih dari sekadar kota bisnis, melainkan kota yang benar-benar bisa dinikmati setiap sudutnya. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Hanya Ada 3 Momen ketika Surabaya Bisa Dinikmati karena Terasa Tenang setelah Hari-hari Penuh Kesumpekan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2026 oleh

Tags: jalan tunjunganJogjaMudikrekomendasi tempat wisataSurabayatempat wisatawisata surabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta MOJOK.CO

KAI Daop 6 Bagikan 80 Paket Makanan kepada Penumpang Anak di Stasiun Yogyakarta

23 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.